Partai Solidaritas Indonesia menilai bahwa politisasi rumah ibadah adalah sebuah ancaman nyata bagi momentum bonus demografi di Indonesia. Bonus demografi adalah ledakan penduduk usia kerja berusia 15-64 tahun.
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia, Dedek Prayudi atau yang akrab disapa Uki mengatakan bahwa bonus demografi adalah pisau bermata dua.
"Bonus demografi adalah sebuah jendela peluang yang apabila gagal disukseskan, maka akan menjelma menjadi bencana demografi. Penduduk usia produktif yang seharusnya menjadi sumber perputaran ekonomi dan pembayar pajak aktif juga berpotensi menjadi penyumbang terbesar kriminalitas yang tak terkendali bahkan radikalisme," jelasnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/4).
Lebih lanjut, dia meyakini bahwa sukses tidaknya bonus demografi ditentukan oleh komitmen politik para politisi hari ini. Uki menyebut bahwa mereka yang akan menjadi pelaku penting puncak bonus demografi sudah lahir.
"Sebagian besar penduduk usia kerja pada tahun 2035 nanti sudah lahir hari ini. Sebagian besar yang sudah lahir itu adalah mereka yang disebut para milenial. Pembangunan berbasis percepatan peningkatan SDM yang menggarisbawahi pentingnya potensi ekonomi daerah adalah sebuah kebutuhan hari ini yang tak terelakkan. Sedangkan orientasi pembangunan ditentukan oleh 'political will' para politisi," jelasnya.
Uki menambahkan, politisasi agama tidak akan menjawab tantangan bonus demografi. Ia menganggap bahwa politisasi agama justru menutup ruang politik gagasan. "Politisasi Masjid cuma akan memperlebar jarak dan melahirkan tensi antar masyarakat seperti di Timur Tengah sekarang dan Irlandia dulu. Sebaliknya, politik gagasan memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam konteks menyukseskan bonus demografi seperti di Korea Selatan beberapa dekade silam," jelasnya.
Dia menjelaskan, sepertiga dari kunci sukses Korea Selatan di bidang sosial dan ekonomi hari ini disumbangkan oleh keberhasilan negeri ginseng itu memetik bonus demografi. "Para ilmuwan dunia sudah membuktikan bahwa meroketnya ekonomi Asia Timur beberapa dekade terakhir, sepertiganya disumbangkan oleh kesuksesan mereka memetik bonus demografi," jelasnya.
Dengan kondisi ini, Uki memandang perlu bagi generasi milenial untuk menolak politisasi rumah ibadah. "Sebagai demografer, saya mengajak seluruh Milenial negeri ini untuk paham bahwa politik dan pembangunan tak dapat dipisahkan. Mari kita tolak politisasi rumah ibadah dan penuhi dunia politik dengan gagasan untuk memajukan bangsa ini," tutupnya.