Siklus kepemimpinan kerajaan, Puti miliki kategori pemimpin Jawa Timur

Menjelang pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur, pasangan calon (Paslon) Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno saling klaim paling kuat. Budayawan Jolotundo Mojokerto, Gatot Hartoyo, menilai paslon nomor dua lebih memiliki kriteria sebagai pimpinan di Jawa Timur

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Siklus kepemimpinan kerajaan, Puti miliki kategori pemimpin Jawa Timur
Budayawan jolotundo gatot memprediksi puti cocok dengan pulung pimpin jatim. ©2018 Merdeka.com

Menjelang pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur, pasangan calon (Paslon) Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno saling klaim paling kuat. Budayawan Jolotundo Mojokerto, Gatot Hartoyo, menilai paslon nomor dua lebih memiliki kriteria sebagai pimpinan di Jawa Timur.

Prediksi ini muncul bukan tanpa teori yang menguatkan kemenangan paslon nomor dua. Prediksi ini keluar karena masyarakat sudah jenuh dengan hasil survei yang menghiasi perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim. Dalam survei yang beredar selama ini, muncul pandangan kalau hasil survei akan memenangkan tim paslon pemesannya yang dikemas secara ilmiah.

Faktor ketidakpercayaan terhadap hasil survei ini, kemudian muncul prediksi hasil alam yang dikemas dengan teori siklus kepemimpinan yang ada di Jawa Timur. "Siklus ini bertujuan untuk menghitung kepemimpinan dari masa ke masa, mulai masa kerajaan hingga sekarang," kata Budayawan Jolotundo Mojokerto, Gatot Hartoyo, Sabtu (23/6).

Pemilihan Gubernur ini, ucap dia, ibarat masa pemerintahan Kerajaan Majapahit pada periode awal. Sesuai petuah alam dengan berdasar pulung atau wahyu, pimpinan Jawa Timur adalah perempuan. Hal ini berdasar dengan kepemimpinan Bre (pemimpin wilayah) Kahuripan Tribuana Tunggadewi

"Pertanyaannya, apakah pemimpin perempuan Jatim ini Khofifah atau Puti? Kalau menurut pulungnya sudah sangat jelas, pemimpin Jatim adalah perempuan," ujarnya.

Dalam istilah pulung, pemimpin yang dimaksud ini adalah satu paket. Artinya, dalam kedudukan pimpinan ada Gubernur dan Wakil, bisa jadi wakilnya yang mendapat pulung atau wahyu keprabon.

Pulung ini merupakan wahyu illahi, dimana manusia tidak bisa merekayasa atas keberadaan pulung ini. Pulung ini bisa masuk pada orang, tetapi jika wadahnya tidak cocok atau tidak suci.

Lantas siapa yang akan menjadi pemimpin Jawa Timur, secara faktual yang "menginginkan" menjadi pemimpin Jatim adalah Khofifah. Kondisi ini terlihat dari keputusannya melepas jabatan Menteri Sosial, dan lebih memilih memburu Jabatan Gubernur meskipun sudah kalah dalam dua periode lalu.

"Namun dari Bibit, bobot dan bebet, Puti lebih diunggulkan. Jadi, pulung bisa ke Puti, karena Puti satu paket dengan Gus Ipul," terang dia.

Prediksi jatuhnya pulung ke Puti semakin kuat ketika melihat perjalanan panjang menjadi pendamping Gus Ipul. Dimana Gus Ipul awalnya berpasangan dengan Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, karena mendapatkan serangan kampanye hitam menjelang pendaftaran, akhirnya Anas mengundurkan diri. Saat itulah Puti muncul dan terpilih untuk menggantikan Azwar Anas sebagai Wakil Gubernur Gus Ipul.

"Saat itulah saya menjadi yakin, karena dari awal saya memprediksi kalau pulung atau wahyu keprabon ini jatuh ke tangan nasionalis dan perempuan " ungkap Gatot.

Dengan melihat lika-liku terpilihnya Puti, arah untuk mendapatkan pulung mulai terlihat. Dimana orang yang tidak berambisi dan tidak memprediksi maju dalam persaingan pilgub Jatim harus terlibat langsung. Selain itu, keluarga Soekarno juga sudah menyiapkan kalau anak turunnya nanti untuk menjadi pemimpin yang merakyat, dan suka bergaul dengan masyarakat secara langsung. "Tidak sendiri, Puti sudah dipersiapkan secara spiritual maupun mental," papar sesepuh Jolotundo ini.

Rekomendasi