Kisruh antara Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) belum ada titik temu. Baik PSSI yang dipimpin oleh Djohar Arifin Husin maupun KPSI yang dipimpin La Nyalla Mahmud Mattalitti mengaku kepengurusan keduanya mendapat pengakuan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan juga badan sepak bola dunia, FIFA. Karena muncul dua kepengurusan, muncul pula dua liga sepakbola di Indonesia. Dua liga itu adalah Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL). Kedua liga itu sudah berjalan satu musim.Di tengah perjalanan kompetisi, berbagai pihak sudah berupaya bertemu untuk menyatukan PSSI dan KPSI. Toh, hasilnya sia-sia. Dua-duanya masih ingin menang sendiri.Akibat dualisme kepemimpinan tersebut, FIFA dalam surat yang ditandatangani Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke, 26 November lalu, mengancam memberi sanksi kepada PSSI. Saat itu. surat ancaman tersebut dilayangkan langsung kepada ke Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.Ancaman FIFA sempat membuat Indonesia ketar-ketir. Baik PSSI dan pemerintah khawatir kalau sanksi benar-benar akan dijatuhkan oleh FIFA.Situasi semakin panas saat PSSI dan KPSI sama-sama menggelar kongres awal Desember. Karena dianggap tak mau berdamai, Menpora Agung Laksono melarang pelaksanaan kedua kongres. Tapi pada praktiknya di lapangan, hanya kongres PSSI lah yang dilarang, sementara KPSI tetap diperbolehkan menggelar kongres.Sikap Agung yang membiarkan KPSI menggelar kongres di Jakarta inilah yang dianggap menambah memperkeruh suasana. Ada dugaan Agung mendukung keberadaan KPSI. Soal ini Agung membantahnya.Waktu berjalan, setelah FIFA melakukan sidang, lagi-lagi Indonesia terhindar dari sanksi. FIFA masih memberikan kesempatan kepada PSSI untuk memperbaiki kondisi sepakbola Indonesia.Meski lolos dari sanksi FIFA, bukan berarti PSSI harus berleha-leha. Sebaliknya, FIFA memberikan kesempatan terakhir kepada PSSI untuk segera memulihkan kondisi sepak bola nasional."PSSI sendiri telah mengajukan roadmap program penyelesaian untuk tiga bulan ke depan," kata FIFA dilansir dalam situs resminya.Dalam keterangannya, FIFA meminta PSSI untuk menjalankan program yang telah mereka ajukan tersebut hingga 30 Maret 2013. "Situasi di PSSI akan kembali didiskusikan oleh Komite Asosiasi dan Komite Eksekutif FIFA di rapat selanjutnya. Ini adalah batas waktu paling terakhir yang diberikan kepada PSSI untuk benar-benar menormalkan situasi," tulis rilis resmi di situs FIFA.FIFA sendiri akan melaksanakan rapat Exco FIFA untuk membicarakan masalah sepak bola Indonesia tiga bulan ke depan. Tepatnya pada tanggal 20-21 Maret 2013 di Zurich. Sementara pemerintah juga langsung bergerak cepat. Agung Laksono, pengganti sementara Andi Mallarangeng itu langsung membentuk task force yang dipimpin oleh Rita Subowo."Kami berharap permasalahan ini cepat selesai demi kemajuan sepak bola Indonesia," kata Agung.Satu nama lain yang dianggap mampu meredam kisruh keduanya adalah mantan Wakil Ketua Umum PSSI era Nurdin Halid, Nirwan Bakrie. Untuk memuluskan rekonsiliasi keduanya, PSSI pernah menggandeng Nirwan Bakrie guna menyelesaikan persoalan dualisme kompetisi sepak bola Indonesia. Djohar Arifin mengaku menggandeng Nirwan supaya mendapatkan sumbang saran, agar menjembatani dua kompetisi supaya menjadi satu. Kompetisi tersebut adalah ISL dan IPL.Menurut Djohar, PSSI percaya Nirwan sebagai sosok yang mencintai sepak bola dan tidak ingin Indonesia terkena sanksi FIFA. Karena itu, pihaknya bakal segera berkomunikasi dengan mantan wakil ketua umum PSSI tersebut."Kami akan meminta dukungan beliau (Nirwan). Karena, Nirwan sudah berpengalaman dan dihormati oleh klub-klub di Tanah Air," kata Djohar awal tahun ini.Sayangnya, keinginan Djohar waktu itu masih sebatas mimpi. Bulan demi bulan semenjak Djohar terpilih menjadi ketua PSSI, kegaduhan sepakbola Indonesia belum ada ujungnya sampai sekarang.
Mereka di balik kisruh PSSI yang tiada ujung
Pertengahan Desember ini, Indonesia sempat terancam sanksi FIFA.
Rekomendasi