Fakta-fakta Minggu kelabu di Adi Sucipto

Insiden itu terus diusut.

Aryo Putranto Saptohutomo
Fakta-fakta Minggu kelabu di Adi Sucipto
Pesawat Golden Eagle jatuh. ©2015 merdeka.com/istimewa

Kemarin menjadi Minggu kelabu bagi dunia dirgantara tanah air. Sebuah pesawat jet latih milik TNI Angkatan Udara jatuh di Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta.Dua awaknya gugur. Mereka adalah Pilot Letnan Kolonel Penerbang Marda Sarjono, dan Ko-Pilot Kapten Penerbang Dwi Cahyono. Keduanya berasal dari Skuadron Udara 15 Madiun.Menurut penjelasan TNI AU, pesawat T-50i Golden Eagle bikinan Korea Aerospace Industries, Korea Selatan, itu jatuh di kompleks Akademi Angkatan Udara, Bandara Adi Sucipto. Mereka sedang bermanuver buat mengisi acara Gebyar Dirgantara."Di Gebyar Dirgantara, lagi solo demo. Ini kecelakaan tunggal. Betul meninggal. Dua-duanya pilot. Kapten Penerbang Dwi Cahyadi, dan Letkol Penerbang Marda Sarjono," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Madya Dwi Badarmanto.Menurut Dwi, pesawat itu salah satu dari 16 unit yang dipesan dari Korea Selatan. Dia juga mengatakan, burung besi itu sudah sering dipakai beraksi, baik buat berlatih atau aerobatik."Iya itu yang baru dibeli kemarin. Sudah sering itu dipakai. Makanya ini kita mau cari tahu kenapa," kata Dwi saat dihubungi.Pesawat itu jatuh sekitar pukul 09.53 WIB saat melakukan aerobatik dan terbang rendah. Danlanud Adi Sucipto, Marsma Imran Baidirus mengatakan, pesawat jatuh setelah melakukan atraksi di udara selama 15 menit. Saat melakukan manuver, pesawat jatuh ke halaman timur Lanud Adi Sucipto."Ketinggian sekitar 500 feet (kaki). Pada pukul 09.53 WIB jatuh," kata Imran kepada wartawan kemarin.Imran melanjutkan, pesawat itu jatuh menghantam tanah lalu terbakar. Kedua penerbang tidak sempat menggunakan kursi lontar sebelum pesawat jatuh. Imran mengatakan, saat digunakan terbang, kondisi pesawat dalam keadaan baik."Base home pesawat itu di Madiun. Pesawat dalam keadaan baik saat terbang," ujar Imran.Imran juga menyangkal, jet bernomor nomor ekor TT5007 meledak sebelum jatuh.

"Tadi yang kamu lihat itu pesawat jatuh. Tidak melihat adanya ledakan di udara. Hanya masih ada sisa bahan bakar, terjadi impact (benturan) dengan tanah sehingga terjadi kebakaran," lanjut Imran.TNI Angkatan Udara lantas bergerak cepat. Dwi mengatakan, pihaknya langsung menerjunkan tim buat mengusut insiden itu. Apalagi, pesawat itu masih berumur sangat muda."Kalau kita bicara ini ada 5M yang kita bicarakan. Pertama dari manusianya, kemudian mesin atau peralatannya, kemudian media, misi, dan manajemennya," ucap Dwi.Guna menemukan penyebab jatuhnya pesawat, Dwi mengakui tak bisa menentukan waktunya."Investigasi memakan waktu, bisa tahunan atau bulan. Langkah-langkah yang diambil tim investigasi sudah dikirim ke Yogya. Tim investigasi dikepalai Wakasau. Beliau akan memimpin investigasi ada hal apa penyebabnya," lanjut Dwi.Dwi menyatakan, kelima indikator itu nantinya akan diperiksa satu persatu oleh tim PPKPT, supaya mendapatkan kepastian penyebab insiden."Nah ini oleh tim investigasi akan dikaji satu persatu. Bagaimana manusianya dalam hal ini pilotnya. Bagaimana psikologinya saat sebelum terbang. Dari M5 itulah tim investigasi mencari persoalan secara detail," imbuh Dwi.Menurut Dwi, musibah jatuhnya pesawat itu memang tidak dikehendaki."Musibah ini tidak kita inginkan. Persiapan Gebyar Dirgantara ini persiapannya sudah lama. Para penerbang sudah dilatih terus. Kemarin mereka sudah melakukan atraksi dengan baik. Tapi itulah musibah," papar Dwi.Dwi menambahkan akan memanggil produsen burung besi itu, Korea Aerospace Industries, dari Korea Selatan."Tentu, Kita akan libatkan dalam tim Investigasi. Pasti akan kita libatkan," tutur Dwi.Dwi mengatakan, pesawat itu dibeli pada 2013 lalu. Dia enggan berspekulasi soal penyebab jatuhnya pesawat itu."Untuk sementara belum ada kebijakan dari pimpinan karena pesawat ini adalah pesawat baru. Jadi kita cari tahu penyebabnya dulu. Pesawat ini adalah bikinan Korea yang datang ke Indonesia tahun 2012/2013. Pesawat itu relatif baru," tutup Dwi.

Rekomendasi