Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pecahkan rekor dunia, Kunto Drummer malah berutang ratusan juta

Pecahkan rekor dunia, Kunto Drummer malah berutang ratusan juta Kunto Hartono. ©kapanlagi.com

Merdeka.com - Mengharumkan nama bangsa dengan memecahkan rekor dunia dengan memainkan drum selama 122 jam 25 menit, atau 6 hari 6 malam di Kota Malang pada akhir 2011 lalu, Kunto Hartono kini harus menanggung utang ratusan juta rupiah. Dia pun mengharapkan bantuan dari berbagai pihak.

Kunto Hartono yang dijuluki si Drummer Sakti akhirnya menerima sertifikat rekor dunia yang kedua dari pihak Guinness World Records (GWR) pada 10 Mei 2013 lalu. Aksinya memainkan drum di Balai Kota Malang dari 27 Desember 2011 sampai 1 Januari 2012 lalu dicatat sebagai: 'The Longest Drumming Marathon Guinness World Records'.

Pria berambut gondrong itu sebelumnya menerima penghargaan rekor dunia dalam kategori yang sama ketika memainkan drum selama 74 jam pada tanggal 29 Desember 2003 - 1 Januari 2004 di Plaza Sumantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta.

Meski begitu, Kunto pernah gagal ketika mencoba memecahkan rekor dunia GWR yang kedua pada jam ke-82 dari target 135 jam, yang dilakukan Kunto pada tanggal 26-30 Juni 2010 di Kapas Krampung Plaza, Surabaya, karena listrik mati.

Dalam perbincangan dengan merdeka.com, Selasa (29/10), Kunto menuturkan, selain persiapan fisik, biaya yang besar juga harus dikeluarkan. Dalam aksi terakhirnya, Kunto mengaku dibantu oleh mantan Wali Kota Malang, Peni Suparto, dengan dana sebesar Rp 600 juta.

"Saat perhelatan itu dana yang dibutuhkan nyaris tembus Rp 1 miliar," kata Kunto.

Bahkan setelah pemecahan rekor itu, Kunto juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengurus sertifikat dari pihak Guinness World Record. Dia harus mengumpulkan dan selanjutnya mengirim bukti-bukti pelaksanaan pemecahan rekor saat itu ke pihak GWR melalui KBRI London.

Tak sedikit bukti yang dikumpulkan, antara lain berupa 93 kaset rekaman video, kliping berita dari media cetak, elektronik dan online, rekap medis kesehatan diri Kunto dari awal hingga akhir pemecahan rekor dunia berlangsung serta tanda tangan dari saksi independen.

"Banyak Mas, prosesnya hampir selama 1,5 tahun sebelum sertifikatnya keluar," ujarnya.

Menurut pria kelahiran Banyuwangi ini, terhitung sudah Rp 240 juta harus dikeluarkan untuk mewujudkan pengakuan dunia berupa sertifikat GWR sampai ada di tangannya pada 10 Mei 2013. "Apapun saya lakukan, hingga dana persiapan anak kuliah dan tabungan istri serta pinjam sana sini," kata Kunto.

Setelah sertifikat rekor dunianya keluar, Kunto kini mengaku kesulitan melunasi utangnya. "Sebagian besar utang ke teman-teman dekat. Sebenarnya mereka enggak nagih, cuma hatiku enggak enak sendiri," ujar pria yang bermukim di Surabaya ini.

Berbagai cara dilakukan Kunto agar berbagai pihak bisa membantunya, terutama pihak pemerintah. Sebab, bagaimanapun juga, aksi pemecahan rekor yang dilakukannya telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Kunto pun mengirimkan surat untuk minta bantuan ke Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Pemerintah Kota Surabaya tidak ada tanggapan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur hanya memberi Rp 5 juta. Kementerian Pemuda dan Olahraga tidak bisa membantu dengan alasan hal ini merupakan tupoksi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sedangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sampai saat ini juga tidak ada tanggapan juga," pungkasnya. (mdk/bal)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP