Paceklik koran, agen tidur-tiduran loper kebingungan
Merdeka.com - Merosotnya pendapatan iklan disebut-sebut sebagai biang kerok yang memicu beberapa media cetak gulung tikar, termasuk Sinar Harapan yang mengumumkan berhenti terbit awal 2016.
Di akar rumput, lesunya iklan di koran terendus sejak dua tahun terakhir. Salah satu yang merasakannya adalah Dea Agen, Biro Jasa iklan ke media massa berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
"Sejak ada media online, omzet iklan jadi menurun," kata Memey (46) pemilik Dea Agency kepada merdeka.com saat ditemui di kantornya, Jumat (13/11).
Memey meyakini situasi memburuk agak parah tahun ini. Selama 15 tahun melakoni bisnis biro iklan, baru kali ini dia merasakan fenomena sepinya pengiklan. Padahal saban akhir pekan, dia biasanya menerima panen order iklan kepada tiga pemain besar seperti Pos Kota, Kompas, atau Tempo.
"Sekarang kita bisa tidur-tiduran deh kalau hari Jumat," ungkapnya.
Biro Iklan pun kini siap-siap banting setir melirik usaha lainnya. Dia menilai pengiklan telah melirik format lain, terutama online, untuk memajang pariwara.
"Saat ini yang langganan sama kita ya itu cuma showroom motor, mobil,dan penjual rumah diiklankan di Pos Kota sama Kompas," kata Memey.
Omzet anjlok, rugikan loper akar rumput
Yahya (56), loper koran biasa mangkal di Kemanggisan, Jakarta Barat, turut pusing karena omzet terjun bebas. Selama empat tahun sejak mulai membangun kios sendiri, baru tahun ini dia merasakan omset yang menurun.
Dia melihat Pos Kota dan Koran Tempo yang terhitung paling anjlok. "Dulu kayak Tempo dan Pos Kota masing-masing sehari bisa laku 12 eksemplar. Sekarang paling laku enam (eksemplar) juga enggak nyampe," kata Yahya. Selain koran, Yahya kini menjajakan mainan untuk menambah penghasilan.
Dari penjelasan SPS, satu dasawarsa terakhir saat bisnis media online di Indonesia perlahan meningkat, ada senjata rahasia bagi media cetak terus bertahan. Tentu rahasia itu bukan omzet penjualan atau angka langganan. Bila bicara pembaca, penetrasi surat kabar di Jawa pada 2014 sedang meyusut jadi 11 persen dari 15 persen setahun sebelumnya. Ini adalah tren negatif berturut-turut selama empat tahun.

Rahasia media cetak selama ini adalah pendapatan iklan yang lebih tinggi dibanding kompatriotnya yang berbasis Internet.
Untuk kota-kota besar di Jawa, iklan merupakan insentif utama yang menggerakkan bisnis media cetak. Sebut saja PT Tempo Inti Media Tbk yang pada 2014 meraih Rp 119,3 miliar dari iklan, berkat Majalah Tempo dan Koran Tempo. Angka yang fantastis, mengingat taipan Rupert Murdoch sempat meramal bisnis koran di seluruh dunia akan mati pada 2020.
Namun, Lembaga Riset PT Nielsen Indonesia menilai perolehan iklan media cetak tahun lalu lebih banyak terdongkrak pemilihan presiden. Terbukti sepanjang Januari-Juni tahun ini, media cetak hanya meraup 28,2 persen kue iklan nasional, setara Rp 16,12 triliun.
Angka ini merosot 8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dan perolehan Rp 16,1 triliun itu masih harus dibagi 567 media di seluruh Indonesia.
Memey, abai pada angka-angka itu, memilih menyekat ruangan biro iklannya menjadi dua. Ruangan 6X3 itu separuhnya dia sewakan untuk bisnis warung makan khas tegal.
"Kalau mengandalkan biro iklan, kita mau makan pakai apa. Sekarang semua orang ngandelin online bukan cetak," kata Memey. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya