Petani Tukka Panggul Hasil Kebun 5 Km di Tapanuli Tengah Akibat Akses Jalan Terisolir

Kisah Sami Mendrofa dan istrinya, petani di Tukka, Tapanuli Tengah, yang terpaksa memanggul hasil kebun sejauh 5 km. Akses jalan terisolir menjadi tantangan utama mereka, mendorong perjuangan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Petani Tukka Panggul Hasil Kebun 5 Km di Tapanuli Tengah Akibat Akses Jalan Terisolir
Kisah Sami Mendrofa dan istrinya, petani di Tukka, Tapanuli Tengah, yang terpaksa memanggul hasil kebun sejauh 5 km. Akses jalan terisolir menjadi tantangan utama mereka, mendorong perjuangan demi memenuhi kebutuhan hidup. (AntaraNews)

Pasangan suami istri Sami Mendrofa dan Lunifa Halawa, petani dari Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, harus berjuang keras demi menyambung hidup. Mereka terpaksa memanggul hasil kebun berupa buah rambutan dan berjalan kaki sejauh lima kilometer (km) untuk menjualnya. Perjuangan ini dilakukan akibat akses jalan menuju desa mereka yang masih terisolir dan sulit dilalui.

Kondisi jalan yang berlumpur dan curam di kawasan Sigiring-Giring, Kecamatan Tukka, menjadi rintangan utama bagi Sami Mendrofa dan istrinya. Jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan, memaksa mereka untuk mengandalkan tenaga sendiri. Sami Mendrofa mengungkapkan, "Ini cara kami bertahan hidup saat ini," seraya memanggul dua karung rambutan pada Jumat lalu.

Meskipun menghadapi dampak bencana yang berat, Sami tetap bersemangat untuk menggerakkan roda ekonomi keluarganya. Upaya ini merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia harus menjual buah rambutan tersebut dengan harga yang relatif rendah, yakni di bawah Rp10 ribu per kilogram, setibanya di Hutanabolon.

Perjuangan Petani di Tengah Keterbatasan Akses

Sami Mendrofa mengaku datang ke kebunnya yang berlokasi di Desa Sigiring-Giring tiga kali dalam seminggu. Jarak yang jauh dan medan yang berat membuat perjalanan ini sangat melelahkan bagi dirinya dan sang istri. Mereka menggunakan sepeda motor hingga titik terakhir jalan yang masih bisa diakses, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Kondisi ini membuat Sami sangat berharap agar akses jalan segera tersambung kembali. "Kami berharap jalan ini segera tersambung, hanya itu saja pak," ujarnya penuh harap. Saat ini, Sami dan keluarganya terpaksa tinggal di lokasi hunian sementara di rusunawa, dengan mata pencarian utama dari berkebun.

Meskipun mendapatkan bantuan makanan, kebutuhan akan uang tunai tetap menjadi prioritas. "Kami harus bergerak agar dapat membeli kebutuhan, Untuk bantuan makanan kami dapat, tapi tentu kami butuh uang," kata Sami. Situasi ini menggambarkan bagaimana petani di daerah terisolir menghadapi tantangan ganda, antara keterbatasan infrastruktur dan kebutuhan ekonomi.

Upaya Pembukaan Akses Jalan oleh TNI

Prajurit TNI terus bekerja keras untuk membuka kembali akses jalan ke sejumlah desa terisolir di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Akses jalan ini masih belum dapat dilalui kendaraan hingga saat ini, menghambat mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian. Upaya ini merupakan bagian dari respons terhadap bencana yang menyebabkan kerusakan infrastruktur.

Komandan Detasemen Zeni Bangunan (Zibang) Kodam I Bukit Barisan, Mayor Czi Johan Sianturi, menjelaskan bahwa terdapat 13 titik longsor yang harus ditangani. Selain itu, pihaknya juga sedang membangun enam jembatan baru untuk menghubungkan kembali akses dari Desa Hutanabolon ke Desa Sigiring-Giring yang terputus. Desa lain yang juga terdampak isolasi akibat timbunan longsor dan jembatan rusak adalah Desa Sait Kalangan II dan Desa Tepian Nauli Saur Manggita.

Mayor Czi Johan Sianturi menambahkan bahwa selain pembangunan enam jembatan baru, sisa jembatan permanen yang rusak juga sedang diperbaiki. "Untuk enam jembatan saat ini kami mengerjakan jembatan keempat," jelasnya. Progres pengerjaan ini diharapkan dapat segera memulihkan konektivitas antar desa dan meringankan beban masyarakat, termasuk para petani yang selama ini kesulitan mengangkut hasil kebun mereka.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi