Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menegaskan Covid-19 varian Mu atau B1621 belum terdeteksi di Indonesia.Varian Mu ditemukan di Kolombia pada awal Januari 2021. Kemudian, WHO menetapkan varian tersebut sebagai Variant of Interest (VoI) pada 30 Agustus 2021.
"Belum," katanya saat dihubungi merdeka.com, Minggu (5/9).
Meski varian Mu belum terdeteksi, pemerintah mulai meningkatkan pengawasan di pintu masuk Indonesia, seperti bandara dan pelabuhan. Pengawasannya berupa pemeriksaan whole genome sequencing kepada warga negara Indonesia (WNI) atau warga negara asing (WNA) yang memiliki riwayat perjalanan ke negara terjangkit varian Mu. Seperti Kolombia, Jepang, India, Hongkong, dan Ekuador.
"Upaya lainnya masyarakat diimbau tetap disiplin prokes (protokol kesehatan) dan kurangi mobilitas," sambungnya.
Nadia juga mengingatkan masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan jika mengalami gejala Covid-19. Selain itu, masyarakat harus mengikuti vaksinasi Covid-19 sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Sebelumnya, Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan pemerintah mengawasi ketat mobilitas dalam negeri maupun internasional. Pernyataan ini menanggapi munculnya varian baru Mu atau B1621.
"Walaupun saat ini kondisi cenderung normal dan beberapa pembukaan sektor secara gradual dilakukan, pemerintah terus berusaha mengawasi mobilitas dalam dan luar negeri dengan penuh kehati-hatian," ungkapnya dalam konferensi pers yang disiarkan dalam YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (2/9).
Mantan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan, varian Mu telah dikategorikan sebagai Variant of Interest (VoI) oleh Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).
"Status VoI diberikan kepada varian yang diamati untuk dapat memberikan kesimpulan bahwa varian ini bersifat lebih infeksius daripada varian originalnya," terangnya.
Menurut Wiku, varian Mu sudah menyebar. Sejumlah negara mulai mengidentifikasi keberadaan varian tersebut, seperti Amerika Selatan dan Eropa.
"Saat ini, persebarannya sudah ditemukan di beberapa negara lain, di Amerika Selatan dan Eropa," kata Wiku.