Pasar takjil Mappanyukki, tertua & terlengkap favorit warga Makassar
Merdeka.com - Pasar takjil Mappanyukki di jl Mappanyukki, Kecamatan Mariso, Makassar mungkin mereka yang tidak mengenalnya bisa dihitung jari. Betapa tidak, aktivitas pasar takjil yang dikelola kelompok majelis taklim Mappanyukki pimpinan Haji Ande Latif, salah seorang pengusaha travel haji dan umroh di Makassar ini sudah dijalankan sejak tahun 1999 lalu.
Dari tahun ke tahun, pasar takjil ini menjadi incaran warga. Tak pelak, arus lalu lintas pun jadi melambat karena badan jalan lebih banyak dipenuhi pengunjung pasar yang tengah bertransaksi sebelum tiba bedug maghrib sebagai tanda telah masuk waktu berbuka buasa dan menikmati takjil yang baru saja dibeli.
Ada 54 penjual kue dibantu beberapa orang berderet menjajakan takjil bahkan makanan yang siap disantap untuk makan malam dan sahur. 24 orang di antaranya adalah anggota atau pengurus majelis taklim Mappanyuki dan 30 orang lainnya adalah warga umum bukan anggota majelis taklim yang diberi kesempatan untuk bersama-sama mengais rejeki di bulan Ramadan.
Amilin, salah seorang pengurus majelis taklim Mappanyukki yang ditemui, Jumat petang, (2/7) di sela-sela keramaian pasar yang hanya ada di bulan Ramadan ini mengatakan, mereka yang bukan bagian dari majelis taklim dibebankan biaya sewa tenda dan lapak atau meja tempat menjajakan takjil atau makanan sebesar Rp 50 ribu per hari atau Rp 1,5 juta selama sebulan. Adapun harga takjil dan makanannya rata-rata Rp 5.000 ke atas tiap bungkus atau per gelas.
"Ini kira-kira panjangnya kurang lebih 1 kilometer, kita yang siapkan tenda-tenda dan meja-mejanya. Sudah dibuka sejak tahun 1999 lalu berarti sudah 18 tahun," kata Amilin.
Disebutkan, awalnya yang menjual di sepanjang jalan yang kini tepat berada di belakang wisma Kalla adalah anggota majelis taklim saja. Karena animo masyarakat kian tahun kian tinggi ditandai dengan makin padatnya warga mengunjungi pasar takjil ini, akhirnya pengurus majelis taklim memberi ruang bagi warga di luar majelis taklim untuk ikut berjualan.
Adapun Karaeng Balang, (66), salah seorang anggota majelis taklim yang ditemui di pasar takjil Mappanyukki ini mengatakan, dia sebenarnya seorang dosen tapi senang ikut berjualan takjil. Kata dia, menjualnya itu sejak awal yakni sejak tahun 1999 lalu, di saat belum terbuka pasar takjil lain di Makassar.
"Ini pasar takjil tertua di Makassar. Nanti setelah beberapa tahun kemudian, satu persatu mulai terbuka pasar takjil lain di sudut-sudut kota," tutur Karaeng Balang.

Namun, lanjut Karaeng Balang, meski sudah ada saingan, pengunjung pasar takjil Mappanyukki ini masih selalui ramai. Kata Karaeng Balang, mungkin karena jajanan takjil yang ditawarkan itu beragam, bukan hanya takjil atau penganan tradisional karena juga ada yang sudah sedikit modern seperti salad buah dll. Bahkan, takjil tidak sendiri karena lauk dan sayur juga dijual untuk disantap saat makan malam dan sahur seperti ikan bakar, tempe serundeng, telur balado, pepes ikan, ayam goreng dan bakar, ikan teri goreng, kari ayam. Dan sayurnya beragam seperti paria kambu, sayur daun singkong, hingga gudek sayur khas Yogyakarta.
Takjil tradisionalnya seperti klepon, pisang ijo, putri mandi, kue lapis, jalang kote atau pastel, barongko, panada, bakwan udang, bandang lojo dan kue putu mayang yang bahan dasarnya parutan kasar singkong yang dikukus, ditaburi parutan kelapa dan disiram gula merah cair.
"Ada 8 jenis takjil dan makanan saya jual dan semuanya saya bikin sendiri. Rata-rata dalam sehari pendapatan masuk Rp 1,5 juta," tutur Karaeng Balang.
Yang paling diandalkannya adalah kue barongko. Menurutnya, barongko yang merupakan kesukaan Arung Palakka, tokoh pejuang asal Sulsel di zaman penjajahan Belanda buatannya ini dijamin asli. Bahan dasarnya adalah pisang kepok yang dihaluskan menjadi sebuah adonan yang dicampur dengan telur, kemudian dikukus setelah dibungkus dengan daun pisang.
Komposisinya, satu sisir pisang gunakan 10 telur ditambah susu bubuk dan irisan nangka, menghasilkan 30 bungkus barongko. Dijual dengan harga Rp 5.000 per bungkus. Kata Karaeng Balang, kue barongkonya ini yang paling laris jika tiba musim pasar takjil. Dia juga tidak mau main-main, cita rasanya dipertahankan agar senantiasa mendapat kepercayaan konsumen. Olehnya, di luar Ramadan, dia kerap mendapat order kue barongko dari pembeli yang menyukai barongko buatannya.
Lagi pula, tambah Karaeng Balang, setiap kue dan makanan di pasar ini sebelumnya di tes. Karena salah satu persyaratan bagi mereka yang mau berjualan bahwa takjil dan makanan yang dijual harus asli, tidak boleh menggunakan pemanis, harus dengan pewarna makanan.
Hal senada disampaikan Iyan, (43), salah seorang penjual takjil yang bukan dari kelompok anggota majelis taklim Mappanyukki. Kata dia, jualan mereka dites dulu oleh tim dari Dinas Kesehatan. Jika dinilai tidak layak, maka takjil atau makanan yang ditemukan tidak layak itu harus disingkirkan, tidak boleh dijual.
"Pisang ijo saya menggunakan pewarna alami yakni daun pandang. Banyak yang suka," tutur Iyan. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya