Menengok Isi Perjanjian Helsinki Disinggung JK buat Ingatkan Mendagri Tito Karnavian

Keempat pulau yakni, Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Kecil, dan Pulau Mangkir Ketek.

Muhammad Genantan Saputra
Menengok Isi Perjanjian Helsinki Disinggung JK buat Ingatkan Mendagri Tito Karnavian
Mendagri Muhammad Tito Karnavian usai Rapat Koordinasi Tingkat Menteri (@ 2025 merdeka.com)

Polemik kepemilikan empat Pulau di Aceh yang kini beralih ke Sumatera Utara (Sumut) masih berlangsung. Keempat pulau yakni, Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Kecil, dan Pulau Mangkir Ketek.

Saking berpolemiknya, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) sampai ikut buka suara. JK mengingatkan Mendagri Tito Karnavian soal sejarah antara Aceh dan Sumut. Daerah perbatasan Aceh tersebut sebetulnya sudah disepakati dalam Perjanjian Helsinski pada 1956 silam dan berdasarkan Undang-Undang.

"Yang intinya adalah, dulu Aceh itu bagian dari Sumatera Utara kemudian ada pemberontakan di sana. Maka Aceh berdiri sendiri sebagai provinsi dengan otonomi khusus. Jadi dasarnya, orang tanya, apa dasarnya? Undang-Undang dasarnya. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956," kata JK di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (13/6) lalu.

Menurutnya, banyak yang mempertanyakan soal MoU atau nota kesepahaman di Helsinski. "Mengenai perbatasan itu, ada di Pasal 114, mungkin bab 1, ayat 1, titik 4, yang berbunyi 'Perbatasan Aceh, merujuk pada perbatasan 1 Juli tahun 1956. Jadi, pembicaraan atau kesepakatan Helsinski itu merujuk ke situ'," jelasnya.

4 Pulau Aceh
4 Pulau Aceh Dok Kemendagri

Sejarah Perjanjian Helsinki

Perjanjian damai antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikenal sebagai Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki diteken pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Perjanjian ini bertujuan untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun di Aceh.

Konflik di Aceh dimulai pada 4 Desember 1976, saat GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Pemerintah Indonesia menanggapi dengan operasi militer, yang dikenal sebagai Daerah Operasi Militer (DOM), menyebabkan pelanggaran HAM berat dan ribuan korban jiwa.

Setelah beberapa kali upaya perdamaian gagal, yang tidak mencapai kesepakatan, situasi pun semakin memburuk dengan diberlakukannya status darurat militer.

Perundingan dan Penandatanganan MoU Helsinki

Pada 15 Agustus 2005, setelah bencana tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004, perundingan damai difasilitasi oleh Crisis Management Initiative (CMI) dipimpin oleh Martti Ahtisaari. Perundingan berlangsung di Koenigstedt, luar kota Helsinki, Finlandia.

Delegasi Pemerintah Indonesia dipimpin oleh Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, sementara GAM diwakili oleh Malik Mahmud. MoU Helsinki menandai penghentian permusuhan secara permanen dan membuka jalan bagi perdamaian.

Beberapa poin penting dalam MoU Helsinki antara lain penghentian permusuhan secara permanen, penarikan pasukan non-organik dari Aceh, pembentukan partai politik lokal, pengakuan hak Aceh untuk mengelola kekayaan alamnya, serta pembebasan tahanan politik GAM.

MoU ini menjadi dasar bagi lahirnya Undang-Undang No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, yang memberikan Aceh status otonomi khusus yang sangat luas dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Isi Pokok Perjanjian Helsinki

MoU Helsinki terdiri dari enam pokok kesepakatan utama:

1. Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh

Aceh diberikan otonomi khusus untuk mengatur pemerintahan sendiri sesuai dengan konstitusi Republik Indonesia.

2.Hak Asasi Manusia (HAM)

Pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) untuk mengungkap pelanggaran HAM masa lalu. Pembentukan Pengadilan HAM untuk Aceh.

3. Amnesti dan Reintegrasi

Mantan kombatan GAM diberikan amnesti dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Selain itu, mereka diberikan alokasi tanah pertanian, pekerjaan, atau jaminan sosial yang layak.

4. Pengaturan Keamanan

Penyelenggaraan keamanan di Aceh dilakukan oleh aparat keamanan yang disepakati bersama, dengan tujuan menciptakan situasi yang aman dan kondusif.

5. Pembentukan Misi Monitoring

Pembentukan misi monitoring yang bertugas untuk memantau implementasi perjanjian damai ini.

6. Penyelesaian Perselisihan

Pembentukan Komisi Bersama Penyelesaian Klaim (KBPK) untuk menyelesaikan klaim yang belum terselesaikan.

Pihak yang Menandatangani Perjanjian Helsinki

Pemerintah RI: Diwakili oleh Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin.

GAM: Diwakili oleh Malik Mahmud Al Haythar, pimpinan GAM.

Mediator: Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia dan Ketua Dewan Direktur Crisis Management Initiative (CMI), bertindak sebagai fasilitator.

Rekomendasi