Suripno Wiyono Suwito (75), nama abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini mungkin tak banyak yang mengenal. Namun kesetiaan warga Sangkrah RT 01 RW 01, Pasar Kliwon ini terhadap keraton tak perlu diragukan. Ripno, panggilan pria yang memiliki seorang istri dan dikaruniai 5 anak serta 10 orang cucu tersebut, sudah 37 tahun mengabdi."Saya diberi tugas Sinuwun Paku Buwono (PB) XII sebagai Reksa Duwara (penjaga pintu). Yaitu pintu, Jalantunda dan Brojonolo," ujar mbah Ripno, saat ditemui, di lingkungan Keraton Surakarta, Sabtu (31/5).Sebelum bertugas sebagai penjaga pintu, Mbah Ripno pernah dipercaya bertugas di Sasana Prabu, dengan gelar nama Lurah Atmo Suripno. Saat itulah dirinya sangat dekat dengan raja saat itu, atau semasa PB XII."Tugas saya sebagai utusan dalem (pesuruh raja). Jadi saya sangat dekat dengan sinuhun PB XII," kenangnya bangga.Semenjak PB XII meninggal, Ripno yang merasa sudah tak digunakan lagi tenaganya oleh penguasa saat ini (PB XIII) mengajukan surat pengunduran diri dari seluruh kegiatan keraton."Saya tidak disukai oleh rayi dalem (adik raja. Jadi saya membuat surat mundur saking pasuwitan (dari pengabdian)." katanya.Meski sudah mengundurkan diri dari keraton, tak lantas membuat kecintaan Ripno luntur. Dia berjanji akan tetap mengabdi ke keraton, meskipun dirinya sudah di luar. Dalam kesehariannya, Ripno tetap melakukan aktivitasnya, di komplek keraton, yakni di pinggir jalan supit urang, depan keraton."Sampai mati saya akan tetap mengabdi ke keraton, siapapun presidennya. Saya minta berkah keraton agar anak, istri dan cucu mendapatkan kebahagiaan mulia tak kurang satu apa pun.Kebanggaan Ripno lainya yang tak bisa ia lupakan adalah, setiap malam Jumat Kliwon diminta PB XII untuk macapat di sasana Parasedya, ruangan tengah keraton."Macapat itu tujuannya muja muji untuk keselamatan keraton seisinya," ucapnya.Jadi pelukis wayang triplekUsai mundur dari aktivitas keraton, Suripno tak lantas duduk di rumah atau beraktifitas di luar. Kecintaan pria yang menyandang gelar Mas Lurah ini membuatnya tak mau jauh dari keraton."Saya kerja di sini, di supit urang. Melukis wayang dan huruf jawa di atas lembaran triplek (kayu lapis). Hasilnya saya buat makan dengan anak cucu," tandasnya.Menurut Suripno, hasil lukisannya tersebut pernah dibeli turis dari Amerika, Inggris, Thailand dan beberapa negara Eropa. Namun soal harga, lelaki yang sudah terlihat membungkuk badannya tersebut, enggan menyebutkannya.Sementara itu pantauan merdeka.com, Mbah Ripno memang selalu melukis setiap harinya di Jalan Supit urang, di depan keraton. Dengan peralatan yang sangat sederhana, Mbah Ripno melukis wajah tokoh wayang Werkudara atau tokoh lainnya. Tak ada kuas atau kanvas, Mbah Ripno hanya menggunakan kertas gulung untuk menorehkan cat ke papan.Tempat bekerja Mbah Ripno pun bukanlah tempat yang nyaman. Dia hanya duduk di tepi jalan tanpa alas apapun di tepi jalan menuju pasar klewer. Kondisi badan yang sudah mulai renta membuat setiap warga yang melintas merasa kasihan. Tak sedikit warga yang lewat berhenti sejenak untuk memberikan bantuan, berupa makanan atau uang."Saya ingin konflik yang terjadi di keraton segera menemukan solusi terbaik," pungkasnya.
37 Tahun mengabdi di Keraton Surakarta, Mbah Ripno ogah pensiun
Suripno Wiyono Suwito (75), atau Mbah Ripno pernah dipercaya bertugas di Sasana Prabu, dengan gelar Lurah Atmo Suripno.
Rekomendasi