Polemik komentar Jusuf Kalla dari kaset ngaji hingga kasus Tolikara

Pernyataan Jusuf Kalla ini menuai penilaian pro dan kontra di masyarakat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Polemik komentar Jusuf Kalla dari kaset ngaji hingga kasus Tolikara
Jusuf Kalla berkunjung ke merdeka.com. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Wakil Presiden Jusuf Kalla banyak mendapat sorotan akhir-akhir ini. Hal itu lantaran pernyataan yang dilontarkannya kerap membuat polemik di masyarakat.

Ketua Dewan Masjid Indonesia ini sempat menyatakan larangan memutar kaset mengaji Alquran di masjid-masjid. Peraturan memutar kaset mengaji itu sudah dirumuskan di Dewan Masjid.

"Kita sudah buat rumusan di Dewan Masjid, mengaji tidak boleh pakai kaset," kata JK saat membuka ijtima' ulama komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren At-Tauhidiyyah Cikura Tegal Jawa Tengah bulan lalu.

Jusuf Kalla menceritakan pengalamannya saat berada di kampung halaman di Sulawesi Selatan, sekitar pukul 04.00 WITA dibangunkan suara pengajian dari empat masjid. Namun, suara tersebut ternyata berasal dari kaset.

"Pertanyaannya kalau yang mengaji kaset apakah mengaji dapat pahala, kita jadi terganggu, terjadi polusi suara," ujarnya.

Menurutnya karena di Indonesia mayoritas beragama Islam, maka masjid dibangun berdekatan. Alhasil ketika menjelang subuh masjid yang memutar kaset ngaji suaranya bersahut-sahutan.

Jusuf Kalla juga mencontohkan kebiasaan azan di Turki yang dapat dilakukan di Indonesia. Umat muslim di sana mengumandangkan azan secara bergantian agar terdengar jelas.

Lalu apalagi kontroversi pernyataan Jusuf Kalla?

Belum lama berselang insiden pembakaran musala dan 16 kios di Tolikara, Papua, Jusuf Kalla kembali menyampaikan komentar yang kontroversi. Dia menyebut insiden Tolikara terjadi akibat suara dari speaker.

"Memang asal muasal soal speaker itu. Ada dua acara berdekatan yaitu Idul Fitri dan pertemuan pemuka masyarakat setempat," kata Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta.

Lanjut dia, suara speaker yang memercik konflik itu bukti tidak adanya komunikasi yang baik antara kelompok masyarakat. "Masyarakat dapat mengetahui dua kepentingan yang bertepatan, satu Idul Fitri dan satu karena speaker, saling bertabrakan. Mestinya, keduanya menahan diri. Masyarakat yang punya acara keagamaan lain harus memahami. Saling memahami lah," papar dia.

Wakil Ketua MUI Ma'ruf Amin menyangsikan dugaan Jusuf Kalla tersebut. Dia menyebut tidak mungkin urusan speaker menjadi penyebab pembakaran Masjid Baitul Muttaqim dan puluhan kios milik umat Islam.

"Terlalu naif kalau gara-gara speaker. Kami cari sumbernya apa masalahnya," tegasnya.

Menurut Ma'ruf kerukunan beragama di Papua sudah terjalin dengan harmonis. Ini tunjukan saat Natal, umat Islam melakukan penjagaan di gereja-gereja. Seharusnya hal serupa juga dilakukan umat kristen saat Idul Fitri.

Sementara itu, polisi bergerak cepat mengusut kasus Tolikara. Mereka sudah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus kerusuhan ini.

Keduanya tersangka berasal dari pihak jamaah Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang juga warga asli Tolikara.

"AK dan YW, dari pihak masyarakat sana, pegawai bank," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, di Istana Negara.

Penetapan tersangka ini, lanjut dia, sudah melalui pemeriksaan yang cukup disertai alat bukti. Motif keduanya melakukan pembakaran itu belum diketahui karena keterangan mereka masih terus didalami.

Rekomendasi