Penjelasan Para Mantan Kepala BIN Soal Bahayanya KKB Papua

Jumat, 14 Desember 2018 06:20 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Penjelasan Para Mantan Kepala BIN Soal Bahayanya KKB Papua Mantan Kepala BIN. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Tindakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua makin meresahkan masyarakat. Mereka melakukan pemberontakan dan penembakan pada warga sipil, terutama di wilayah Nduga, Papua. Sudah beberapa kali mereka melakukan pemberontakan. Korbannya juga semakin banyak.

Siapa di balik gerakan KKB Papua ini. Para mantan kepala Badan Intelijen Negara atau BIN ini memberikan gambaran dan penjelasan tentang gerakan kelompok ini.

Berikut penjelasan para mantan kepala BIN tentang gerakan KKB Papua:

1 dari 4 halaman

Tindakan KKB Termasuk Gerakan Teroris

AM Hendropriyono. ©2012 Merdeka.com

Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono menilai penembakan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap pekerja PT Istaka Karya sudah masuk kategori gerakan teroris. Hendro mengajak masyarakat Papua menjadikan KKB pimpinan Egianus Kogoya sebagai musuh bersama.

"Tindakan dari KKB pimpinan Egianus Kogoya itu sudah membunuh orang tak bersalah. Tindakan membunuh orang tak bersalah itu sudah disepakati oleh negara yang bergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai teroris yang menjadi musuh bersama," ujar Hendro.

2 dari 4 halaman

KKB Harus Dimusnahkan

Abdullah Mahmud Hendropriyono. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

AM Hendropriyono menduga tujuan dari kelompok yang mengatasnamakan rakyat Papua untuk merdeka mengada-ada, karena mereka bertindak atas dasar kelompok sendiri. "Di situ (Papua) ada Gubernur putra daerah, yang memerintah putra daerah semua. Jadi (KKB) ini memang harus kita musnahkan," tegasnya.

Namun untuk memusnahkan, Hendro menambahkan, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Masyarakat Papua sangat dibutuhkan untuk ikut berpartisipasi. Jika tidak, bisa jadi sasaran selanjutnya adalah masyarakat Papua sendiri.

3 dari 4 halaman

Gunakan Hard Power

Sutiyoso. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Sementara mantan Kepala BIN Sutiyoso menjelaskan, jika masih ada segelintir orang anggota OPM yang enggan bergabung dengan NKRI. Karena itu perlu tindakan tegas.

"Kalau yang masih mau dengan cara-cara soft power ya Alhamdulillah kita terima, kalau tidak kita gunakan hard power," kata Sutiyoso.

Sutiyoso mengatakan selama ini anggota OPM menuntut disediakan fasilitas yang mendukung kelangsungan hidup mereka di timur Indonesia. Meski demikian, tuntutan itu pada dasarnya bukan menjadi persoalan karena sudah masuk dalam program pemerintah daerah setempat.

"Tuntutannya hanya sederhana saja, dia ingin dibikinkan rumah, memang itu sudah ada program di kabupaten situ. Dan itu enggak ada masalah," tandasnya.

4 dari 4 halaman

Teror Penembakan pada 2012 di Papua

Kepala Badan Intelejen Negara Marciano Norman. ©2013 Merdeka.com/m. luthfi rahman

OPM atau KKB juga pernah berulah pada 2012 dengan melakukan serangkaian teror penembakan. Mantan Kepala BIN Marciano Norman mengatakan bahwa aksi penembakan di Papua pada 2012 lalu bukan dilakukan oleh pihak asing, melainkan OPM. "Pihak asing, tidak. Dari mana kita bisa mengatakan itu. Pasti, ada OPM. Tapi, kalau dukungan moril dari kelompok-kelompok yang menginginkan Papua merdeka, pasti ada," katanya.

Menurut Marciano, jajarannya juga tidak kecolongan terkait aksi penembakan di beberapa tempat berbeda di Papua itu. Pernyataan yang menyebutkan BIN kecolongan adalah pernyataan yang ingin menyudutkan peran intelijen.

"Aparat intelijen itu kalau kita mau cari kurangnya pastinya ada, tapi kalau sampai tidak punya konsep, tidak punya koordinasi dengan baik itu tidak benar," tandasnya. [has]

Baca juga:
Empat Pekerja Selamat dari Pembunuhan KKB Dievakuasi ke Timika Papua
Ketua DPR Soal KBB Papua: Kita Desak PBB Masukkan Mereka Sebagai Organisasi Teroris
Wiranto Soal KKB Papua: Kita Kejar, Kita Habisi Mereka!
Anggota DPR Tolak Usul Peneliti LIPI Tunda Pemilu di Papua
Begini Peta Kekuatan KKB yang Bunuh Pekerja di Papua

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini