Belasan Mufti Kerajaan Perak Malaysia Belajar Tarekat ke PWNU Jatim, Pererat Paham Aswaja Hadapi Wahabi

Belasan Mufti Kerajaan Perak Malaysia melakukan kunjungan ke PWNU Jatim untuk belajar tarekat, mempererat paham Aswaja, dan berdiskusi strategi menghadapi paham Wahabi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Belasan Mufti Kerajaan Perak Malaysia Belajar Tarekat ke PWNU Jatim, Pererat Paham Aswaja Hadapi Wahabi
Belasan Mufti Kerajaan Perak Malaysia melakukan kunjungan ke PWNU Jatim untuk belajar tarekat, mempererat paham Aswaja, dan berdiskusi strategi menghadapi paham Wahabi. (AntaraNews)

Belasan mufti dari Kerajaan Perak, Malaysia, melakukan kunjungan penting ke Surabaya pada Sabtu (22/11). Mereka bersilaturahmi dengan Idarah Wustha JATMAN PWNU Jatim untuk mendalami ajaran tarekat. Kunjungan ini bertujuan mempererat pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) antara kedua negara.

Delegasi mufti yang dipimpin Dato' Sri Haji Wan Zahidi bin Wan Teh ini diterima oleh jajaran pengurus PWNU Jatim. Pertemuan ini menjadi ajang pertukaran pengalaman dalam menghadapi tantangan keagamaan kontemporer. Fokus utama diskusi adalah penguatan ajaran tasawuf dan tarekat di tengah masyarakat.

Kunjungan ini juga dilatarbelakangi keinginan para mufti Malaysia untuk memasukkan paham Aswaja dengan ajaran tarekat ke dalam undang-undang negara. Hal ini sebagai langkah strategis untuk membendung penyebaran paham Wahabi yang dianggap mudah mengkafirkan. Kerja sama ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi stabilitas keagamaan regional.

Paham Aswaja dan Tantangan Wahabi

Dato' Sri Haji Wan Zahidi mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari PWNU Jatim. Ia menegaskan bahwa NU memiliki kesamaan dengan Islam di Malaysia yang sama-sama berpaham Aswaja. Oleh karena itu, pertukaran pengalaman menjadi sangat penting dan relevan bagi kedua belah pihak.

Seorang anggota delegasi mufti Malaysia menjelaskan lebih lanjut tujuan kunjungan mereka. Mereka berharap dapat bertukar pengalaman terkait rencana untuk mengakui paham Aswaja dengan ajaran tarekat/tasawufnya dalam undang-undang negara. Langkah ini dinilai krusial mengingat maraknya paham Wahabi yang cenderung mudah mengkafirkan.

Mudir JATMAN Jatim, DR KH Mustofa Badri MA, menyambut baik kunjungan yang disebutnya sebagai "lawatan mahabbah" ini. Ia menyoroti kesesuaian semangat ini dengan paham NU dan tarekat JATMAN yang mengajarkan cinta (mahabbah) dan tidak mudah mengkafirkan pihak lain. "NU sendiri lahir dari cinta melalui Komite Hijaz yang memprotes Wahabi yang merusak khazanah lama, seperti makam Nabi dan mengkafirkan," katanya.

KH Mustofa Badri menekankan pentingnya kerja sama antara Malaysia dan Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari ajaran Wahabi yang berpotensi menyesatkan dan mengkafirkan. NU sendiri memiliki tujuan mulia untuk menjaga agama, negara, dan umat melalui dakwah yang bijaksana.

Peran JATMAN dalam Melestarikan Tarekat

DR KH Mustofa Badri menjelaskan bahwa JATMAN merupakan salah satu "jalan dakwah" yang didirikan pada tahun 1957. Organisasi ini telah menyeleksi 44 thariqah yang dianggap mu'tabaroh atau terverifikasi. Di Jawa Timur sendiri, terdapat tujuh thariqah yang memiliki jumlah jamaah yang signifikan.

Proses seleksi thariqah ini ditangani langsung oleh para mursyid yang menelusuri sanad atau silsilah guru hingga ke Rasulullah. "Itu mursyid yang menyeleksi dan seleksi ulang akan dilakukan pada munas dan halaqoh mendatang, jadi kultural saja, kalau Malaysia mau formal (seleksi negara), ya bisa," ujarnya. Ini menunjukkan bahwa proses ini bersifat kultural namun terbuka untuk formalisasi.

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim, DR KH Romdlon Chotib, mengapresiasi kunjungan para mufti Malaysia ini. Ia menilai lawatan tersebut sangat tepat karena NU di Jawa Timur dianggap sebagai barometer di Indonesia. Dengan demikian, JATMAN Jatim juga memiliki peran sentral sebagai barometer dalam pengembangan tarekat.

KH Romdlon Chotib menambahkan bahwa tarekat memiliki tingkatan yang lebih tinggi dalam grade spiritualitas, seperti kekhusyukan dalam shalat. "Thariqah itu lebih tinggi dalam grade atau kalau sholat itu khusyuk, sedang NU lebih ke aksi sosial," katanya. Sementara itu, NU secara umum lebih berfokus pada aksi sosial kemasyarakatan. Keduanya saling melengkapi dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Islam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi