Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) meminta masyarakat untuk tidak memperdebatkan temuan bagian tubuh korban. Hal ini terkait proses evakuasi di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menegaskan bahwa prioritas utama lembaganya adalah mendokumentasikan setiap sisa jasad manusia yang ditemukan. Ini berlaku tanpa memandang kondisi temuan tersebut, baik utuh maupun berupa bagian tubuh.
Pernyataan ini disampaikan Syafii dalam konferensi pers pada Senin (06/10) untuk memastikan martabat korban terjaga. Proses penanganan korban dilakukan dengan akurat demi kepentingan identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Advertisement
Advertisement
Prioritas Basarnas: Martabat dan Akurasi Data Korban
Mohammad Syafii menekankan bahwa Basarnas tidak pernah menyatakan jumlah korban secara spesifik. Mereka hanya melaporkan setiap orang yang berhasil ditemukan dari reruntuhan, baik dalam keadaan utuh maupun sebagai bagian tubuh. Penanganan Korban Sidoarjo ini menjadi contoh komitmen Basarnas.
"Basarnas tidak pernah menyatakan jumlah korban. Kami hanya melaporkan setiap orang yang berhasil ditemukan dari reruntuhan, baik utuh maupun sebagai bagian tubuh," kata Syafii. Pengalaman dalam penanganan bencana pesawat juga menunjukkan bahwa bagian tubuh yang dapat diidentifikasi tetap dihitung sebagai keberhasilan evakuasi.
Semua bagian tubuh yang ditemukan dari lokasi kejadian akan dicatat secara resmi. Selanjutnya, temuan tersebut akan diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk proses identifikasi lebih lanjut. Ini adalah prosedur standar dalam penanganan korban bencana.
Advertisement
Advertisement
Dinamika Data Korban dan Koordinasi Antar Lembaga
Syafii menegaskan pentingnya untuk tidak memperdebatkan isu temuan bagian tubuh korban. Ia menjelaskan bahwa informasi mengenai jumlah total korban dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ini menunjukkan kompleksitas Penanganan Korban Sidoarjo.
Oleh karena itu, data yang dibagikan kepada publik tidak boleh dianggap sebagai referensi resmi dari Basarnas. Angka korban tetap dinamis dan dapat berubah seiring berjalannya operasi lapangan. Basarnas fokus pada evakuasi, sementara lembaga lain pada rekapitulasi data.
Hingga Senin (06/10) pukul 18.38 WIB, sebanyak 169 orang telah dievakuasi dari lokasi kejadian. Dari jumlah tersebut, 104 orang berhasil diselamatkan, sementara sisanya dipastikan meninggal dunia. Selain itu, enam bagian tubuh juga ditemukan dan sedang diidentifikasi oleh unit DVI Polda Jawa Timur di RS Bhayangkara Surabaya.
Advertisement
Advertisement
Solidaritas Nasional dalam Misi Pencarian dan Penyelamatan
Pada hari kedelapan misi pencarian dan penyelamatan, Syafii menyampaikan apresiasi mendalam. Ia berterima kasih kepada 65 lembaga dan lebih dari 370 personel yang telah bekerja tanpa lelah. Upaya kolektif ini mencerminkan solidaritas nasional dalam Penanganan Korban Sidoarjo.
Operasi ini digambarkan sebagai cerminan solidaritas nasional dalam pencarian dan penyelamatan. Setiap individu dan lembaga yang terlibat telah menunjukkan dedikasi tinggi. Kerjasama lintas sektor ini sangat krusial dalam menghadapi bencana.
"Bagi Basarnas, menyelamatkan satu nyawa adalah sebuah keberhasilan yang tidak dapat diukur dengan angka," ujar Syafii. Pernyataan ini menegaskan filosofi Basarnas yang mengutamakan nilai kemanusiaan di atas segalanya. Fokus pada penyelamatan individu menjadi inti dari setiap misi yang diemban.
Advertisement
Sumber: AntaraNews