Kisah Heri Sulistyo, pawang kebo bule Keraton Surakarta

Saat malam 1 Suro, semua kebo bule dalam kondisi bersih dan sehat, untuk kirab. Kotoran kebo diyakini membawa berkah.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Kisah Heri Sulistyo, pawang kebo bule Keraton Surakarta
Heri Sulistyo. ©2014 Merdeka.com

Heri Sulistyo (35), mungkin belum lama mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Namun pria yang warga Kampung Gurawan, Pasar Kliwon, Solo tersebut sudah dipercaya untuk menjadi pawang Kebo Bule (kerbau keturunan Kyai Slamet) oleh raja Keraton Surakarta, Paku Buwono ke XIII."Saya sudah hampir 3 tahun ini dipercaya sebagai "srati maeso" (pawang kebo bule). Dulu membantu babe (pawang sebelumnya), tapi setelah meninggal, saya yang melanjutkan," ujar Heri, saat ditemui merdeka.com, di Kandang Kebo Bule, komplek alun-alun selatan keraton, Jumat (30/5).Pada awalnya, pria yang juga bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Gading tersebut merasa berat mendapatkan tugas merawat kerbau keturunan Kyai Slamet yang sangat dikeramatkan tersebut. Namun berkat niatnya yang ikhlas, ketekunan serta bimbingan Pariyem (53) ibunya, tugas tersebut akhirnya dijalankan, tanpa hambatan berarti."Susah juga mas merawat 10 kebo bule ini. Kadang ada yang kerah (berantem), sampai harus saya pisahkan kandangnya. Terutama saat brai (musim kawin) pasti kebo laki-laki berantem," katanya.Pengalaman paling tak bisa dilupakan Heri, saat datangnya bulan Sura. Saat itu dia harus mempersiapkan semua kebo bule dalam kondisi yang bersih dan sehat, untuk keperluan kirab malam 1 Suro. Pada malam itu ribuan warga sangat menanti-nanti keluarnya kebo. Mereka akan mengambil setiap kotoran yang keluar, untuk dicari berkahnya."Susahnya, kalau mereka ngambeg, tidak mau dikirap. Padahal sudah jam 01.00 malam. Masyarakat sudah menunggu. Saya harus pintar merayu agar semua kebo bule mau diajak kirab," ucapnya.Heri mengaku senang mengabdi kepada Keraton Surakarta. Meskipun hanya mendapatkan gaji kecil, yang tak cukup untuk menghidupi istri dan kedua anaknya."Saya bangga menjadi abdi dalem. Semoga dengan pengabdian ini, rejeki saya akan semakin berkah," harapnya.Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki koleksi binatang peliharaan yang disakralkan. Salah satu hewan yang paling terkenal adalah kebo bule alias kerbau albino. Kebo bule dianggap keramat dan disucikan. Oleh karena itu, kebo bule yang dapat dikategorikan sebagai salah satu jenis benda pusaka kepunyaan keraton ini juga diberi nama seperti seperti benda pusaka lainnya. Namanya adalah Kyai Slamet. Menurut kitab Babad Solo yang ditulis oleh Raden Mas Said, nenek moyang kebo bule ini adalah binatang kesayangan (klangenan) Sri Susuhunan Pakubuwono II, bahkan sejak masih bertahta di istana Kasunanan Kartasura, di Sukoharjo atau sebelum pindah ke Kasunanan Surakarta di Kota Solo. Disebut kebo bule karena warna kulit kerbau ini memang lain daripada yang lain, yakni berwarna putih agak kemerah-merahan, seperti warna kulit orang Eropa atau yang sering disebut dengan istilah bule. Oleh karena itu, kerbau ini kemudian disebut sebagai kebo bule.Hingga sekarang, keberadaan kebo bule masih menjadi salah satu bagian yang penting dalam kehidupan adat di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terutama ketika pelaksanaan upacara adat pada Malam 1 Suro atau malam tahun baru Hijriah (penanggalan Islam) pada 1 Muharram.

Rekomendasi