Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengambil langkah proaktif dalam penanganan sampah dengan menduplikasi secara masif sistem "tempah dedoro" di berbagai sekolah. Inisiatif ini merupakan upaya strategis untuk mengelola sampah organik langsung dari sumbernya, sejalan dengan instruksi Wali Kota Mataram. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan dan kebersihan kota.
Penerapan sistem "tempah dedoro" ini tidak hanya menyasar institusi pendidikan, tetapi juga pusat perkantoran, hotel, restoran, dan katering di Kota Mataram. Tujuannya adalah mendorong kemandirian dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah organik yang mendominasi volume sampah harian. Kepala DLH Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, menyatakan bahwa program ini telah berjalan baik di tingkat SD maupun SMP di bawah Dinas Pendidikan Kota Mataram.
Melalui pendekatan ini, DLH Mataram berupaya menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan efisien. Fokus pada pengolahan sampah organik di sekolah diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi besar Pemerintah Kota Mataram untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok.
Advertisement
Advertisement
Mengenal Sistem Tempah Dedoro dan Manfaatnya
Sistem "tempah dedoro" adalah metode pengolahan sampah organik yang dirancang sederhana namun efektif. Inovasi ini memanfaatkan buis beton yang dilengkapi penutup dan lubang, berfungsi sebagai wadah untuk menampung dan mengurai sampah organik. Dengan demikian, pihak sekolah dapat mengelola sisa makanan dan limbah organik lainnya secara mandiri di lingkungan mereka.
Untuk mempercepat proses penguraian dan menghilangkan bau tak sedap, sampah organik yang dimasukkan ke dalam "tempah dedoro" akan disemprotkan cairan EM4. Alternatif lain yang lebih mudah diakses adalah menggunakan air bekas cucian beras, yang juga efektif dalam membantu proses dekomposisi. Setelah sampah organik terurai sempurna, hasilnya adalah kompos yang kaya nutrisi.
Kompos yang dihasilkan dari Sistem Tempah Dedoro ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman di halaman sekolah. Pemanfaatan ini tidak hanya mendukung penghijauan lingkungan sekolah, tetapi juga memberikan edukasi praktis kepada siswa tentang pentingnya daur ulang dan manfaatnya. Program ini juga memungkinkan warga sekitar sekolah untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah organik.
Advertisement
Advertisement
Dampak Positif pada Pengelolaan Sampah Kota
Jika program Sistem Tempah Dedoro ini dapat dilaksanakan secara masif di seluruh Kota Mataram, dampaknya terhadap volume sampah akan sangat signifikan. Saat ini, Kota Mataram menghasilkan sekitar 250 ton sampah per hari, dengan 60 persen di antaranya merupakan sampah organik. Dengan pengolahan mandiri di sumbernya, sebagian besar sampah organik ini dapat tertangani secara efektif.
Selain sampah organik, Pemerintah Kota Mataram juga memiliki strategi untuk mengelola sampah anorganik. Sampah plastik berupa kantong kresek, yang menyumbang sekitar 40 persen dari total sampah, akan dialihkan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya untuk diolah menjadi batako. Ini menunjukkan komitmen kota dalam mengintegrasikan berbagai metode pengelolaan sampah.
Sementara itu, sampah anorganik lainnya seperti botol bekas air mineral dan sejenisnya akan dialihkan ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) Kebon Talo. Dengan sistem pengelolaan yang terintegrasi ini, sampah yang pada akhirnya akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok di Lombok Barat hanyalah residu yang memang tidak dapat diolah lagi. Hal ini secara drastis mengurangi beban TPA dan memperpanjang masa pakainya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews