Pekanbaru Tenggelam Dalam Lautan Asap

Sabtu, 21 September 2019 04:32 Reporter : Abdullah Sani
Pekanbaru Tenggelam Dalam Lautan Asap Kabut Asap di Pekanbaru. ©2019 Merdeka.com/Abdullah Sani

Merdeka.com - Batik Air nomor penerbangan 6856 dari Jakarta harus berputar-putar di udara selama lebih kurang 30 menit, Jumat (20/9). Pilot pesawat Air Bus A320 itu enggan mengambil risiko mendaratkan si burung besi ke landasan pacu Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau saat jarak pandang kurang dari 600 meter.

Sehari sebelumnya, pesawat dari maskapai yang sama juga mengalami hal serupa. Bedanya, pada Kamis pagi kemarin, Batik Air harus berputar satu jam lamanya kala kabut asap pekat membuat jarak pandang hanya 500 meter.

Jarak pandang yang tak begitu menguntungkan bagi pilot untuk mendaratkan badan pesawat berisi ratusan penumpang itu.

Sejatinya, kabut asap Riau terjadi sejak Juli 2019 lalu. Namun hingga September kabut asap tak kunjung membaik, malah justru semakin membuat panik.

Sejumlah penerbangan harus terganggu setiap harinya. Sementara hingga hari ini lebih dari dua pekan lamanya pelajar dan mahasiswa harus diliburkan akibat asap pekat yang betah bertahan pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Warga pun membatasi aktivitas di luar ruangan, lantaran udara yang tidak sehat, dampak dari kebakaran hutan dan lahan. Elise Citrawati, ibu rumah tangga di Pekanbaru memilih untuk berdiam diri dalam kamar bersama anaknya. Sambil menunggu suami pulang bekerja, si ibu mengajak anaknya bermain, dengan memindahkan mainan anak dari ruang tengah ke kamar.

"Sudah hampir dua pekan saya lebih banyak di kamar. Habis masak, lalu makan di kamar sama anak. Apalagi saya sedang hamil anak kedua, kandungan 5 bulan, Setelah itu, main puzzle, dan mainan lainnya ya di kamar saja," kata Elise kepada wartawan.

Kondisi terbaik selalu dipilih orang tua demi kesehatan anak. Sebagian ibu lainnya, memilih posko kesehatan yang didirikan salah satu partai politik di Jalan Soekarno Hatta Pekanbaru. Ada yang hanya satu hari, ada juga sudah 7 hari menginap di posko berlantai 3 itu.

Sebagian warga bahkan mengambil pilihan untuk mengungsi ke luar Kota Pekanbaru. "Sudah sepekan lalu anak dan istri saya ungsikan ke kampung. Kalau saya biarlah di Pekanbaru, nyari uang untuk kehidupan keluarga kami," kata Anggi Ramadhoni, salah seorang warga Pekanbaru.

Petaka asap juga sampai merenggut nyawa bayi dari pasangan Evan dan Yani. Bayi yang baru berusia tiga hari tersebut meninggal akibat paparan asap kebakaran.

Bayi yang memiliki berat 2,8 kilogram itu meninggal saat dalam perjalanan menuju ke rumah Sakit Syafira Pekanbaru. Meski telah meninggal di tengah perjalanan, bayi itu sempat diperiksa dokter sesampainya di rumah sakit swasta besar di kota itu.

"Dokter bilang anak saya terdampak virus karena asap. Sesak napas," katanya serasa meneteskan air mata.

Kisah Evan juga dikhawatirkan oleh orang tua lainnya di Riau. Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyatakan hingga kini lebih dari 304.900 kasus infeksi saluran pernapasan akut ISPA tercatat di Bumi Lancang Kuning itu.

"Jumlah kasus kunjungan per Januari hingga September 2019 terdapat 304.900 kasus kunjungan," kata Kepala Dinas Kesehatan Riau Mimi Yuliani Nazir.

Mimi mengakui jika berdasarkan data statistik yang dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Riau, jumlah kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan untuk memeriksakan diri akibat terdampak ISPA terus meningkat.

Bahkan sepanjang September 2019, masyarakat yang mengunjungi layanan kesehatan akibat ISPA se-Riau mencapai 24.589 kunjungan.

Angka ini berpotensi terus meningkat mengingat kualitas udara di sejumlah wilayah di Riau berada pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya akibat jerebu (asap) Karhutla.

"Dilihat dari data statistik hari per hari terjadi peningkatan masyarakat ke pelayanan kesehatan untuk memeriksa kesehatan terkait ISPA," ujarnya.

Peningkatan jumlah masyarakat terdampak ISPA diakui Mimi berpengaruh pada ketersediaan obat-obatan. Meski begitu, dia mengklaim pasokan obat masih cukup. Dia juga menyatakan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menjaga pasokan obat tetap dalam keadaan aman.

Guna mengantisipasi jumlah penderita ISPA, Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga menyatakan telah menyebar sebanyak 1,5 juta masker ke masyarakat.

Angka itu berpotensi lebih banyak mengingat sejumlah Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota juga melakukan pengadaan dan pendistribusian masker secara mandiri kepada masyarakat.

Dia menjelaskan sebaran masker kepada masyarakat tersebut mulai meningkat sejak Juli 2019 lalu, atau kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai menyelimuti Bumi Lancang Kuning.

Permintaan masker juga semakin meningkat seiring kualitas udara di wilayah itu terus memburuk bahkan menyentuh level berbahaya. "Jadi masker itu memang laris manis dengan kondisi seperti ini," ujarnya.

1 dari 3 halaman

Gelombang Demo Mahasiswa

Sejak awal pekan ini, aksi demonstrasi hampir terjadi setiap hari di Pekanbaru. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang diliburkan akibat asap tak betah hanya duduk diam.

Mereka turun ke jalan menyasar gedung pemerintah provinsi Riau, Mapolda Riau hingga menduduki gedung legislatif DPRD Riau. Tujuan mereka satu, segera tuntaskan kasus kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, mahasiswa juga mendesak agar pimpinan penegak hukum, Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo dicopot dari jabatannya. Mahasiswa menilai tindakan tidak tegas dari polisi membuat kabut asap tak kunjung selesai, meski Polda Riau telah menangkap 53 peladang sebagai tersangka dan menjerat perusahaan sawit juga sebagai tersangka secara korporasi.

2 dari 3 halaman

Minim Perhatian Pemerintah Daerah

Awal pekan ini Presiden Joko Widodo mengunjungi Pekanbaru, dan sempat meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan di Desa Merbau Kecamatan Bunut Kabupaten Pelalawan, Riau.

Dalam kunjungan kerjanya itu, Jokowi meminta agar mengedepankan pencegahan. Jokowi menyebutkan, pemadaman api yang dilakukan tim gabungan merupakan pe‎kerjaan luar biasa.

"Kejadian (kebakaran hutan dan lahan) seperti yang kita lihat sekarang, sudah jadi kerjaan luar biasa," ujar Jokowi kepada sejumlah wartawan di lokasi.

‎Jokowi menegaskan, sebelum terjadi semestinya tim melakukan upaya pencegahan agar tidak menghadapi kebakaran lahan.

Jokowi menilai, langkah itu lebih efektif dan tidak membutuhkan biaya banyak. Karena jika kebakaran hutan sudah terjadi, makan tim akan sangat sulit untuk menanggulanginya.

Pemadaman akan memakan waktu dan tenaga karena mengerahkan banyak sumber daya seperti TNI, Polri, dan personel gabungan lainnya untuk memadamkan api.

"Saya tanya tadi TNI Polri disini, sudah lebih dari satu bulan (kebakaran lahan). Kalau sudah kejadian, sulit untuk memadamkannya," kata Jokowi.

Kedatangan Jokowi ke Pekanbaru, Riau justru menyibak cerita menarik. Wali Kota Pekanbaru, Firdaus MT justru tidak berada di tempat. Dia meninggalkan kota dan membiarkan rakyatnya menghirup asap kebakaran dengan dalih ke Kanada.

3 dari 3 halaman

Wali Kota Pekanbaru di Kanada hingga 21 September

Wali kota yang menjuluki dirinya visioner itu diagendakan ‎ikut dalam pertemuan sebagai delegasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada ASEAN Waste to Canada. Menurut pihak Pemko Pekanbaru, kehadiran Firdaus tidak bisa diwakilkan.

‎Saat Jokowi ke Pekanbaru, Firdaus tidak berada di tempat sebagai tuan rumah. Padahal kedatangan Jokowi untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di Riau serta bencana kabut asap yang melanda Pekanbaru.

Keberangkatan kepala daerah ke luar negeri bukan sekali ini saja. Sebelumnya Gubernur Riau Syamsuar juga berangkat ke Thailand untuk sebuah kegiatan selama 3 hari sejak 10 hingga 13 September.

Namun Syamsuar kini sudah berada di Pekanbaru. Sementara Firdaus masih berada di negara bagian di Kanada.

Di luar itu semua, yang jelas masyarakat Riau sangat mendambakan agar masalah kabut asap segera teratasi. Jokowi juga mengatakan telah mengambil sejumlah langkah dan tindakan.

Langkah yang dilakukan antara lain melakukan water bombing di lokasi karhutla dengan mengerahkan 52 pesawat. Cara lainnya, membuat hujan buatan di sekitar lokasi kebakaran.

"Sudah diterbangkan dan Alhamdulillah saat itu di Indragiri Hilir juga hujan turun. Ini sekarang kita lakukan lagi menabur garam," ungkap Jokowi.

Jokowi berharap upaya-upaya itu bisa mengurangi titik api. Namun agar tak menjadi sia-sia, katanya, di tengah langkah tersebut sangat diharapkan tidak ada lagi pihak melakukan pembakaran lahan gambut maupun hutan yang dapat menyebabkan bencana kebakaran hutan dan lahan semakin meluas.

Dia juga memerintah penegak hukum bersikap tegas pada pelaku pembakaran hutan dan lain baik dari kalangan korporasi maupun individu.

"Upaya hukum sudah kita lakukan. Baik yang perorangan baik korporasi semuanya sudah ada tindakan tegas ke sana," kata Jokowi. [cob]

Baca juga:
Sumut Siapkan Layanan Kesehatan Bagi Warga Riau yang Mengungsi karena Asap
Padamkan Karhutla, Hujan Buatan Berhasil Diturunkan di Merbau dan Rokan Hulu
Warga Pekanbaru Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Membakar Hutan
Kabut Asap di Pekanbaru, Pesawat Batik Air Tak Berani Mendarat
Kabut Asap, Pemkot Pekanbaru Izinkan PNS Hamil Bekerja dari Rumah
Udara di Pekanbaru Masih Berbahaya, Libur Sekolah Diperpanjang

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini