Cerita tenggelamnya kapal HMAS Perth & USS Houston di Selat Sunda

Serangan armada kapal Jepang membuat kedua kapal andalan dua negara tersebut karam, bagaimana ceritanya?

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Cerita tenggelamnya kapal HMAS Perth & USS Houston di Selat Sunda
penyelamatan USS Houston. ©navalhistory.org

Penemuan sisa-sisa kapal perang bekas Perang Dunia II ditemukan di perairan Selat Sunda. Kapal perang milik Australia dan Amerika Serikat itu karam setelah diserang kapal Jepang. Dua kapal adalah HMAS Perth dan USS Houston.Saat ditemukan tim penyelam, beberapa bagian kapal tersebut diketahui telah hilang digondol orang tak dikenal. Melihat itu, Mabes Polri berencana melakukan pengamanan terhadap bangkai kapal Perang Dunia II yang tenggelam sekitar tahun 1942 itu. "Pengamanan kedua kapal itu bernama HMAS Perth dan USS Houston agar tidak menjadi incaran pencurian," kata Kabag Bin Ops Ditpolair Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi Pepen Sumpena seperti dikutip dari Antara, Sabtu (31/1).Dia mengatakan bahwa pengamanan kapal bekas Perang Dunia II itu melibatkan tiga kapal patroli dari Mabes Polri. Mereka siaga melakukan penjagaan di lokasi penemuan kapal HMAS Perth dari Australia dan USS Houston, Amerika Serikat itu.Ketiga kapal Mabes Polri itu, antara lain Kapal Tekukur nomor lambung 4016, Kapal Parkit 3004, dan Kapal Enggang 5010. Pengamanan bangkai kapal bersejarah ini untuk mencegah aksi pencurian yang dilakukan penambang besi tua ilegal.Penemuan ini sebenarnya tak lepas dari upaya TNI AL membantu US Navy untuk menyelamatkan bangkai kapal perang Amerika Serikat USS Houston (CA 30), yang sempat hilang ketika Pertempuran Selat Sunda. Kapal perang yang pada awalnya diberi nama CL-30 ini adalah kapal angkatan laut kedua milik Amerika Serikat.USS Houston pertama kali diluncurkan oleh Newport News Shipbuilding & Dry Dock Company, Virginia, pada 7 September 1929 di bawah komando Kapten Jesse Uskup Gay. Akhirnya pada 1 Juli 1931 namanya dikukuhkan sebagai CA-30 dan selama Perang Dunia II ditugaskan untuk berpatroli di lautan Indonesia.Sama halnya dengan USS Houston, HMAS Perth juga bertugas di medan tempur yang sama. Salah satunya menahan serangan Jepang ke wilayah kekuasaan Belanda di Asia Tenggara, dan sempat bersandar bersama kapal perang Inggris di Singapura.Bagaimana ceritanya kedua kapal kebanggaan kedua negara tersebut bisa tenggelam?

