Al Qiyadah Al Islamiyah, Gafatar & cita-cita pendirian Negara Islam

Gafatar tidak lagi sirran atau rahasia alias sembunyi-sembunyi seperti Al Qiyadah atau NII.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Al Qiyadah Al Islamiyah, Gafatar & cita-cita pendirian Negara Islam
Gafatar. ©2016 Merdeka.com

Jauh sebelum ramai pemberitaan soal Gerakan Fajar Nusantara, Indonesia sudah pernah digemparkan dengan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) KW 9. NII KW 9 ini didirikan oleh Ahmad Musadeq bersama Panji Gumilang pada tahun 1996. Namun kongsi keduanya lalu pecah. Musadeq lalu mendirikan Al Qiyadah Al Islamiyah pada tahun 2000. Al Qiyadah Al Islamiyah menggabungkan ajaran yang ada di dalam Alquran, Injil dan Taurat. Dalam doktrin kepada para pengikutnya, Ahmad Musadeq menyebut dirinya sebagai Nabi dan Sang Mesias.Al Qiyadah Al Islamiyah disorot keras pada 2006 dan dinyatakan sesat oleh MUI pada 4 Oktober 2007. Dan pada 2008, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Musadeq 4 tahun penjara dipotong masa tahanan.Namun benarkah Al Qiyadah Al Islamiyah ini sudah lenyap?Jika telisik, ternyata Gafatar masih memiliki akar sejarah dari NII yang dibentuk Ahmad Musadeq. Shinta Maharani, salah seorang warga Yogyakarta yang nyaris direkrut NII menjelaskan pada waktu itu, NII merekrut anggota lewat kampus. Mereka memiliki kader untuk mempengaruhi orang agar mau bergabung dengan NII.

"Sekadar berbagi pengalaman ketika kuliah dan tinggal selangkah lagi dibaiat sama NII. Saat itu sekitar 2005, saya baru semester 2, saya diajak diskusi dengan teman satu kelas, soal kajian Alquran, teman saya itu sangat intens mendatangi kos saya. Saya juga diajak ikut diskusi di sebuah rumah di dekat area persawahan di Banguntapan," kata Shinta yang merupakan alumni kampus UPN yang juga merupakan kampus Faza Anangga Novansyah yang merupakan mantan pengurus Gafatar Sleman.Dalam diskusi tersebut para perekrut menceritakan gagasan membuat negara yang ideal. Shinta pun mengaku tertarik karena dia mendapatkan banyak wawasan. Namun setelah diskusi dia kerap diminta temannya untuk menyetor sejumlah uang."Alasannya untuk biaya hijrah dan mendirikan masyarakat ideal di Surabaya, di tempat itu pula saya rencananya dibaiat, dan permintaan uang itu sangat sering," ungkapnya.Bahkan Shinta diminta untuk berbohong pada orang tuanya. Sebab berbohong pada orang tua tidak masalah demi hijrah. Karena merasa tidak benar, Shinta pun akhirnya memutuskan menjauhi temannya itu."Saya merasa terintimidasi waktu itu. Diminta setor uang terus. Saya akhirnya menghindari teman saya. Kalau dia ke kos saya bilang tidak di kos. SMS tidak saya balas," tandasnya.

Sementara itu rekrutmen Gafatar pun tidak jauh berbeda. Hanya saja Gafatar menggunakan pendekatan kegiatan sosial. Dalam kasus Faza misalnya, keluarga mengaku Faza terlibat dengan Gafatar lewat kampus."Lewatnya kegiatan donor darah. Kami dulu nggak sangka. Mungkin ada pertemuan juga yang kami tidak tahu. Tujuan untuk cuci otak," kata Sukardi ayah Faza.Keluarga menduga Faza juga menyetorkan sejumlah uang ke Gafatar. Sebab selama bekerja, Faza tidak memiliki uang tabungan dan hidup pas-pasan."Pekerjaan yang dilakukan Faza itu kami menduga uangnya untuk Gafatar. Faza sendiri tidak dapat, uang disetor ke Gafatar," ungkapnya.Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan menyebut pola perekrutan NII dan Gafatar memang nyaris sama. Namun ada sedikit perbedaan."Hampir sama alias copy paste, tetapi memang Gafatar lebih disempurnakan. Tetapi intinya sama termasuk juga soal adanya sumbangan atau sodaqoh," ujar Ken kepada merdeka.com.Menurut Ken, Gafatar tidak lagi sirran atau rahasia seperti Al Qiyadah atau NII. Gafatar adalah organisasi kemasyarakatan resmi yang didaftarkan dengan kamuflase sebagai organisasi sosial. Mereka kerap membuat acara kerja bakti, donor darah dan aksi sosial lain.

"Tetapi di dalamnya sama, ada ajaran-ajaran dari Musadeq. Gafatar memang organisasi yang mereka dirikan terbuka makanya lambangnya matahari terbit, yang artinya mereka tidak ingin lagi melakukan secara under ground. Mereka terang-terangan, tetapi dibalut dengan kegiatan sosial kemasyarakatan," ujar Ken.Ajaran yang dibawa oleh NII, Al Qiyadah Al Islamiyah dan Gafatar pun masih sama. Dalam penyebarannya, aliran ini memiliki 6 fase yaitu sirran (rahasia), jahran (inklusif), hijrah (berpindah), qital (perang), futuh (kemenangan) dan khilafah (pemimpin).Pembentukan permukiman di Mempawah itu diyakini sebagai fase ke tiga yakni hijrah atau berpindah untuk mendirikan negara otonom kecil. Namun fase ini kemudian gagal dan berakhir dengan dipulangkannya ribuan anggota eks Gafatar dari Mempawah.Namun mantan Ketum Umum Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Mahful M Tumanurung menampik tudingan organisasi sempat dipimpinnya diproyeksikan membentuk negara baru. Namun, dia tidak membantah bila Gafatar dibentuk untuk menciptakan negeri yang penuh kedamaian."Kami tersanjung, orang seperti kami ingin bangun negara. Yang ingin bangun adalah negeri cinta damai, yang berlandaskan Pancasila bukan negara," kata Mahful saat ditemui di kantor Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta Pusat.

Lebih lanjut, katanya, membentuk sebuah negara bukan perkara mudah. Sebab, yang dibutuhkan adalah kedaulatan, konstitusi dan struktur pemerintahan. Sehingga yang lebih penting, kata Mahful, adalah berkontribusi untuk NKRI namun tetap menjadi warga negara Indonesia."Oleh karena itu kami koordinasikan di wilayah-wilayah pusat, kabupaten dan kota. Sama sekali tak ada niatan, karena bicara negara bicara soal kedaulatan, konstitusi dan sistem pemerintahan," tegasnya.Organisasi ini, menurutnya, adalah untuk memakmurkan nusantara melalui program kedaulatan pangan. Sehingga, dia menegaskan anggota Gafatar sama sekali tidak tertarik masuk dalam pemerintahan, ataupun membentuk negara baru."Kami tidak mimpi jadi penguasa. Kami diberi kekuasaan pun kami tidak terima. Kalau negeri iya, karena anugerah dari Tuhan semesta ini, sumber daya kita bangun untuk memakmurkan nusantara ini," terangnya.

Rekomendasi