Pelihara NKRI, tinggalkan kebiasaan buruk sebar kebencian di Medsos
Merdeka.com - Masyarakat diingatkan meninggalkan hal-hal buruk di tengah era kemajuan informasi teknologi seperti adu domba, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Jangan karena kepentingan satu kelompok bisa merusak kedamaian, kerukunan, kemajuan, dan keutuhan NKRI.
"Tinggalkan perilaku merusak seperti mengirim hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah di media sosial. Kita harus tinggalkan itu. Semua ini untuk memelihara NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila," ujar cendekiawan muslim Indonesia, Azyumardi Azra, Kamis (13/9).
Azyumardi menilai, perilaku seperti itu tidak hanya membahayakan moral anak bangsa, tapi bisa memecah belah keutuhan Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. "Ciptakan rasa saling menghargai satu sama lain terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada."
Dia juga menyoroti akhir-akhir ini pengertian hijrah banyak diplesetkan seiring konflik yang terjadi di Timur Tengah dan Asia Selatan. Menurutnya, dalam hal ini, pengertian hijrah dikaitkan dengan tiga konsep lain yang dianut kelompok neo khawarij. Pertama takfiri yaitu mengkafirkan muslim lain yang tidak sepaham. Misalnya kelompok tersebut punya gagasan mendirikan negara Islam atau kalau di Suriah dan Irak, ISIS ingin mendirikan khilafah, maka orang yang menolak pandangan itu dianggap kafir.
Kedua pengertian hijrah secara fisik yang mengartikan pindah dari negara muslim seperti Indonesia, ke Suriah atau Irak, dalam rangka mendukung ISIS. Menurut Azyumardi, ini jelas penyimpangan makna hijrah karena mendukung kelompok yang melakukan tindakan kekerasan, brutal, terorisme. Ketiga jihad yaitu memerangi orang yang tidak sepaham.
"Hijrah bukan pengertian seperti itu, kita harus kembali ke pengertian hijrah yang sebenarnya. Jadi kalau ada orang yang mengartikan hijrah itu pergi ke negeri di mana ada kelompok garis keras yang melakukan tindakan brutal dan tidak berperikemanusiaan, seperti ISIS, kaum muslimin harus waspada," tegasnya.
"Hijrah itu untuk tujuan perdamaian, kebaikan, perbaikan kehidupan," pungkas Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya