Indra Azwan (57), pejalan kaki untuk menuntut keadilan, tiba di Medan, Kamis (18/2). Kota ini disinggahinya dalam perjalanan dari Banda Aceh menuju Papua.
Langkah demi langkah Indra Azwan merupakan bentuk usahanya selama 23 tahun mencari keadilan. Laki-laki asal Malang, Jawa Timur, ini menuntut penabrak lari yang menewaskan putra sulungnya Rifky Andika pada 8 Februari 1993 benar-benar dihukum.
Peristiwa itu terjadi saat Rifki yang masih duduk di bangku kelas VI SD menyeberang jalan di depan rumah mereka di Malang. Penabrak diketahui merupakan anggota polisi yang saat ini menjabat Kabag Sumda I di Polres Blitar.
Kasus ini memang pernah ditangani Mahkamah Militer (Mahmil) pada 1999. Namun pelaku hanya dihukum penundaan pendidikan selama 6 bulan.
Indra Azwan tidak terima dengan putusan itu. Dia terus memperjuangkan keadilan, namun pelaku tetap tak tersentuh. Bahkan sidang yang digelar 2008, pengadilan menyatakan perkara itu sudah kedaluwarsa.
"Sudah 23 tahun kasusnya berjalan, tapi pelakunya tidak dikenakan sanksi," ujar Indra Azwan di kantor LBH Medan, Jalan Hindu, Kamis (18/2)
Tidak mendapatkan keadilan, Indra Azwan pun mulai melakukan aksi jalan kaki pada 2010. Mulai dari Malang-Surabaya, Malang-Jakarta, Malang-Mekkah (hanya sampai Myanmar) dilakoninya dengan berjalan kaki. Kali ini dia merencanakan perjalanan dari Aceh menuju Papua dan akan berujung di Bali. Dia berangkat dari Banda Aceh pada 9 Februari lalu.
"Ini saya lakukan agar Joko Sumantri, polisi yang menabrak anak saya bisa diproses hukum," sambung Indra Azwan.
Dia berharap agar pemerintah mendengarnya dan pelaku diproses hukum. Laki-laki yang selalu mengenakan penutup kepala biru bertulis "Arema" ini juga ingin menginspirasi warga tertindas agar tidak menyerah untuk mencari keadilan.
Upaya Indra Azwan bukannya tidak mendapat perhatian. Presiden SBY pernah memberi Rp 25 juta, namun dia mengembalikannya ke Istana Negara. Dia juga menolak dijemput di Mekkah.
Pernah pula seseorang mencoba memberikan rumah seharga Rp 1,5 miliar asalkan menghentikan aksinya. Namun, dia terap menolak. Yang Indra Azwan inginkan hanya satu yaitu Keadilan.