Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Puluhan penyu mati di Pantai Belacan karena telan limbah aspal

Puluhan penyu mati di Pantai Belacan karena telan limbah aspal Pantai Kalbar diduga tercemar limbah. ©2018 Merdeka.com/Saud Rosadi

Merdeka.com - Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam provinsi Kalimantan Barat, menyatakan kematian penyu sebagai kejadian luar biasa, khususnya yang berada di Pantai Belacan, Paloh, kabupaten Sambas. Dalam 3 bulan terakhir, ditemukan tidak kurang 20 penyu mati.

Jumat (6/4) lalu, beredar info di media sosial ditemukannya penyu mati di pesisir pantai. Petugas BKSDA Kalbar Resor Paloh, bersama dengan tim WWF Kalimantan Barat, bergerak menyisir pantai.

Penyisiran sampai dengan Minggu (8/4) kemarin, ditemukan 10 penyu hijau (Chelonia Mydas) mati. Dalam rentang waktu yang sama, juga ditemukan 1 penyu sisik (Eretmochelys Imbricata) mati.

Pada saat patroli itu, tim juga menemukan beberapa gumpalan tar atau aspal dan sampah, dalam jumlah yang cukup banyak, di pinggir pantai.

"Dari temuan luar biasa itu, saya turunkan tim bersama dengan tim WWF, untuk melakukan pembedahan atau nekropsi terhadap penyu-penyu yang ditemukan mati itu," kata Kepala BKSDA Provinsi Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, dalam penjelasan resmi dia kepada wartawan di Pontianak, Senin (9/4).

Diterangkan, saat nekropsi, kondisi penyu telah membusuk, sehingga tim hanya melakukan nekropsi makroskopis, dengan melihat secara langsung. "Dikarenakan perubahan secara patologi anatomi ataupun histopatologinya, sudah tidak bisa teramati," ujar Sadtata.

Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan pada 5 sampel penyu yang terdiri dari 4 penyu hijau dan 1 jenis penyu sisik, terdapat 4 penyu positif terdapat endapan tar/aspal pada organ tubuh penyu. "Jadi, terhadap hasil nekropsi tersebut indikasi kematian penyu disebabkan karena menelan tar atau aspal," ungkap Sadtata.

Kejadian penyu mati di sepanjang pesisir pantai Paloh, tidak hanya terjadi baru-baru ini. Dalam medio Februari-Maret 2018 juga ditemukan 10 bangkai penyu, dimana 3 di antaranya dilakukan nekropsi.

"Dalam beberapa waktu ke depan, BKSDA telah merencanakan beberapa langkah tindak lanjut, mengumpulkan data dan informasi terkait asal-usul tar atau aspal, dan sampah yang mencemari perairan sekitar pesisir Paloh. Kita juga akan teliti kualitas air laut dan uji kimia sample cairan hitam yang diduga aspal," terangnya.

Dijelaskan, pantai sepanjang 63 kilometer di Pesisir Paloh merupakan habitat pendaratan terbesar penyu di Kalimantan Barat. "Penyu saat ini berstatus Apenddix I CITES, yang berarti keberadaannya di alam terancam punah, dan juga masuk ke dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa," terangnya lagi.

"Tapi, pemberian status perlindungan saja tidak cukup, kalau tidak diiringi dengan tindakan nyata dalam melakukan upaya-upaya konservasi," demikian Sadtata.

(mdk/ded)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP