Penjelasan Kapolda Sumut terkait penjemputan wartawan di Medan

Rabu, 7 Maret 2018 19:30 Reporter : Yan Muhardiansyah
Penjelasan Kapolda Sumut terkait penjemputan wartawan di Medan Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw memberi penjelasan terkait dugaan penjemputan paksa wartawan online terkait pemberitaan yang mengkritik dirinya. Menurut jenderal bintang dua ini, salah seorang yang diamankan bukan jurnalis.

"(Dia) bukan jurnalis, itu guru. Statusnya tersangka karena ada beberapa berita yang dia buat terdapat unsur-unsur pencemaran nama baik, kemudian juga institusi dan juga hoax tidak benar," kata Paulus kepada wartawan, Rabu (7/3) sore.

Menurutnya, berita yang ditampilkan sangat tendensius, subjektif dan tidak didasari fakta. "Seakan-akan kita ini sudah hancur lebur institusi kita kacau-balau. Jadi biarlah mereka mempertanggungjawabakan perbuatannya," sebut Paulus.

Dia memaparkan salah satu alasan polisi bertindak, karena dalam tulisan itu disebutkan hubungannya dengan Mujianto. Padahal menurut Paulus, dia baru dua kali bertemu pengusaha itu. Yang pertama terjadi sekitar 7 bulan lalu.

"Dari mana dia tau kita ketemu? Saya sama Mujianto ketemuan di sini saat ada pengobatan katarak di Tebing Tinggi RS Polri, setelah itu ya kemarin saat kebakaran rumah anggota Brimob, ya mereka (Buddha Tzu Chi) bantu lah," jelas Paulus.

Mujianto (kiri) ©2018 Merdeka.com


Ditanya siapa yang melaporkan kasus pencemaran nama baik itu, Paulus menyatakan pelaporan di Ditreskrimsus Polda Sumut menggunakan laporan model A. "Jadi artinya oleh pihak kepolisian sendiri, penyidik yang melaporkan. Kalau saya tidak melapor," sebutnya.

Mantan Kapolda Papua ini menyatakan satu di antara dua orang yang diamankan sudah ditetapkan sebagai tersangka. "Tersangkanya satu, yaitu guru. Tanya Pak Dirreskrimsus lah. Nanti akan dirilis itu," ucapnya.

Sebelumnya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan bereaksi keras dengan dugaan penjemputan paksa dua wartawan itu. Mereka juga mengecam pemblokiran media online yang memuat berita itu.

Mujianto saat ditetapkan tersangka kasus penipuan ©2018 Merdeka.com

"Dengan ini kami Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan merasa sangat keberatan dengan cara-cara menjemput paksa jurnalis seperti tersebut di atas, yang sangat bertentangan dengan semangat kebebasan pers yang telah diatur dalam Pasal 8 UU Pers No. 40/1999 yang berbunyi dalam menjalankan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum," tulis Agoez Perdana, Ketua AJI Medan, dalam siaran pers yang diterima wartawan, Rabu (7/3).

Koordinator Divisi Advokasi AJI Medan Dewantoro mengatakan, Jon Roi Purba merupakan anggota AJI Medan. Dia pemilik media online sorotdaerah.com. "Kalau Lindung itu Pemred sekaligus wartawannya," imbuh Agoez Perdana. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Berita Hoax
  2. Polisi
  3. Wartawan
  4. Medan
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini