Pembongkaran makam di Cilacap, antara kepercayaan mistis dan ketimpangan sosial

Sabtu, 13 Januari 2018 19:36 Reporter : Abdul Aziz
Pembongkaran makam di Cilacap, antara kepercayaan mistis dan ketimpangan sosial Makam bayi dibongkar di Cilacap. ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid

Merdeka.com - Kasus pembongkaran makam bayi disertai pencurian kain kafan dan tali pocong yang terjadi di Cilacap, Jumat (12/1) menguak mitos lama di kebudayaan Banyumas yang sudah ditinggalkan. Mitos itu terkait kepercayaan mistis mulai dari praktik gaib mencari pesugihan sampai kekuatan jimat pengusir setan.

Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari bercerita, kepercayaan terhadap hal-hal mistis di wilayah eks-karesidenan Banyumas dimana Cilacap termasuk di dalamnya, memang pernah tumbuh di kalangan masyarakat.

Dia mencontohkan, di masa silam ada orang yang percaya akan kekuatan jimat dari tulang bayi perempuan untuk pengusir setan. Ada pula kepercayaan terhadap tali pocong dan kain kafan perawan yang dipercaya bisa mendatangkan kekuatan bahkan pesugihan.

"Mitos semacam itu memang pernah hidup di Banyumas dan sekitarnya. Tapi itu buruk, tidak logis. Perlu ditinggalkan," kata Tohari penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, Sabtu (13/1) lewat sambungan telepon.

Baginya, daripada memaknai kasus pembongkaran makam dan pencurian tali pocong di TPU Mbeji Limbangan, Mertasinga, Cilacap Utara dalam kaitan mistis, kejadian itu menurutnya lebih tepat dimaknai sebagai fenomena ketimpangan sosial. Kemiskinan batin dan kemiskinan ekonomi, bisa jadi penyebab seseorang melakukan tindakan-tindakan di luar akal sehat.

Budayawan Banyumas Ahmad Tohari ©2018 Merdeka.com/abdul aziz


Kemiskinan dalam makna kesulitan ekonomi, memungkinkan bagi seseorang yang sudah gelap mata melakukan hal-hal gila. Umumnya lantas melakukan tindak mencuri, merampok, bahkan hal gaib seperti mencari jimat untuk pesugihan.

"Semacam jalan pintas untuk mengubah keadaan. Kasus ini menunjukkan kemiskinan dan ketimpangan sosial masih terjadi di sekitar kita. Ini harus jadi perhatian serius untuk semuanya, termasuk pemerintah," ujar Tohari.

Pembongkaran makam di TPU Mbeji sendiri, memang jadi perhatian banyak kalangan. Hilangnya tali pocong dan robekan kain kafan, dilakukan oleh orang tak dikenal tepat 40 hari usia pemakaman putri dari Tasiwan (42) warga cilacap utara.

Menurut keterangan Tasiwan yang ditemui merdeka.com pada Jum'at (12/1), warga sempat mendapati akyifitas mencurigakan. Dua hari sebelum pembongkaran makam, ada orang yang kerap memperhatikan makam putrinya saban menjelang maghrib.

Sampai hari ini, kasus misterius ini masih ditangani Polisi. Kepala Subbagian Humas Polres Cilacap, AKP Bintoro Wasono menjelaskan bahwa makam sudah diperiksa dan saksi-saksi sudah dimintai keterangan. [rnd]

Topik berita Terkait:
  1. Mitos
  2. Kuburan Dibongkar
  3. Cilacap
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini