Prediksi Jokowi soal masa depan koran & TV tak lagi disuka anak muda
Merdeka.com - Kemajuan teknologi membuat banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Semua seolah berpindah dari konvensional menjadi serba online. Industri media juga terancam atas kehadiran internet.
Ancaman menyasar koran dan televisi. Dua media itu diprediksi bakal ditinggal para pelanggannya, terutama anak muda. Mudahnya mendapat internet melalui ponsel pintar membuat mereka akan lebih memilih beralih. Apalagi informasi didapat juga lebih cepat.
Kondisi ini diprediksi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia melihat lima hingga 15 tahun mendatang, perubahan akan sangat cepat. Sehingga anak muda sudah seharusnya dipersiapkan.
"Ke depan mereka (anak-anak) tidak akan lagi membaca koran. Tidak lagi melihat tv. Mereka akan melihat semuanya lewat smartphone atau gawai yang mereka punya," kata Jokowi di Yogyakarta, Sabtu kemarin.
Perubahan cepat ini, kata Jokowi, juga akan memengaruhi landscape politik, global, nasional dan daerah. Untuk itu, para guru diminta tidak ketinggalan zaman. Ini diperlukan guna mengantisipasi para anak didiknya tidak melenceng akibat perkembangan zaman.
"Jangan sampai mereka (anak-anak) sampai hanyut pada arus perubahan yang bisa mengubah sosial budaya dan karakter anak. Guru harus mampu mempersiapkan mereka untuk menjawab perubahan," ungkapnya.
Menurut Jokowi, melesatnya perkembangan teknologi terkadang membuat Indonesia keteteran. Perusahaan besar teknologi selalu cepat dalam memperbarui pelbagai macam teknologinya. Itu dilihatnya setelah mengunjungi kantor pusat Google, Alibaba dan Facebook.
Keresahan industri media cetak memang sudah dirasakan menurun. Sawara (62), agen sebuah koran ternama di Indonesia ini mengaku mengalami penurunan omzet setelah berkembangnya media online. Penurunan itu dicermatinya sejak sejak lima tahun belakangan.
"Coba Anda bayangkan saja, sebelum reformasi, koran ini mencetak 250 ribu eksemplar tiap hari. Sekarang tinggal berapa, cuma 20 ribu eksemplar! Jadi mengalami penurunan drastis," kata Sawara kepada merdeka.com.
Sawara mengaku jauh sebelum media online berkembang pesat, dia bisa meraup keuntungan Rp 1 juta tiap harinya. Namun, kata dia, keadaan berubah setelah perkembangan media online tidak lagi bisa dibendung.
Di sisi lain, Ketua AJI Jakarta Nurhasim berpendapat, menurunnya pembaca media cetak tak serta merta meningkatkan pamor media online. Sebab, kata dia, kualitas suatu informasi dihasilkan media dinilai tiap pembacanya.
"Kualitas bukan soal medium sebenarnya. Orang juga bisa suka online dan bisa juga suka cetak," kata Nurhasim kepada merdeka.com.
Nurhasim mengatakan, letak kualitas suatu media terdapat pada kemauan pemilik dan pengelola media. Sebab, lanjut dia, menulis berita-berita dan informasi sensasional untuk memperbanyak pembaca juga kerap dilakukan oleh media cetak dan online.
Namun ruang untuk berkembang dengan baik di masa depan, kata Nurhasim sangat potensial dimiliki oleh media daring. Dibanding media cetak yang mempunyai kendala jumlah halaman dan oplah, media online mempunyai kesempatan yang lebih luas dari segi waktu dan tampilan kepada pembaca.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya