Pengacara ini akui peras Bupati Buton
Merdeka.com - Pengacara Arbab Paproeka akui memeras Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun, dengan mencatut nama bekas Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dalam kasus penanganan perkara Pilkada Buton yang disidangkan di Mahmakah Konstitusi 2011 Silam.
"ÂAkil maupun Samsu sama sekali tidak pernah bertemu. ÂSaya dengan Akil juga tidak pernah membicarakan mengenai Pilkada Buton," kata Arbab usai diperiksa KPK.
Upaya Arbab tersebut bermula ketika Pilkada Buton pada tahun 2011 diajukan ke MK. Setelah melalui persidangan, akhirnya MK memutuskan untuk melakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di seluruh TPS atas dasar KPUD tidak melalui proses verfikasi calon yang benar.
Setelah PSU digelar pada 19 Mei 2012, akhirnya pasangan Calon Samsu Umar Abdul Samiun dan La Bakri menjadi calon terpilih. Namun kemenangan tersebut juga digugat oleh Agus Feisal Hidayat - Yaudu Salam Adjo yang memenangkan pilkada pada putaran pertama.
"ÂBerangkat dari hal tersebut kemudian Arbab mencoba mengontak Pak Umar beberapa kali melalui saya," ujar salah satu asisten Umar Samiun.
"Namun Pak Umar menolak untuk menemui, sampai akhirnya Arbab mengontak langsung Pak Umar dan terjadi pertemuan Borobudur. Karena apabila tidak ditemui maka nasibnya akan seperti kotawaringin," lanjutnya.
Pertemuan di Borobudur merupakan inisiatif dari Arbab untuk membicarakan masalah Proses Pilkada Buton di MK.
"ÂAwalnya Arbab dan Pak Umar bertemu di Lounge, namun kemudian diajak ke sebuah tempat lain. Di tempat tersebut ternyata ada Pak Akil Mochtar bersama beberapa orang lain yang tidak saya kenal,Â" ujar dia.
Kesaksian serupa juga diungkapkan oleh Arbab terkait pertemuan di Hotel Borobudur bahwa dialah yang menemui Akil bukan Umar Samiun.
Arbab mengatakan, dalam perjumpaan yang tidak sengaja tersebut, Arbab sempat meminta agar mengurus sejumlah perkara. Arbab mengaku sudah berteman dengan Akil saat keduanya menjadi anggota Komisi III DPR RI.
Karena Akil sudah menjadi hakim MK, Arbab mengatakan secara bercanda meminta mengurus perkara. Percakapan tersebut, kata Arbab, terjadi enam bulan sebelum Akil ditangkap KPK.
"Pengacara kere lu. Setelah itu menjelang pulang, dia menyerahkan suatu kartu nama, dimana di kartu nama itu tertulis CV Ratu Samagat dan nomor rekeningnya," kata Arbab.
"Arbab Paproeka kemudian bertanya kepada Akil maksud dari kartu nama tersebut. Pertanyaan tersebut langsung dijawab Akil, masak aku harus mengajari itik berenang," tutur dia.
"Kemudian pada saat sengketa Pilkada itu (Buton), saya ingat dengan kata-kata beliau tadi saya memanfaatkan situasi itu sesungguhnya untuk mendapatkan uang dengan instrumen CV Ratu Samagat. Jadi saya yang berinisiatif untuk meminta uang kepada bupati Buton Umar Samiun," kata Arbab.
Akil tidak mengetahui dirinya mendekati Umar dan berusaha untuk menipu. Menurut Arbab, Akil dan Umar sama sekali tidak pernah bertemu dan Arbab dengan Akil tidak pernah membicarakan mengenai Pilkada Buton.
"Bagaimana Akil yang meminta, sedangkan uang itu saja dia tidak tahu. Saya tidak pernah menyampaikan ke Akil tentang pembicaraan saya dengan Umar menyangkut masalah uang itu," kata dia.
Kini kasus yang terjadi lima tahun lalu diproses oleh KPK, bersamaan dengan pencalonan kembali Umar Samiun sebagai Cabup Buton periode kedua pada Februari tahun depan. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya