Polisi sudah periksa enam saksi terkait surat ancaman ke ulama Depok

"Penyidik sudah cek lokasi di Pondok Kopi sesuai alamat pengirim. Di sana memang ada rumah tetapi Jalan Keadilan seperti yang tertera di alamat pengirim itu tidak ada," tegas Putu Kholis.

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
Polisi sudah periksa enam saksi terkait surat ancaman ke ulama Depok
Ilustrasi Polisi. ©2014 Merdeka.com

Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Putu Kholis Aryana mengatakan, penemuan proyektil peluru di Soneta Record dan ditemukannya selebaran yang mengancam ulama tidak ada kaitannya sama sekali. Ditegaskan dia ini dilakukan tidak bersamaan.

"Ini hanya rangkaian saja. Kalau paketnya sendiri diterima Kamis (1/3) namun baru dibuka Sabtu (3/3). Bersamaan dengan penemuan proyektil di Soneta," katanya, Selasa (6/3).

Kendati demikian penyelidikan masih dilakukan atas penemuan surat misterius di Grand Depok City (GDC), Sukmajaya Depok itu. Penelusuran ke alamat pengirim pun sudah dilakukan.

"Penyidik sudah cek lokasi di Pondok Kopi sesuai alamat pengirim. Di sana memang ada rumah tetapi Jalan Keadilan seperti yang tertera di alamat pengirim itu tidak ada," tegasnya.

Kuat dugaan alamat yang dimaksud adalah fiktif. Namun tak percaya begitu saja, pihaknya masih melakukan pendalaman atas kasus ini. "Kita masih terus kumpulkan keterangan yang ada kaitannya dengan hal ini," paparnya.

Hingga saat ini sudah banyak saksi yang dimintai keterangan. Mulai dari karyawan, petugas keamanan hingga yang menerima dan membuka paket tersebut. "Total saksi sejauh ini enam orang," ucapnya.

Mengenai pengamanan, kata dia, sesuai dengan instruksi Kapolresta Depok Kombes Pol Didik Sugiarto bahwa dilakukan pengamanan di sejumlah ulama yang namanya ada dalam surat misterius tersebut.

"Wajib menjamin keselamatan para ulama tetapi pendekatannya dilakukan secara soft dalam rangka upaya pengamanan," tutupnya.

Rekomendasi