KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Polisi turun tangan damaikan warga dua desa yang bentrok

Sabtu, 2 Agustus 2014 14:48 Reporter : Yulistyo Pratomo
Ilustrasi Bentrokan. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Aparat kepolisian resor (Polres) Pulau Ambon dan Pulau-Pulau (PP) Lease turun tangan untuk mendamaikan warga di dua desa yang terlibat bentrok. Salah satunya menggelar mediasi dengan mempertemukan tokoh-tokoh dan pemuka agama dari kedua desa.

"Pertemuan untuk mediasi kedua pihak yang bertikai itu dilanjutkan sekarang (2/8), karena pada pertemuan Jumat (1/8) tidak dihadiri perwakilan dari Negeri Lima," kata Kapolres Pulau Ambon dan PP Lease, AKBP Bintang Juliana di Ambon, Sabtu (2/8), seperti dilansir dari Antara.

Ketidakhadiran pemuka masyarakat dan tokoh agama Negeri Lima, menurut Kapolres, karena ada mis-komunikasi, sehingga mereka tidak mengetahui adanya pertemuan untuk membicarakan solusi penyelesaian konflik tersebut.

Dalam pertemuan pada Sabtu (2/8) itu dipimpin langsung Kapolres Bintang bersama Dandim 1504 Ambon Letkol Inf Edy Jarot Purwanto dan Bupati Malteng Abua Tuasikal, yang juga dihadiri pimpinan agama, pemuka masyarakat dan tokoh pemuda Desa Seith dan Negeri Lima.

Pertemuan yang berlangsung tertutup tersebut, tandas Kapolres untuk membicarakan berbagai langkah yang akan dilakukan guna menghentikan konflik sekaligus mengupayakan perdamaian antarwarga kedua desa bertetangga tersebut.

"Terpenting kedua belah pihak telah sepakat untuk menghentikan pertikaian dan menyerahkan penyelesaiannya kepada aparat Kepolisian dibantu TNI, serta bersedia duduk bersama untuk membicarakan langkah-langkah penyelesaian konflik," ujarnya.

Selain upaya perdamaian, menurut Kapolres, proses hukum juga akan dilakukan guna memberikan efek jera bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan melanggar hukum dan merugikan orang lain.

Kapolres Bintang juga mengakui tokoh masyarakat dan pemuka agama Desa Seith siap mematuhi semua kesepakatan yang diambil dalam pertemuan tersebut, serta memberikan jaminan bagi warga Negeri Lima yang akan ke pusat kota Ambon dengan melewati Desa mereka.

"Situasi dan kondisi keamanan di perbatasan kedua desa tersebut saat ini kondusif, namun personel TNI dan Polri yang ditempatkan di lokasi itu terus melakukan pendekatan persuasif dengan warga kedua desa untuk menghentikan konflik dan berdamai," lanjut Kapolres.

Bentrokan yang mengakibatkan empat warga meninggal tersebut dipicu pemukulan terhadap warga Seith dan diduga dilakukan oknum warga Negeri Lima pada 28 Juli 2014.

Ketegangan ini telah diselesaikan secara kekeluargaan, baik oleh perangkat desa, tokoh masyarakat maupun agama, namun pertikaian tidak terelakkan dan terjadi saling menyerang pada Kamis (31/7) petang, sekitar pukul 15.45 WIT.

Korban dari desa Negeri Lima adalah Muhamad Azis Heluth (39) dan Yulin Uweng (24), sedangkan yang meninggal yakni Muhamad Seli, Kaimudin Soulisa dan Yulit Suneth. Warga Desa Seith yang terluka sebanyak empat orang yakni Benyamin Mahu (45), Walid Moni, Damra Nukuhehe dan Harli Hataul, sedangkan yang meninggal adalah Said Mony (38).

Pertikaian ini juga mengakibatkan personel Brimob Polda Maluku yakni Bripda Marselino Hetharia terluka di bagian kepala karena terkena lemparan batu. Marselino dan Benyamin Mahu dirujuk ke rumah sakit Bhayangkari di kawasan Tantui, kecamatan Sirimau, kota Ambon pada Minggu (31/7) malam. [tyo]

Topik berita Terkait:
  1. Bentrokan
  2. Bentrokan Ambon
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.