Perth langsung ditugaskan ke medan perang Pasifik saat perang dunia II dimulai. Awalnya, kapal ini bertugas bersama kapal perang milik Inggris dengan mengarungi lautan Karibia dan bagian barat Samudera Antlantik untuk mencari kapal Jerman hingga kembali ke pangkalannya pada 31 Maret 1940.Setelah itu, kapal ini ditugaskan untuk melindungi kapal-kapal barang sekaligus patroli di perairan Australia. Kapal ini juga pernah ditugaskan hingga ke Laut Mediterania bersama HMAS Sydney.Sebagai salah satu kapal pelindung, berbagai serangan sempat dirasakan kapal ini bersama awaknya di Laut Tengah. Salah satunya terlibat dalam evakuasi pasukan saat pasukan Jerman mulai menginvasi Yunani.Setelah dua tahun terlibat perang di medan Eropa, kapal ini kembali ke negerinya akhir 1941 untuk beberapa perbaikan, dan kembali ditugaskan pada 31 Januari 1942 untuk melindungi konvoi empat kapal tanker dan kargo untuk mengambil sejumlah minyak dari Indonesia.Jatuhnya Singapura ke tangan Jepang membuat Australia memerintahkan kapal ini kembali ke negerinya. Kapal ini memilih bersandar di Tanjung Priok, bersamaan dengan datangnya serangan udara Jepang di Indonesia. Bersama kapal Inggris, Ships Exeter, Jupiter, Electra dan Encounter, Perth berangkat ke Surabaya. Di tempat ini, mereka harus berhadapan dengan konvoi kapal perang Jepang yang terdiri delapan kruiser, 12 perusak dan 30 kapal transport.Setelah melakukan pencarian, tepat 27 Februari siang tembakan pertama dimulai. Tembakan pertama berasal dari kapal perang sekutu dan dibalas Jepang. Meski berhasil menghancurkan satu kapal Jepang, namun armada sekutu mengalami sejumlah kekalahan, di mana HMS Exeter terpaksa mundur akibat banyaknya kerusakan. Kapal perang Belanda De Ruyter dan HNLMS Java tenggelam akibat serangan torpedo.Perth dan USS Houston dua kapal tersisa yang berhasil selamat dari perang di Laut Jawa itu dan harus melakukan perbaikan total di Tanjung Priok. Namun, upaya kembali ke Australia sangat kecil mengingat sisa bahan bakar ditambah kerusakan di bagian lambung membuat kedua kapal ini bersama HNLMS Evertsen berupaya bersandar ke Cilacap dengan mengitari Selat Sunda.Ketiga kapal ini tidak menyadari masih ada kapal Jepang yang berpatroli di kawasan itu. Mereka menerima informasi yang salah, di mana lokasi musuh jaraknya cukup jauh untuk dijangkau dan sedang menjauh dari lokasi mereka.Alhasil, kapal ini dihadiahi tembakan torpedo oleh kapal perang Jepang hingga tenggelam. Dari 681 pelaut, 353 di antaranya tewas dalam pertempuran tersebut. Sedangkan 328 lainnya dijadikan tawanan perang. Buruknya lokasi penahanan membuat 106 tewas, dan tawanan tersisa masih bisa kembali ke negara asalnya usai perang.

Nasib serupa juga dialami USS Houston. Kapal perang yang pada awalnya diberi nama CL-30 ini adalah kapal angkatan laut kedua milik Amerika Serikat.USS Houston pertama kali diluncurkan oleh Newport News Shipbuilding & Dry Dock Company, Virginia, pada 7 September 1929 di bawah komando Kapten Jesse Uskup Gay. Akhirnya pada 1 Juli 1931 namanya dikukuhkan sebagai CA-30.CA-30 ini sangat banyak sepak terjangnya di Indonesia. Pada awal 1931, kapal yang akrab disebut Houston ini pertama kali beroperasi di lautan luas dengan membantu menjaga Shanghai saat perang sengit antara China dan Jepang.Selama tahun 1931 hingga 1938, Houston merupakan kapal perang yang disegani karena selalu malang melintang di medan laut dunia untuk menstabilkan dan menjaga beberapa daerah dari konflik peperangan. Kapal ini sempat menjelajah Filipina hingga Jepang.Houston akhirnya menjadi unggulan dari Armada AS pada 19 September hingga 28 Desember 1938. Saat itu kapal perang ini sudah berada di bawah komando Laksamana Claude C. Bloch.Selain itu, Houston juga sempat terlibat dalam peperangan besar lainnya di wilayah Hindia Belanda (Indonesia), seperti Pertempuran Selat Makassar pada tahun 4 Februari 1942 dan Pertempuran Laut Jawa pada 26 Februari 1942.Tak banyak kekuatan sekutu yang tersisa dalam pertempuran awal perang dunia II. Armada Jepang terlalu perkasa untuk komando gabungan sekutu di Hindia Belanda.Tanggal 28 Februari 1942, kapal perang sekutu yang tersisa, Perth dan Houston ada di Tanjung Priok menerima perintah untuk berlayar melewati Selat Sunda ke Cilacap.Di Selat Sunda mereka disergap 3 kapal penjelajah dan beberapa kapal pemburu Jepang. Pertempuran tak seimbang terjadi. Mereka mati-matian bertahan sehingga pertempuran hebat terjadi. Diduga Houston rusak berat ditorpedo kapal Jepang. Kapal yang pada kala itu dijuluki Hantu Pesisir Jawa itu akhirnya karam pada 1 Maret 1942.Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta menyampaikan setidaknya ada 700 pelaut dan marinir AS yang gugur bersama tenggelamnya USS Houston.(Dari berbagai sumber)

Rekomendasi