Pencari barang bekas mencoba peruntungan di pembongkaran Kalijodo

Tak pilah pilih dia kumpulkan semua barang bekas yang dijual warga. Dari peralatan plastik, besi hingga elektronik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pencari barang bekas mencoba peruntungan di pembongkaran Kalijodo
Kalijodo. ©2016 Merdeka.com/etika

Jelang penertiban 29 Februari mendatang, warga Kalijodo sudah mulai mengemasi perabotan rumah tangga masing- masing, hari ini. Mereka memilah-milah barang yang masih bisa digunakan dan tidak. Kesempatan itu ternyata dicium oleh para pencari barang bekas.Salah satu pencari barang bekas, Idam Idris mengaku diajak teman satu profesinya untuk mengumpulkan barang-barang yang sudah tidak digunakan warga di kawasan Kalijodo. Dia berharap dapat mendapatkan keuntungan hari ini.Sejak pukul 09.00 WIB, Idris sudah sampai di Kalijodo Jakarta Utara. Dengan empat orang temannya, dia berjalan dari Duta Mas Jelambar dengan menarik sebuah gerobak kayu berukuran satu kali setengah meter."Tadi saya dari jam sembilan di sini, masih tunggu warga yang mau jual barang-barang," ujar pria berumur 46 tersebut di Kalijodo Jakarta Utara, Senin (22/2).Tak pilah pilih ia kumpulkan semua barang bekas yang dijual warga. Dari peralatan plastik, besi hingga elektronik. Tapi ia berharap hari ini lebih mendapat plastik karena harga jual besi sedang merosot.Satu kilogram barang plastik entah itu kursi, ember atau meja harga yang dibanderol yakni Rp 1.500. Sedangkan untuk harga besi yakni Rp 1.300 . Namun ia hari ini harus lebih bersabar karena sudah menunggu dua jam barang yang ia kumpulkan baru seharga Rp 10 ribu."Baru dapat ini, baru Rp 10 ribu. Saya lihat-lihat saja warga yang lagi beres-beres. Terus nanya. Bu dijual enggak barang bekasnya? Kalau bilang ia baru ngomong harga," imbuh pria dengan baju kemeja biru tua.Pria yang berasal dari Cikarang ini, tinggal bersama 20 orang temannya di tempat 'bos' pengepul. Setiap hari ia diberi makan gratis dan tidur tanpa uang sewa. Tapi ternyata ada kewajiban kepada 'bos' tersebut untuk menyetor barang-barang bekas yang didapatkannya. Tanpa meninggalkan ibadah salat lima waktu ia kerjakan semuanya dengan rasa semangat. Istri dan ketiga anaknya yang tinggal di Cikarang selalu membayanginya untuk bekerja lebih keras.Ia sendiri belum tahu sampai jam berapa akan berada di Kalijodo ini. Selama masih ada peluang uang ia akan terus berusaha meskipun harus terpapar sinar matahari yang terik."Saya cuma bisa usaha aja. Sama kalo waktu salat berenti. Sembahyang dulu. Biar barokah," tambahnya dengan senyum tipis.Tak jarang perhitungannya menerka berat barang yang dibelinya salah dan mendapatkan kerugian. Namun hal tersebut tidak membuatnya menyerah pada nasib."Saya pernah beli nerka harga 10 kilo tapi pas ditimbang cuma 8 kilo. Ya nombok," tutupnya.

Rekomendasi