Permainan meriam bambu jadi favorit warga Samarinda saat ngabuburit

Minggu, 18 Juni 2017 04:03 Reporter : Nur Aditya
Permainan meriam bambu jadi favorit warga Samarinda saat ngabuburit Main laduman. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Beragam cara dilakukan warga ngabuburit menantikan waktu berbuka puasa. Seperti di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (17/6) sore. Puluhan orang mengikuti festival laduman. Tidak hanya mengisi waktu di akhir pekan, festival laduman juga untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang nyaris punah di Samarinda.

Laduman merupakan sebutan bahasa daerah Banjar, yang juga populer di tengah warga Samarinda. Sebutan lainnya adalah meriam bambu.

Lokasi festival laduman bertempat di bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) di Jalan Tarmidi. Tidak kurang 15 laduman ukuran 1,5-2 meter dijejer di bantaran sungai. Satu per satu laduman diledakkan dengan pemicu api kecil disertai minyak tanah yang ada di dalam batang pohon bambu.

Festival ini juga dipandu oleh pemandu, yang bertugas memberikan aba-aba bagi peserta. Tidak jarang, para peserta terlihat tertawa terbahak-bahak, ketika laduman mereka tidak bersuara nyaring alias buntat.

"Wah, nggak bagus suaranya," seru salah seorang peserta laduman sambil tertawa, Sabtu (17/6) sore.


Fadliansyah (42), warga Jalan Tarmidi mengaku cukup terhibur dengan adanya festival ini. Betapa tidak, laduman sudah jarang sekali dia lihat dimainkan anak-anak hingga remaja, bahkan orangtua sekalipun.

"Mungkin karena berisiko mainkan laduman, ledakan bambu bisa mengenai wajah. Tapi kalau berhati-hati, dan paham benar mainnya, tidak akan jadi celaka," kata Fadliansyah, saat berbincang bersama merdeka.com

Tidak sulit mendapatkan batang pohon bambu untuk mengikuti festival laduman ini. Cukup mencari bambu di hutan dan sedikit minyak gas. "Cuma itu, kan sudah sulit mencari minyak gas. Karena kalau pakai minyak gas bisa buat suaranya nyaring," ujar Fadilansyah.

Bermain laduman hingga menjadikannya festival, memang momen langka. Sebab selama ini, permainan laduman, hanya dimainkan di kampung-kampung, bukan dilombakan. "Intinya bukan dapat hadiah. Yang penting permainan ini, masih ada yang memain, tidak tergilas zaman," kata Rian, salah seorang peserta.

Festival pun usai pukul 17.30 WITA. Namun mengingat festival berlangsung 2 hari, puncak festival digelar kembali Minggu (18/6) besok, usai waktu Salat Ashar. Festival laduman ini memang menjadi hiburan tersendiri bagi warga Samarinda. "Sambil ngabuburit menunggu buka puasa," kata Rian. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. Ramadan 2017
  2. Samarinda
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini