Sulitnya jaringan internet di kampungnya di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), tak lantas membuat Imel Hauteas putus asa untuk mengikuti wisuda online. Pemuda ini memutar otak dan berhasil menjalani prosesi itu dengan khidmat dari rumah.
Imel Hauteas merupakan salah satu dari ribuan mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur yang diwisuda pada Rabu (1/9) kemarin. Selama ini dia belajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Karena prosesi wisuda digelar secara online, Imel mengikuti prosesi itu dari kampung halamannya di Desa Oni, Kecamatan Kualin, TTS.
Imel nyaris gagal mengikuti prosesi wisuda karena terkendala jaringan internet. Jika ingin terhubung dengan jaringan maya, Imel bersama masyarakat lainnya harus mencari tempat yang lebih tinggi.
Hal itu tidak membuat Imel putus asa. Pemuda ini mencari ide agar dia dan kedua orang tuanya dapat mengikuti momen bersejarah itu.
Imel mencari cara agar handphonenya bisa berada di ketinggian, namun tetap terhubung dengan laptop yang akan digunakannya dalam wisuda online. Dia pun meminta sejumlah saudara laki-lakinya mengambil dua batang bambu dan menyambungnya. Ujungnya diikat tali dan kantong kresek. Handphone milik Imel ditaruh di dalam kantong keresek. Fitur hotspotnya pun dinyalakan.
Saat ditegakkan, dua batang bambu itu tingginya kurang lebih delapan meter. Bambu itu kemudian dipegang sejumlah orang di depan rumah.
Ponsel pintar milik Imel ternyata dapat menangkap jaringan internet. Fitur hotspotnya pun berfungsi dengan baik. Upaya Imel bersama keluarga berhasil.
Laptop yang dipakai Imel untuk mengikuti prosesi wisuda menangkap jaringan WiFi dari handphone yang ada di puncak bambu. Walaupun sempat beberapa kali terputus, namun Imel dan kedua orang tuanya mengikuti acara itu dengan khidmat.
Video perjuangan Imel dan keluarga agar bisa mengikuti prosesi wisuda di tengah keterbatasan jaringan internet pun viral di media sosial.
Imel ini belum bisa dihubungi karena terkendala jaringan internet maupun telepon biasa. Namun merdeka.com berhasil menghubungi kakak sepupunya bernama Yon Hauteas, yang merekam video persiapan pemuda itu mengikuti prosesi wisuda.
Yon Hauteas menceritakan, Imel sebenarnya ingin mengikuti wisuda online di Kupang. Namun karena ingin kedua orang tuanya turut mendampingi, dia memilih tetap bertahan di kampung walaupun terkendala jaringan internet.
"Dia ingin bahagiakan kedua orang tuanya, jadi memilih ikuti wisuda di kampung. Kedua orang tuanya tidak bisa diajak mengikuti wisuda online di Kupang, karena sudah renta dan sering sakit-sakitan," jelas Yon melalui telepon seluler, Jumat (3/9) malam.
Menurutnya, ide menggantung handphone di puncak tiang bambu mengikuti pengalaman mereka saat masa kanak-kanak. Para orang tua yang ingin mendengar siaran radio ketika itu harus menyambung kabel pada tutupan periuk lalu diikat pada ujung tiang atau pohon.
Pengalaman itulah yang membuat Imel mendapatkan jaringan internet secara darurat. Dia dan keluarganya pun bisa berbangga saat namanya dibacakan resmi menyandang gelar SPd.
"Dia pakai konsep itu untuk pasang handphonenya pada ujung dua batang bambu yang disambung, lalu kami pegang dan angkat bambu itu menjadi tinggi. Konsepnya berhasil, walaupun sinyal handphonenya naik turun tapi lancar," ungkap Yon.
Dia berharap kejadian ini bisa menggugah para pemangku kebijakan maupun pihak terkait untuk menambah BTS di daerah pelosok. Alasannya, semua masyarakat berhak mendapatkan akses komunikasi yang sama.