Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Panglima TNI Minta Prajurit Tingkatkan Kemampuan Bertempur di Era Revolusi 4.0

Panglima TNI Minta Prajurit Tingkatkan Kemampuan Bertempur di Era Revolusi 4.0 Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto di Malang. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto meminta Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) senantiasa meningkatkan kemampuan dan kemahiran bertempur dalam menjalankan berbagai misi. Baik dalam konteks operasi militer dalam perang maupun operasi militer selain perang.

Apalagi dunia dihadapkan pada perkembangan bidang militer dan pertahanan dalam era revolusi 4.0. Prajurit harus menyesuaikan doktrin pertempuran dan kemampuan tempur dalam perkembangan teknologi dan cara bertempur musuh.

"Spektrum ancaman tidak lagi sederhana, semakin mudah musuh memanfaatkan teknologi, kita tidak boleh tertinggal dan harus selalu unggul dibandingkan lawan," kata Hadi saat Apel Kesiapsiagaan PPRC di Lanud Abdurachman Saleh Malang, Jumat (3/5).

Apel diikuti 5.025 personel pasukan dengan melibatkan alutsista berupa tank Leopard, roket Astros, pesawat Sukhoi 27/30, Cassa 212, Supertucano dan Hercules.

Panglima Hadi didampingi dengan Panglima Divisi Infantri (Pangdivif) 2 Kostrad, Mayjend TNI Tri Yuniarto melakukan pengecekan pasukan dengan mengendarai jeep. Usai apel, keduanya juga melakukan pengecekan personel pasukan di setiap barisan.

"Sebagai satuan reaksi cepat, PPRC dituntut mampu melakukan reaksi cepat terhadap berbagai ancaman nyata, dalam rangka menangkal, menindak awal dan menghancurkan kekuatan musuh yang mengancam NKRI," tuturnya.

Panglima juga mengingatkan, bangsa Indonesia baru saja menjalani pencoblosan suara sebagai salah satu tahapan Pemilu 2019. Hadi mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang merupakan tugas dan tanggung jawab, sekaligus kewajiban semua sebagai bangsa Indonesia.

"Di dalam pelaksanaan pesta demokrasi ini adalah memberikan perbantuan kepada KPU dan Polri guna menjamin agar rangkaian tahapan Pemilu 2019 ini berjalan aman, lancar dan damai," tegasnya.

"Selain itu kita juga mendorong rakyat untuk dewasa dalam berpolitik, pilihan yang berbeda tidak boleh membuat kita saling bermusuhan. Bhineka Tunggal Eka tidak boleh goyah. Kita tidak ingin pelaksanaan demokrasi kita justru mundur, perpecahan," sambungnya.

Hadi menegaskan bahwa TNI tetap pada komitmennya untuk menjaga netralitasnya. Namun dalam setiap pengamanan Pemilu, TNI selalu menyiapkan kesiapsiagaan, melakukan deteksi dan cegah dini, terhadap tindakan inkonstitusional yang berpotensi menjadi ancaman persatuan dan kesatuan bangsa.

"Bersama seluruh masyarakat dan komponen bangsa, mari kita menjaga jalannya pesta demokrasi ini agar damai, aman dan lancar. Sehingga terwujud stabilitas keamanan nasional dan ketertiban serta ketentraman di dalam masyarakat," ungkapnya.

TNI harus mewaspadai potensi ancaman asimetris dalam bentuk terorisme, sparatisme dan aksi bersenjata lainnya yang berpotensi mengganggu kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan segenap bangsa Indonesia. TNI harus mencermati meningkatnya kerawanan khususnya di wilayah perbatasan yang berpotensi menjadi ancaman terhadap kedaulatan negara.

Usai apel Panglima TNI menegaskan, apel kesiapsiagaan dimaksudkan apabila diperlukan sewaktu-waktu digelar di seluruh wilayah NKRI dalam kondisi siap.

"Sehingga kita bisa menilai bahwa TNI kita kuat untuk menghadapi kemungkinan ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar," pungkasnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP