Pertandingan tinju Bupati Cup di Nabire, Papua berujung rusuh. 18 Orang tewas karena bentrok dan terinjak-injak dalam insiden yang terjadi pada Minggu (14/7) itu. Terkait hal ini, Komnas HAM pun akan melakukan penyelidikan. Dalam catatan Komnas HAM peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan yang pertama kali terjadi di even oleh raga tinju di Indonesia yang merenggut jumlah nyawa manusia terbanyak. "Karena itu Komnas HAM memutuskan untuk melakukan pemantauan dan penyelidikan atas kasus ini," ujar Ketua Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Pelanggaran HAM Komnas HAM RI, Natalius Pigai, Selasa (16/7). Menurut Pigai, peristiwa ini tidak seharusnya terjadi jika Panitia penyelenggara, Pertina, Pemerintah daerah khususnya Kepala Daerah dapat menyelenggarakan acara ini secara profesional. "Kami juga mengharapkan agar semua elemen bangsa baik Menteri Olah Raga, para Pengurus atau asosiasi olah raga, Pemerintah Daerah, pihak Kepolisian harus sungguh-sungguh untuk mengevaluasi untuk melakukan tindakan-tindakan preventif sehingga olah raga yang kita jadikan sebagai ajang hiburan rakyat tidak tercoreng dengan tragedi kemanusiaan," terangnya.Sebelumnya, Kapolres Nabire AKBP Bahara Marpaung mengatakan, insiden itu berawal dari final kejuaraan tinju memperebutkan Bupati Cup yang dimenangkan Alfius Rumkorem dari sasana Persada mengalahkan Yulianus Pigome dari sasana Mawa yang berlangsung di GOR Kota Lama Nabire.Namun kemenangan itu menyebabkan pendukung Yulianus Pigome tidak terima hingga terjadi saling ejek yang kemudian terjadi saling lempar hingga menyebabkan para penonton lainnya berebutan keluar dari GOR."Akibat saling berdesakan itulah menyebabkan banyak yang tewas dan luka-luka," kata Kapolres Nabire seraya mengaku saat final GOR dipadati sekitar 1.500 orang.
Komnas HAM akan selidiki kasus rusuh tinju di Nabire
Dalam catatan Komnas HAM peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan yang pertama kali terjadi di even oleh raga Tinju.
Advertisement
Rekomendasi