Ultimus, nama itu memang tidak begitu familiar bagi banyak kalangan. Tetapi bagi mereka penikmat buku filsafat, berbau kiri atau Marxisme, Ultimus begitu dikenal. Sudah satu dasawarsa lebih keberadaannya diakui hingga dewasa ini.Awal mula Ultimus hanyalah toko buku kecil lalu berkembang menjadi tempat diskusi. Seiring perjalanannya, Ultimus lantas mampu menjadi sebuah penerbitan.Ultimus didirikan pada 2004 lalu oleh Bilven Sandalista. Di awal reformasi Bilven yang memang hobi membaca buku mulai mempelajari banyak hal dari politik, sosial, budaya hingga ideologi-ideologi.Salah satu yang disukainya adalah Marxisme. Sekedar diketahui Marxisme merupakan sebuah paham yang berdasar pada pandangan-pandangan Karl Marx. Di sini Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan politik.Banyak yang menentang Marxisme, lantaran kerap disamakan dengan dasar teori komunisme dan di Indonesia diidentikkan dengan peristiwa berdarah Gerakan 30 September.Bilven mengakui, hingga kini buku berbau Marxis masih cukup mewarnai koleksinya. Ada sekitar 3.500 hingga 4.000 koleksi buku di markasnya yang hampir separuhnya merupakan buku berbau kiri."Memang masih ada, tapi tidak semua. Karena di tempat kami juga ada banyak buku umum seperti politik, sosial, budaya dan lainnya," kata Bilven saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (11/4).Bilven sebenarnya ingin memberikan pemahaman tentang Marxisme yang selama ini masih ditentang banyak orang. Keberadaan Marxisme itu merupakan buah dari perkembangan peradaban dunia. Marxisme merupakan bagian dari kekayaan intelektual yang pernah hidup."Masih banyak orang yang berangkat dari ketidaktahuan. Sehingga menjadi ketakutan. Kami di sini ingin mengalahkan ketakutan itu, karena kalau tidak berani kapan bisa membangun wacana kesadaran orang," terangnya.Buku karya Karl Marx misalnya yang justru banyak ditentang. Menurut dia, banyak konten yang ilmiah. Dari situlah Bilven mengusung misi lebih besar dengan melakukan penerbitan buku.Buku terbitan pertama Ultimus diluncurkan pada 2006. Hingga 2015 ini Ultimus sudah menerbitkan sekitar 80 buku. Terakhir buku yang disebar, yakni Gelas-gelas retak; Trilogi catatan harian aktivis PNI dan Tragedi 1965. Bahkan buku tentang Islam; Revolusi Ajaran Shalat dihadirkan di perpustakaan yang berada di kawasan Jalan Cikutra Bandung tersebut."Sudah 80 ribu buku yang kami cetak, tapi tidak semua berbau kekirian. Banyak buku filsafat, humaniora, sosial dan lainnya," jelasnya. Jika menilik Ultimus, memang tidak ada identitas mencolok di markasnya. Bentuknya rumah dan tidak ada tanda pengenal. Salah satu pengelola Ultimus Sang Denay mengaku, Ultimus kini sudah condong ke penerbitan. "Dulu waktu fokus toko buku memang ada dan sekarang sudah tidak dipasang. Karena markas kami sudah pindah sampai empat kali, maklum saja kontrakannya habis," jelasnya.Bilven menambahkan, saban bulannya diskusi memang suka digelar di markasnya. Diskusi tersebut membahas banyak hal. Tak jarang buku menarik apa pun akan selalu menjadi menarik jadi pembahasan. "Kegiatan diskusi sering dilakukan. Karena tempat kami terbuka," ungkapnya.Menilik ke belakang Ultimus memang sempat menjadi buah bibir warga Bandung, lantaran sempat menggelar diskusi tentang Marxisme. Di situ diskusi dibubarkan karena dianggap menyebarkan paham komunis.Kini Bilven mengaku tak jarang mendapat bayang-bayang pengawasan pihak berwenang. Dia juga tidak masalah dengan pelakuan tersebut."Silakan awasi saja. Justru bagus biar mereka terbuka pikirannya, semua tahu tentang Marxis. Bagi yang ingin belajar silakan hadir, kalau cuma diawasi sepertinya enggak apa-apa ya," jelasnya.
Ultimus, toko buku berbau kiri di Kota Kembang
Ada sekitar 3.500 hingga 4.000 koleksi buku di toko ini yang hampir separuhnya merupakan buku berbau kiri.
Rekomendasi