Aktris muda berbakat, Messi Gusti (15), membagikan pengalaman uniknya saat menjalani proses syuting film fiksi ilmiah keluarga, "Pelangi di Mars". Dalam film yang menggunakan teknologi canggih Extended Reality (XR) ini, Messi mengakui adanya tantangan besar yang memerlukan imajinasi ekstra dari para pemeran. Pengalaman ini disampaikannya saat konferensi pers yang diadakan di kawasan Menteng, Jakarta, pada Jumat (13/2).
Messi Gusti, yang telah terlibat dalam produksi film "Pelangi di Mars" sejak duduk di bangku kelas 5 SD pada tahun 2020, menjelaskan bahwa syuting dengan XR sangat berbeda dari pengalaman sebelumnya. Berbeda dengan teknik motion capture yang masih menyediakan bantuan aktor pengganti gerak atau buddy actor, studio XR menuntutnya untuk berjuang sendirian. Situasi ini memaksa Messi untuk mengandalkan sepenuhnya pada imajinasi dan memori dari lokakarya yang telah dijalani.
Meskipun penuh tantangan, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Messi Gusti dalam perjalanan karir aktingnya. Ia harus mengingat kembali semua arahan dan posisi karakter robot yang sangat aktif dalam film tersebut. Dengan bantuan sutradara Upie Guava, Messi berhasil membangun kembali karakter Pelangi di depan kamera, memastikan aktingnya tetap konsisten dan alami meskipun berinteraksi dengan lingkungan virtual.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Berakting di Dunia Virtual XR
Proses syuting menggunakan teknologi Extended Reality (XR) menghadirkan kompleksitas tersendiri bagi Messi Gusti. Ia mengungkapkan bahwa kesulitan utama terletak pada ketiadaan aktor pendamping atau buddy actor, yang biasanya hadir untuk membantu interaksi saat syuting motion capture. Di studio virtual XR, Messi harus sepenuhnya mengandalkan imajinasinya untuk berinteraksi dengan karakter robot yang hanya ada secara digital.
Sebelumnya, saat menjalani syuting dengan teknik motion capture, Messi Gusti merasa lebih terbantu karena adanya buddy actor yang bertindak sebagai lawan main. Kehadiran aktor pengganti gerak ini memudahkan Messi dalam membayangkan arah pergerakan robot dan mengucapkan dialog secara lebih alami. Namun, transisi ke set XR mengubah total dinamika tersebut, menuntut adaptasi dan konsentrasi yang lebih tinggi.
Messi harus mengingat secara detail posisi dan reaksi lawan bicaranya yang merupakan robot virtual, yang digambarkan sangat aktif bergerak dan bisa tiba-tiba muncul di berbagai tempat. Kemampuan untuk membayangkan visual ini menjadi krusial agar gerakan tubuhnya terlihat alami dan interaksinya dengan karakter robot-robot di film "Pelangi di Mars" tetap meyakinkan. Ini adalah bukti nyata adaptasi yang diperlukan dalam produksi film modern.
Advertisement
Advertisement
Peran Sutradara dan Imajinasi dalam Konsistensi Akting
Dalam menghadapi tantangan berakting di lingkungan XR yang serba virtual, Messi Gusti sangat mengandalkan arahan dari sutradara Upie Guava. Bantuan dan bimbingan dari sang sutradara menjadi faktor penting bagi Messi untuk kembali masuk ke dalam karakter Pelangi. Ia hanya perlu membayangkan kembali arahan yang diberikan dan memvisualisasikan adegan.
Fokus dan konsentrasi tinggi menjadi kunci bagi Messi Gusti agar aktingnya tetap konsisten. Ia harus terus-menerus mengingat posisi karakter robot yang bisa bergerak cepat dan tak terduga. Interaksi yang meyakinkan dengan karakter robot ini sangat bergantung pada kemampuan Messi dalam menjaga fokus dan imajinasinya tetap hidup sepanjang pengambilan gambar.
Pengalaman ini, meskipun sulit, memberikan banyak pembelajaran baru bagi Messi di dunia akting. Sutradara Upie Guava terus memberikan arahan yang konsisten, memastikan bahwa akting Messi selaras dengan alur cerita film "Pelangi di Mars". Hal ini menunjukkan kolaborasi erat antara aktor dan sutradara dalam menciptakan karya sinematik yang inovatif.
Advertisement
Advertisement
'Pelangi di Mars': Kisah Inspiratif di Balik Teknologi Canggih
Film "Pelangi di Mars" adalah sebuah karya keluarga yang mengambil latar waktu di tahun 2100, menggambarkan kondisi Bumi yang dilanda krisis air dan mendorong manusia untuk mengeksplorasi Mars lebih jauh. Film ini dikembangkan selama lima tahun, menunjukkan dedikasi tinggi dalam produksinya.
Produksi film ini memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR) di Studio DossGuavaXR, memadukan animasi 3D dan robot interaktif. Namun, kecanggihan teknologi ini bukan sekadar pamer, melainkan alat untuk memperkuat kedalaman penyampaian cerita serta emosi dalam film. Ini menegaskan bahwa teknologi digunakan untuk mendukung narasi, bukan sebaliknya.
Narasi utama film ini adalah "pahlawan lahir dari keberanian", sebuah pesan kuat yang ingin disampaikan melalui setiap adegan. Penonton akan diajak mengikuti perjalanan Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, yang bersama teman-teman robotnya melanjutkan misi ibunya, Pratiwi (Lutesha), untuk menemukan mineral Zeolith Omega sebagai solusi krisis air di Bumi. Film yang juga dibintangi Rio Dewanto ini dijadwalkan tayang di bioskop pada momen Lebaran 2026, tepatnya 18 Maret mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews