Akademisi FAI UMPR Perkuat Pembinaan Spiritual Napi Perempuan di Lapas Palangka Raya

Dosen dan mahasiswa UMPR gelar Pembinaan Spiritual Napi Perempuan di Lapas Palangka Raya. Kegiatan ini bertujuan menguatkan iman dan mental para narapidana agar siap kembali ke masyarakat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Akademisi FAI UMPR Perkuat Pembinaan Spiritual Napi Perempuan di Lapas Palangka Raya
Dosen dan mahasiswa UMPR gelar Pembinaan Spiritual Napi Perempuan di Lapas Palangka Raya. Kegiatan ini bertujuan menguatkan iman dan mental para narapidana agar siap kembali ke masyarakat. (AntaraNews)

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) bersama sejumlah mahasiswa melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat. Mereka fokus pada pembinaan spiritual bagi narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II Palangka Raya. Kegiatan ini bertujuan memperkuat mental dan keimanan para warga binaan.

Bertempat di Masjid Al Hidayah Lapas Perempuan Palangka Raya, acara ini diikuti oleh 225 narapidana perempuan. Ketua PkM, Lilik Kholisotin MPdI, menjelaskan bahwa program ini didukung penuh oleh Bidang Kerohanian Lapas. Pembinaan ini juga melibatkan Penyuluh Agama Islam dari Kemenag Jekan Raya.

Inisiatif ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, terlepas dari masa lalu mereka. Banyak narapidana menghadapi tekanan hidup dan kondisi sulit yang membuat mereka kehilangan harapan. Oleh karena itu, pembinaan spiritual ini sangat krusial untuk membangkitkan kembali semangat mereka.

Pentingnya Penguatan Spiritual bagi Narapidana

Banyak narapidana perempuan menjalani hukuman akibat berbagai tekanan hidup, termasuk pengalaman kekerasan dalam rumah tangga atau kesulitan ekonomi. Situasi ini seringkali menyebabkan mereka kehilangan kepercayaan diri dan merasa jauh dari rahmat Tuhan. "Hal ini sering membuat mereka kehilangan kepercayaan diri dan merasa jauh dari kasih sayang Allah," ujar Lilik Kholisotin.

Padahal, ajaran agama Islam menegaskan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. "Islam mengajarkan bahwa tidak ada seorang pun yang terlepas dari kesalahan dan Allah selalu membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi siapa yang ingin kembali," tambahnya. Ini menjadi landasan utama dalam program Pembinaan Spiritual Napi Perempuan ini.

Pembinaan ini menekankan bahwa masa lalu seharusnya menjadi pelajaran, bukan penyesalan abadi. Dengan demikian, para narapidana dapat belajar dari kesalahan dan memulai lembaran baru. Penguatan spiritual ini diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi mereka untuk bangkit.

Materi Pembinaan dan Dampak Positifnya

Materi yang disampaikan dalam kegiatan Pembinaan Spiritual Napi Perempuan ini sangat relevan dengan kondisi para narapidana. Penekanan utama adalah bahwa pintu taubat selalu terbuka lebar, sebagaimana firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 53. Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak berputus asa dari rahmat Allah yang Maha Luas.

Selain itu, peserta juga diajarkan bahwa ujian hidup merupakan bentuk kasih sayang Allah. Melalui ujian, seseorang dapat belajar untuk bangkit dan memperkuat ketakwaan serta keimanannya. Ini adalah bagian penting dari proses perbaikan diri yang berkelanjutan.

Para narapidana diingatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, dengan menjaga salat lima waktu, memperbaiki lisan, serta meningkatkan hubungan baik dengan sesama. Muhasabah diri juga menjadi praktik penting untuk introspeksi dan perbaikan akhlak. Hadis Nabi Muhammad SAW turut disampaikan, mengingatkan bahwa Allah melihat hati dan amal, bukan rupa atau harta.

Melalui kegiatan ini, para narapidana perempuan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran diri dan memperkuat spiritualitas mereka. Tujuannya adalah membangun kembali kepercayaan diri, memperbaiki akhlak, dan mencegah pengulangan tindakan serupa setelah kembali ke masyarakat. Ini merupakan langkah konkret dalam program Pembinaan Spiritual Napi Perempuan.

Komitmen UMPR dalam Pembinaan Masyarakat

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh FAI UMPR ini mendapatkan apresiasi tinggi dari pihak Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II Palangka Raya. Pihak lapas menilai program ini sebagai bagian penting dalam penguatan mental, spiritual, dan karakter narapidana perempuan. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi positif antara akademisi dan lembaga pemasyarakatan.

Lilik Kholisotin menegaskan bahwa UMPR terus menunjukkan komitmennya dalam membangun masyarakat melalui pendekatan edukatif dan spiritual. "Melalui kegiatan seperti ini, kami dari UMPR terus menunjukkan komitmennya dalam membangun masyarakat melalui pendekatan edukatif dan spiritual yang penuh kasih," ujarnya. Inisiatif seperti Pembinaan Spiritual Napi Perempuan ini mencerminkan peran universitas dalam pemberdayaan komunitas.

Pendekatan yang penuh kasih dan edukatif ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang. Tidak hanya bagi narapidana, tetapi juga bagi lingkungan sosial secara keseluruhan. UMPR berupaya menciptakan perubahan positif melalui pendidikan dan pembinaan moral.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi