Peneliti LIPI: Trans Papua Ancaman Terhadap Ekologi dan Sosial

Kamis, 18 Juli 2019 16:55 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Peneliti LIPI: Trans Papua Ancaman Terhadap Ekologi dan Sosial diskusi situasi Nduga Papua di kantor LBH. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Pamungkas menyoroti pembangunan jalan Trans Papua yang dampaknya tidak dirasakan masyarakat Papua. Menurutnya, pembangunan tersebut justru merusak ekologi.

"Semakin halus sebuah jalan di pegunungan tengah itu saya melihat semakin lancar penebangan kayu, jadi jalan itu melancarkan proses perusakan ekologi," kata Cahyo saat diskusi situasi Nduga, Papua di kantor LBH, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (18/7).

LIPI telah menyusuri pembangunan jalan tersebut. Contohnya di kilometer 25 arah Taman Lorentz, Papua, banyak kamp kayu hasil penebangan.

"Dan yakin proses penebangan hutan semakin ke atas, menurut saya itu secara hukum dilarang, karena taman lorentz termasuk kawasan hutan lindung, jadi saya tidak tahu ada izin terhadap masalah itu," ucapnya.

Selain merusak ekologi, pembangunan jalan itu menyebabkan masyarakat lokal terancam oleh keberadaan pendatang. Imbasnya pada persaingan ekonomi. Contohnya harga babi telinga layar yang tinggi dan tak dapat dibeli.

"Kemudian semakin halus jalan semakin banyak pendatang jadi jalan itu memunculkan perasaan terancam dari komoditas pendatang, dari komoditas yang dibawa pendatang, termasuk militer, dengan semakin halus jalan maka akan memudahkan pengiriman pasukan pasukan senjata dan ini kan masalah trauma," tuturnya.

Menurut tim pengkajian Papua itu, masyarakat Papua membutuhkan jalan untuk komunitas. Bukan jalan antar Kabupaten maupun antar kota. Dia mengatakan, jalan yang dibutuhkan adalah dari kampung menuju ibu kota distrik, atau jalan dari ibu kota distrik ke ibu kota kabupaten untuk mengurus KTP.

"Lah jalan dari Nduga sampai Wamena untuk apa, maka pertanyaannya jalan itu dibangun untuk siapa, sampe sekarang saya gak tau untuk siapa jalan itu dibangun, yang jelas itu bukan untuk orang asli Papua dan belum dapat dilihat efektivitasnya," ujarnya.

Dia berharap, Presiden Joko Widodo memperhatikan masalah ini. Cahyo tak ingin jalan trans Papua mengancam masyarakat bumi Cendrawasih.

"Mudah-mudahan bapak presiden juga mendengar, tidak semua jalan trans Papua itu ada manfaatnya untuk orang asli Papua, ada jalan jalan di pegunungan tengah itu yang justru menimbulkan keterancaman bagi orang asli Papua," imbuhnya. [noe]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini