Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pecah piring, hancurkan dulu baru susun kembali

Pecah piring, hancurkan dulu baru susun kembali Permainan Pecah Piring. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Permainan ini boleh jadi ada di seluruh daerah di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Anak-anak di Medan menyebutnya dengan "pecah piring".

Meski namanya pecah piring, bukan berarti para pemainnya memecahkan pinggan. Memang ada yang dihancurkan, yaitu susunan benda kecil tipis, semisal pecahan tempurung kelapa, keramik lantai, asbes, tutup botol, atau yang lainnya. Itu yang akan kita sebut sebagai "piring".

Jumlah kepingan "piring" yang digunakan dalam permainan ini bergantung kesepakatan. Banyaknya menentukan ketinggian susunan.

Umumnya benda-benda yang menjadi "piring" ini gampang didapat. Namun harus ada satu benda lainnya, yaitu bola. Jika tidak bola kasti atau bola tenis, boleh juga memakai bahan lebih mudah didapat, seperti kantong plastik yang digumpalkan dan diikat karet gelang hingga membentuk bola.

"Waktu kami kecil, bola dari plastik itu lebih disukai karena tidak sakit jika menghantam badan. Lagipula mudah didapat," ucap Emma (40), warga Medan.

Peserta dari permainan sederhana ini dibagi dalam dua bagian. Setelah diundi, akan ada kelompok pemecah susunan "piring". Lainnya akan menjadi kelompok yang berjaga.

Anggota kelompok pemecah bergantian melemparkan "bola" ke arah susunan "piring" dari garis batas yang ditentukan. Bila tak ada yang berhasil memecahnya, giliran kelompok lain yang menjadi pemecah.

Jika susunan berhasil dipecahkan, kelompok pemecah akan berusaha menyusunnya kembali untuk memenangkan permainan. Tapi itu bukan hal yang mudah, karena setelah "piring" berantakan, bola menjadi hak kelompok bertahan. Mereka akan berusaha melempar anggota kelompok lawan yang tengah berusaha menyusun kembali "piring".

Jika anggota kelompok pemecah terkena bola, posisi berganti. Tim bertahan menjadi kelompok yang berhak menyusun "piring", meskipun hanya tersisa 1 kepingan yang belum tersusun. "Yang berhasil menyusun kembali semua pecahan itu kembali seperti semula akan memenangkan permainan," jelas Emma.

Untuk permainan ini diperlukan kecepatan dan kegesitan guna menghindari bola, kerja sama tim, juga kejujuran. "Kadang ada yang curang juga, dia menyembunyikan kepingan supaya tidak lengkap waktu disusun kembali," cerita Emma.

Pecah piring hanya satu dari sekian banyak permainan tradisional yang semakin ditinggalkan. Seiring perkembangan teknologi, banyak anak zaman sekarang lebih memilih bermain game di gadget canggih.

(mdk/ren)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP