Bung Karno dikenal sebagai Bapak Bangsa yang selalu mengobarkan semangat dan nilai-nilai nasionalisme. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, nasionalisme Bung Karno tersebut bukanlah nasionalisme sekuler ala Barat, tetapi nasionalisme Islam.
"Nasionalisme Bung Karno bukan nasionalisme sekuler, bukan nasionalismenya Ernest Renan, tetapi Bung Karno sama dengan nasionalismenya KH Hasyim Asy’ari, sobiyyun min qolbin mukmin, lahir dari hatinya seorang yang beriman. Pas seperti KH Hasyim Asy’ari mengatakan hubbul wathan minal iman," ujar Kiai Said dalam Kenduri 1.001 Tumpeng Haul Bung Karno ke-48, yang digelar di Makam Bung Karno, Kota Blitar.
Selain dihadiri Gus Ipul-Puti, hadir pula Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan sejumlah ulama serta tokoh nasional seperti, seperti KH Nurul Huda Djazuli, KH Zainuddin Djazuli, KH Anwar Iskandar, KH Fuad Djazuli, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Anggota Dewan Pengarah BPIP, Mahfud MD, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkum HAM Yasonna Laoly, Menpora Imam Nahrawi, Menaker Hanif Dhakiri, Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo, Menristek Mohamad Nasir, Kepala BIN Budi Gunawan, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Kiai Said menjelaskan, salah satu bentuk nasionalisme Islam ala Bung Karno adalah adanya Menteri Penghubung Alim-Ulama saat pemerintahannya pada 1960-an. Menteri Penghubung Alim-Ulama ini berbeda dengan Menteri Agama.
"Jadi betapa Bung Karno adalah seorang yang sangat-sangat religius. Sangat nasionalis dan sangat religius," katanya.
Said Aqil juga mengungkapkan alasan mengapa hubungan Bung Karno dengan para kiai begitu dekat. "Karena beliau yakin, punya keyakinan bahwa hanya bersatu dengan para ulama para santri negara ini bisa kuat. Tidak mungkin tantangan besar ditangani sendiri," ujarnya.
"Tidak mungkin kaum nasionalis saja tanpa kalangan santri. Begitu juga santri saja, santri yo pakai sendal, pakai sarung enggak mungkin itu mengemban amanat yang besar. Ini harus bersatu, dua-duanya nasinalis santri, santri nasionalis," urainya.
"Islam yang menghormati budaya. Seperti hari ini, ini (peringatan haul) tidak ada di Timur Tengah. Di Arab enggak ada opo haul iki? Tetapi itulah Islam Nusantara yang lahir dari tokoh-tokoh Islam yang cerdas, ada tahlilnya ada fatihahnya ada tabur bunganya. Inilah Islam Nusantara," imbuhnya.