Tragedi Kebakaran DPRD Makassar: Tiga Korban Tewas, Wali Kota Janji Tanggung Biaya Medis

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin berjanji menanggung seluruh biaya medis korban insiden kebakaran DPRD Makassar yang menewaskan tiga orang dan melukai sejumlah lainnya, menyusul protes yang berakhir ricuh.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tragedi Kebakaran DPRD Makassar: Tiga Korban Tewas, Wali Kota Janji Tanggung Biaya Medis
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menjenguk staf DPRD yang menjadi korban pembakaran saat unjuk rasa. Tiga staf dikabarkan meninggal dunia, memicu keprihatinan mendalam dan janji pemerintah menanggung biaya pengobatan. (Merdeka.com)

Insiden tragis melanda Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat malam. Bangunan tersebut hangus terbakar setelah aksi protes mahasiswa yang berujung pada kerusuhan. Peristiwa ini tidak hanya menyisakan kerusakan material, tetapi juga menelan korban jiwa dan luka-luka.

Menanggapi musibah ini, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin segera menyatakan komitmennya. Ia berjanji bahwa Pemerintah Kota Makassar akan menanggung seluruh biaya pengobatan bagi para karyawan yang terluka. Pernyataan ini disampaikan Munafri saat mengunjungi para korban di Rumah Sakit Grestelina pada hari Sabtu.

Kekacauan yang terjadi berawal dari demonstrasi mahasiswa yang menuntut keadilan bagi masyarakat miskin. Namun, aksi tersebut berubah menjadi anarkis, memicu pelemparan bom molotov dan pembakaran. Selain gedung DPRD, puluhan kendaraan juga ikut hangus terbakar dalam insiden yang memilukan ini.

Janji Wali Kota dan Kondisi Korban

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menunjukkan keprihatinannya yang mendalam atas insiden kebakaran gedung DPRD Makassar. Ia didampingi sejumlah pejabat kota, termasuk Sekretaris Kota Andi Zulkifly Nanda dan Kepala Dinas Komunikasi Muhammad Roem. Sejak Jumat malam, para pejabat ini telah memantau situasi dari Balai Kota.

Kunjungan wali kota ke rumah sakit menegaskan komitmen pemerintah kota untuk hadir bagi para pegawainya. Munafri menegaskan bahwa seluruh biaya perawatan medis bagi korban akan ditanggung penuh oleh pemerintah kota. Ini merupakan bentuk dukungan nyata bagi mereka yang terdampak langsung.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, M. Fadli, melaporkan bahwa delapan orang berhasil diselamatkan dari gedung yang terbakar. Namun, tiga di antaranya meninggal dunia, kemungkinan besar karena terjebak di dalam saat api mulai berkobar. Para korban tewas meliputi Sarinawati (26), seorang pegawai DPRD yang ditemukan hangus di lokasi; Syaiful (43), pekerja kantor kecamatan yang meninggal di rumah sakit; dan Abay, staf dewan lainnya yang juga ditemukan tewas di lokasi.

Selain korban meninggal, dua orang lainnya berada dalam kondisi kritis. Budi Haryati (30) dilaporkan dalam kondisi koma, sementara Heriyanto (28) mengalami luka serius setelah nekat melompat dari lantai empat gedung. Tiga orang lainnya menderita luka sedang, termasuk satu korban yang terkena lemparan batu dan dua lainnya yang melompat dari gedung.

Kronologi Kerusuhan dan Dampaknya

Kerusuhan yang berujung pada kebakaran gedung DPRD Makassar dimulai pada Jumat malam saat aksi protes mahasiswa. Saksi mata menyebutkan bahwa serangan dimulai dengan pelemparan bom molotov. Kondisi ini dengan cepat memicu kekacauan yang lebih luas, menyebabkan puluhan kendaraan ikut terbakar.

Tim darurat dari dinas pemadam kebakaran, lembaga kesehatan, dan kelompok penyelamat segera merespons kejadian ini dengan cepat. Mereka berupaya memadamkan api dan mengevakuasi korban yang terjebak. Namun, upaya penyelamatan dan pemadaman berlangsung dramatis di tengah situasi yang tidak kondusif.

Hingga Sabtu dini hari, kerumunan massa masih berkumpul di lokasi kejadian. Mirisnya, beberapa orang justru melakukan penjarahan di gedung yang rusak, mengambil suku cadang mobil, barang elektronik, dan pendingin udara. Tindakan ini terjadi bahkan saat polisi masih berada di lokasi, menunjukkan tingkat kekacauan yang terjadi.

Seorang warga bernama Amran, yang terlihat menyelamatkan logam dari puing-puing, mengatakan, "Barang-barang ini akan sia-sia saja." Insiden di Makassar ini bukan satu-satunya. Protes serupa yang menuntut keadilan bagi masyarakat miskin juga pecah di beberapa kota lain di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Surabaya, menunjukkan gelombang ketidakpuasan yang lebih luas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi