Pecahkan Rekor MURI dengan 1.500 Peserta, Festival Keceran Tjimande Jadi Media Pendidikan Karakter Anak

Gubernur Banten Andra Soni tegaskan Festival Keceran Tjimande bukan hanya seni bela diri, tapi juga sarana pendidikan karakter. Simak bagaimana tradisi ini mencetak generasi muda berkarakter!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pecahkan Rekor MURI dengan 1.500 Peserta, Festival Keceran Tjimande Jadi Media Pendidikan Karakter Anak
Gubernur Banten Andra Soni tegaskan Festival Keceran Tjimande bukan hanya seni bela diri, tapi juga sarana pendidikan karakter. Simak bagaimana tradisi ini mencetak generasi muda berkarakter! (Merdeka.com)

Kota Serang menjadi saksi bisu sebuah perhelatan budaya yang memukau, Festival Keceran Tjimande, pada Sabtu (20/9) lalu. Acara ini berhasil mencetak rekor MURI dengan penampilan kolosal Golempangan yang melibatkan 1.500 peserta anak usia sekolah. Gubernur Banten Andra Soni hadir langsung untuk menyaksikan momen bersejarah ini.

Festival ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan seni bela diri, melainkan sebuah platform penting. Andra Soni menekankan bahwa tradisi sakral silat Banten ini berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter yang kuat. Tujuannya adalah menanamkan nilai moral, spiritual, dan kebersamaan sejak dini.

Dengan melibatkan ribuan generasi muda, Festival Keceran Tjimande menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga jati diri bangsa. Ini juga sekaligus mengokohkan rasa persaudaraan serta mempererat silaturahmi antarwarga di Banten.

Membangun Karakter Generasi Muda Melalui Tradisi Keceran Tjimande

Gubernur Banten Andra Soni secara tegas menyatakan bahwa tradisi Keceran Tjimande memiliki peran vital dalam pembentukan karakter anak-anak. Menurutnya, seni bela diri ini melampaui gerakan fisik semata, menjadi wadah penanaman nilai-nilai luhur. “Salah satunya adalah tradisi Keceran Tjimande sebagai tradisi sakral silat Banten yang tidak hanya menjadi seni bela diri, tetapi juga sarana pendidikan karakter, penanaman nilai moral, spiritual, dan kebersamaan,” kata Andra Soni.

Pelestarian seni dan tradisi lokal, seperti Festival Keceran Tjimande, harus berjalan seiring dengan upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Tradisi ini diyakini mampu menanamkan disiplin sejak usia dini. Selain itu, ia juga memperkuat rasa kebersamaan di antara para peserta dan masyarakat luas.

Keberhasilan Festival Keceran dan Pentas Seni Budaya Kesti TTKKDH dalam mengumpulkan ribuan anak sekolah menjadi bukti nyata. Ini menunjukkan dedikasi dalam menjaga identitas budaya. Hal ini juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat Banten yang majemuk.

Pencak Silat: Warisan Dunia dan Tanggung Jawab Banten

Pencak silat, sebagai warisan leluhur Banten, telah mendapatkan pengakuan dunia internasional. UNESCO secara resmi mengakui pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2019. Pengakuan ini membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi Provinsi Banten.

Tanggung jawab tersebut meliputi upaya untuk terus menjaga dan mengembangkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni bela diri ini. Andra Soni menegaskan, “Hal itu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab kita bersama untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya.” Pelestarian ini penting agar nilai-nilai tersebut tetap relevan bagi generasi mendatang.

Untuk mendukung upaya pelestarian ini, Pemerintah Provinsi Banten telah memiliki landasan hukum yang kuat. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah mengatur secara komprehensif. Perda ini mencakup perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan sebagai modal sosial dan ekonomi daerah.

Komitmen Kesti TTKKDH dalam Memperluas Jangkauan Seni Silat Banten

Ketua Umum DPP Kesti TTKKDH, Wahyu Nurjamil, menyatakan komitmen organisasinya untuk terus memperluas kiprah seni silat Banten. Kesti TTKKDH bertekad untuk membawa seni bela diri ini ke kancah yang lebih luas. Tujuannya tidak hanya terbatas pada tingkat nasional saja.

“Ke depan, kita akan terus membesarkan organisasi ini, tidak hanya pada tingkat nasional tetapi juga internasional,” pungkas Wahyu Nurjamil. Pernyataan ini menunjukkan ambisi besar untuk memperkenalkan keunikan dan kekayaan pencak silat Tjimande ke seluruh dunia.

Festival Keceran Tjimande dan kegiatan serupa yang diselenggarakan oleh Kesti TTKKDH menjadi jembatan. Ini adalah jembatan untuk menjaga tradisi, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya Banten kepada masyarakat global. Dengan demikian, warisan budaya ini dapat terus hidup dan berkembang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi