Di Kaki Pegunungan Subang, Gereja Panggung Jadi Saksi Kehidupan Sunda Kristen

Bangunan berbilik bambu itu dikenal sebagai Pos Pelayanan 6C GPIB atau akrab disebut Gereja Pos 6C yang menjadi simbol keberagaman dan toleransi.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Di Kaki Pegunungan Subang, Gereja Panggung Jadi Saksi Kehidupan Sunda Kristen
Di Kaki Pegunungan Subang, Gereja Panggung Jadi Saksi Kehidupan Sunda Kristen (Merdeka.com)

Di kaki pegunungan wilayah selatan Kabupaten Subang, berdiri sebuah gereja panggung sederhana yang menjadi pusat ibadah belasan keluarga Sunda Kristen di pelosok Desa Cibitung, Kecamatan Ciater.

Bangunan berbilik bambu itu dikenal sebagai Pos Pelayanan 6C GPIB atau akrab disebut Gereja Pos 6C yang menjadi simbol keberagaman dan toleransi di tengah mayoritas masyarakat muslim.

Gereja tersebut melayani jemaat dari enam desa, yakni Citamiang, Cicalung, Cieyup, Citepus, Ciwangun, dan Cibutu. Lokasinya berada jauh dari jalan utama Wisata Ciater. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalan setapak di antara persawahan dan rumah-rumah warga, dengan udara pegunungan yang kerap diselimuti kabut.

Gereja Panggung

Gereja Panggung
Gereja Panggung YouTube Kang Hardi.

Keberadaan gereja panggung ini kembali menjadi sorotan setelah konten kreator Kang Hardi membagikan kunjungannya ke kawasan tersebut melalui media sosial. Dalam video yang beredar, ia menyebut permukiman itu sebagai kawasan Sunda Kristen yang telah dihuni secara turun-temurun.

Salah satu jemaat, Satip (60), menyebut dirinya sebagai generasi ketiga penganut Kristen di desa tersebut. Saat ini, terdapat 13 kepala keluarga (KK) yang rutin beribadah di Gereja Pos 6C. Jumlah itu menurun dibandingkan masa sebelumnya yang mencapai 21 KK. Di desa yang sama, tercatat sekitar 83 KK lainnya beragama Islam.

"Sekarang 13 KK yang aktif ibadah di sini. Yang tua-tua sudah banyak yang meninggal," ujar Satip seperti dikutip dari kanal YouTube Kang Hardi.

Khas Sunda

Khas Sunda
Khas Sunda YouTube Kang Hardi.

Bangunan gereja mempertahankan bentuk rumah panggung khas Sunda dengan dinding anyaman bambu. Meski telah dua kali diperbaiki, material aslinya tetap dipertahankan. Interiornya pun masih sederhana, dengan perabot bernuansa tempo dulu.

Ibadah rutin digelar setiap Minggu pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Seusai kebaktian, jemaat biasanya berkumpul dan berbincang hingga siang hari. Gereja ini juga menjadi ruang aktivitas sosial, termasuk latihan paduan suara untuk kegiatan di luar daerah.

Menariknya, posisi gereja berada tidak jauh dari masjid setempat hanya terpisah beberapa rumah warga. Warga menyebut hubungan antarumat beragama di kawasan tersebut berlangsung harmonis. Saat perayaan hari besar keagamaan, masyarakat disebut saling membantu dalam persiapan kegiatan.

Selain menjadi pusat ibadah, keberadaan gereja turut memberi dampak ekonomi bagi sebagian warga. Salah seorang jemaat, Oneng, kerap dipercaya menyiapkan konsumsi saat ada kegiatan keagamaan.

Keberadaan Gereja Pos 6C menjadi potret kehidupan minoritas Sunda Kristen di pedalaman Subang yang hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar.

Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, warga menjaga tradisi, identitas, serta nilai toleransi yang telah diwariskan lintas generasi.

Rekomendasi