Anggota Komisi VIII Fraksi PDI Perjuangan, Ina Ammania, bersuara soal kasus perundungan terhadap siswa kelas 2 SD berinisial MH di Pemalang yang berujung pada kematian.
Dia mewanti-wanti, peristiwa tersebut harus menjadi alarm keras bagi seluruh sistem perlindungan anak di Indonesia.
"Tragedi tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai persoalan antara anak dengan anak. Kasus ini harus menjadi momentum untuk menguji apakah sistem perlindungan anak benar-benar bekerja ketika seorang anak berada dalam situasi rentan," kata Ina, Selasa (6/10/2026).
Ina mendesak, negara jangan hanya hadir setelah anak menjadi korban. Kalau kekerasan baru ditangani setelah anak terluka parah atau meninggal dunia, artinya sistem perlindungan kita datang terlambat.
Selain itu, saat ini penegakan hukum terhadap dugaan perundungan harus dilakukan secara cepat dan profesional. Namun dia mewanti-wanti bahwa proses hukum bukan satu-satunya jawaban.
"Pemerintah harus memastikan keluarga korban memperoleh pendampingan sosial dan psikologis, sementara anak-anak yang terlibat maupun menjadi saksi juga mendapatkan asesmen dan pendampingan yang tepat," tuturnya.
“Jangan hanya cari siapa yang salah, cari juga mengapa sistem gagal mencegahnya," imbuh Ina.
Ina menegaskan, kasus ini harus menjadi evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme deteksi dini kekerasan di lingkungan sekolah. Sebab pertanyaan kita bukan hanya siapa pelakunya.
"Pertanyaan yang lebih besar adalah: mengapa tanda-tanda kekerasan tidak terdeteksi lebih awal? Jangan hanya mencari siapa yang salah, tetapi evaluasi mengapa sistem gagal mencegah tragedi," tegas dia.
Ina mendorong Kementerian Sosial, Kementerian PPPA, dan pemerintah daerah memastikan keluarga korban memperoleh pendampingan psikologis dan sosial selama proses hukum. UPTD PPA juga harus hadir mendampingi keluarga korban secara aktif.
“Ukuran keberhasilan negara bukan berapa banyak kasus yang kita tangani setelah anak menjadi korban. Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak kekerasan yang berhasil kita cegah sebelum jatuh korban berikutnya," dia menutup.