Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi, Sp.N., M.Si.Med, mengemukakan bahwa penyalahgunaan gas tertawa atau nitrous oxide (N2O) berisiko tinggi bagi kesehatan, terutama menyebabkan kerusakan saraf. Efek ini timbul karena secara instan, gas N2O dapat menonaktifkan Vitamin B12 dalam tubuh.
Tanpa Vitamin B12 yang aktif, lapisan pelindung saraf (Mielin) akan mengalami kerusakan, dan terjadi kekacauan pada beberapa neurotransmiter, yaitu zat yang berperan dalam komunikasi sel saraf. Kondisi ini juga dapat menimbulkan hipoksia atau kekurangan oksigen, yang semuanya berkontribusi pada kerusakan saraf serius.
Selain kerusakan fisik, menghirup gas tersebut juga berisiko tinggi menyebabkan ketergantungan. Hal ini terjadi karena N2O memicu pelepasan dopamin di jalur reward otak, memberikan sensasi kepuasan instan yang membuat otak terus-menerus menginginkan dosis berikutnya.
Advertisement
Advertisement
Bahaya Jangka Pendek dan Mekanisme Kerusakan Saraf
Dokter Sholihul menjelaskan bahwa efek jangka pendek penyalahgunaan gas Nitrous Oxide (N2O), yang dikenal juga sebagai “Whip Pink”, secara ilmiah berisiko menonaktifkan Vitamin B12 dalam tubuh. Vitamin B12 sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan fungsi normal sistem saraf.
Ketika Vitamin B12 tidak aktif, lapisan pelindung saraf yang disebut Mielin akan rusak, mengganggu transmisi sinyal saraf di seluruh tubuh. Selain itu, penyalahgunaan gas ini juga menyebabkan kekacauan pada neurotransmiter, zat kimia yang memungkinkan sel-sel saraf berkomunikasi satu sama lain, serta memicu hipoksia atau kondisi kekurangan oksigen.
Kombinasi dari kerusakan Mielin, gangguan neurotransmiter, dan hipoksia ini menjadi pemicu utama kerusakan saraf yang dapat terjadi dengan cepat setelah penggunaan gas tertawa. Efek-efek ini mengancam integritas sistem saraf pusat dan perifer.
Advertisement
Advertisement
Jerat Ketergantungan Psikologis Gas Tertawa
Menghirup gas N2O berisiko tinggi menyebabkan ketergantungan, karena secara medis N2O memicu pelepasan dopamin di jalur reward otak. Pelepasan dopamin ini menghasilkan sensasi kepuasan dan euforia instan, yang sangat diinginkan oleh pengguna.
Meskipun efek “high” dari gas tertawa hanya bertahan sekitar 1-2 menit, sifatnya yang cepat hilang justru membuat otak terus-menerus menginginkan dosis berikutnya. Kondisi ini memicu perilaku “Binging”, yaitu penggunaan berulang kali dalam satu sesi untuk mempertahankan sensasi tersebut.
Perilaku penggunaan berulang ini secara bertahap dapat berkembang menjadi ketergantungan psikologis yang kuat, yang sering disebut sebagai adiksi. Ketergantungan ini membuat individu sulit menghentikan penggunaan meskipun menyadari dampak negatifnya.
Advertisement
Advertisement
Dampak Jangka Panjang dan Perbandingan Penggunaan Medis
Penyalahgunaan gas N2O atau “Whip Pink” tidak hanya menimbulkan efek jangka pendek, tetapi juga kerusakan jangka panjang yang serius. Kerusakan ini tidak hanya terjadi di otak, tetapi juga dapat meluas hingga sumsum tulang belakang.
Fenomena kerusakan saraf yang melibatkan otak dan sumsum tulang belakang akibat penyalahgunaan N2O ini dikenal dengan istilah Subacute Combined Degeneration (SCD). SCD dapat menyebabkan masalah neurologis yang parah dan seringkali bersifat permanen.
Dokter Sholihul mencontohkan bahwa penggunaan N2O dalam dunia medis sangat berbeda dan dilakukan dengan protokol ketat. Dalam medis, N2O dicampurkan dengan oksigen menggunakan mesin anestesi, memastikan kadar oksigen lebih tinggi dari udara bebas, serta dilengkapi dengan protokol pembersihan (wash-out) menggunakan oksigen murni 100 persen oleh profesional terlatih. Penggunaan zat psikoaktif untuk tujuan rekreasional tanpa pengawasan tenaga profesional sangat berbahaya dan tidak disarankan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews