Universitas Sumatera Utara (USU) telah meluncurkan program Desa Binaan 2025 dengan membangun Desa Astacita. Desa ini, yang kini dikenal sebagai Desa Foursety, berlokasi di Kutagugung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Inisiatif ini merupakan bentuk dukungan konkret USU terhadap visi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Dalam waktu kurang dari 30 hari sejak peluncurannya pada 8 Agustus 2025, Desa Foursety mencatat penghasilan bruto mencapai Rp15 juta. Angka ini menjadi lompatan ekonomi signifikan yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah Kutagugung. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar kolaborasi antara akademisi dan masyarakat.
Program ini digagas oleh Pusat Unggulan IPTEK Pariwisata Berkelanjutan USU, dipimpin oleh Prof. Nurlisa Ginting. Foursety sendiri merepresentasikan empat kekuatan utama: pemerintah, akademisi, masyarakat, dan media. Nama ini juga melambangkan kesetiaan dalam kolaborasi serta keberanian menghadapi tantangan.
Advertisement
Advertisement
Filosofi dan Dampak Awal Desa Foursety
Prof. Nurlisa Ginting menjelaskan bahwa “FOUR” mewakili kolaborasi pentahelix. Ini melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, dan media sebagai pilar utama pembangunan. Sementara itu, “SETY” dimaknai sebagai kesetiaan dalam kolaborasi dan keberanian mengubah tantangan menjadi peluang.
"Foursety bukan sekadar nama, melainkan semangat. Ia simbol dari kesetiaan masyarakat terhadap perubahan, dan keseriusan perguruan tinggi menjadikan ilmu pengetahuan berguna bagi rakyat," kata Prof Nurlisa. Filosofi ini menjadi landasan kuat bagi program Desa Binaan USU.
Keberhasilan program Desa Binaan USU Foursety tidak hanya diukur dari angka pendapatan bruto Rp15 juta. Lebih dari itu, keberhasilan ini juga tercermin dari tumbuhnya kembali kepercayaan masyarakat. Warga bahkan secara sukarela menyumbangkan lahan untuk ekspansi wisata.
Advertisement
Partisipasi aktif warga menjadi kunci utama. Ibu-ibu PKK kini mengelola kantin, pemuda menjadi pemandu wisata, dan BUMDes Deleng Lancuk mulai aktif. Ini menegaskan bahwa Foursety adalah desa yang hidup dari partisipasi dan semangat warganya.
Advertisement
Inovasi Strategis di Balik Kesuksesan Foursety
Keberhasilan Desa Binaan USU Foursety berakar pada empat inovasi strategis. Pertama adalah Inovasi Tata Kelola, di mana USU membangun sistem keuangan transparan. Sistem ini bebas pungli dan berbasis pembagian hasil yang adil, memastikan setiap rupiah tercatat dan dikembalikan untuk pengembangan desa.
Kedua, Inovasi Digital, melibatkan mahasiswa USU dalam mengelola akun media sosial Foursety. Dengan strategi berbasis algoritma dan konten profesional, hasilnya luar biasa. Tercatat 800.000 penayangan tercapai hanya dalam satu bulan, menunjukkan efektivitas pemasaran digital.
Ketiga, Inovasi Sosial, melalui kolaborasi pentahelix yang mengubah masyarakat dari skeptis menjadi partisipatif. Pendekatan ini memperkuat rasa kepemilikan kolektif terhadap desa wisata. Inovasi ini krusial dalam membangun fondasi sosial yang kuat.
Advertisement
Terakhir, Inovasi Konseptual, yang menjadikan identitas Foursety sebagai model kolaborasi baru. Ini memberikan novelty bagi dunia pariwisata berbasis masyarakat. Inovasi ini menegaskan desa sebagai subjek, bukan objek pembangunan.
Advertisement
Foursety sebagai Laboratorium Hidup dan Visi USU
Ketua Tim Pengabdian USU, Samerdanta Sinulingga, menyatakan bahwa "Foursety bukan hanya destinasi, tetapi bukti bahwa ilmu pengetahuan dapat menyalakan cahaya bagi desa." Program Desa Binaan USU ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa lintas fakultas. Mereka belajar langsung manajemen wisata, pemasaran digital, dan pelayanan wisatawan.
Bagi warga desa, kedatangan wisatawan bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi juga pengakuan atas kapasitas lokal mereka. Samerdanta menambahkan, "Mahasiswa bukan lagi hanya meneliti masyarakat, tetapi hidup bersama masyarakat, membangun, bukan mengajar." Ini menunjukkan perubahan paradigma dalam pengabdian masyarakat.
Rektor USU, Prof. Muryanto Amin, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata dari orientasi "Inovasi Berdampak". Ini merupakan roh kebijakan USU selama kepemimpinannya. Perguruan tinggi harus berperan aktif dalam mewujudkan visi pemerataan pembangunan nasional.
Advertisement
Visi ini sejalan dengan ASTACITA Presiden Prabowo Subianto. "USU tidak berdiri di menara gading. Kami hadir di tengah masyarakat, bekerja bersama mereka, memastikan ilmu menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan," ujar Rektor. Program Desa Binaan USU adalah contoh konkret bagaimana akademisi menjadi mitra pemerintah.
Sumber: AntaraNews