Netty Heryawan janji kawal kasus kematian anak SD di Kabupaten Bandung

Selasa, 28 November 2017 03:04 Reporter : Andrian Salam Wiyono
Netty Heryawan janji kawal kasus kematian anak SD di Kabupaten Bandung Ilustrasi Penganiayaan. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Perkelahian antar bocah SD di Kabupaten Bandung yang menyebabkan kematian mendapat perhatian dari Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan anak (P2TPA). Ketua P2TP2A Jawa Barat, Netty Prasetyani, mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memberikan pendampingan psikologis pelaku.

"Kami sudah berkoordinasi kepada P2TPA Kabupaten Bandung untuk ikut mendampingi aspek psikologisnya," ujarnya saat ditemui di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (27/11).

Terkait aspek hukum, Netty mengaku menyerahkan kepada penegak hukum. Namun, penanganannya harus sesuai UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Selain itu, kejaksaan juga harus menghadirkan sebuah sistem peradilan yang ramah anak.‎

"UU SPPA mengatur harus menghadirkan ruang, petugas penyidik, hakim atau jaksa, yang sudah mendapatkan pelatihan, memiliki perspektip kepada anak, sehingga tidak ada seragam, sorotan kamera, tidak ada pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan seperti kepada pelaku dewasa," katanya.

"Ini harus dipahami oleh penegak hukum karena sejak di UU Kan tahun 2012 menunggu implementasi, kita sudah siap, baik di kepolisian maupun di kejaksaan dan pengadilan," lanjut dia.

Lebih jauh, isteri dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan itu menyatakan, peristiwa yang terjadi di Kabupaten Bandung merupakan cambuk bagi pemerintah. Keberadaan sekolah ramah anak harus segera dilakukan. Ini bukan hanya menyasar SLTA, SMK Negeri yang menjadi kewenangan provinsi.

Implementasi Permendikbud nomor 85 tahun 2015 harus diterapkan ke semua jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA dan MA.‎ "Semua harus menggunakan konsep selolah ramah anak. Sekolah yang ramah, pembelajaran yang ramah, mulai dilakukan di rumah, karena kita tidak menutup mata kekerasan itu masih terjadi, entah dari guru atau pendidik kepada siswa, bahkan antar siswa," tegasnya.

Hal ini memerlukan perhatian dan tanggung jawab semua pihak, bukan hanya pihak sekolah atau pengawas sekolah tetapi juga orangtua murid bisa turut mengambil peran yang benar dan tepat.

"Kalau kita lihat dari kekerasan yang terjadi, dari ranahnya, pelakunya, kasusnya sangat beragam, oleh karena itulah kasus ini bagi kita semua harus menyegerakan implementasi sekolah ramah anak, sekolah sehat dan sekolah lingkungan. Tapi, sekolah dengan basis ini hampir jarang, masih sedikit," terangnya.

Sebelumnya diberitakan, ‎Seorang siswa SD bernama Andika Maulana (11) tewas berkelahi dengan bocah lain berinisial AR, di Kampung Cibaribis RT 01/18 Desa Mekarjaya Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung, Sabtu (25/11).‎ Kronologis peristiwa itu terjadi saat keduanya akan bermain bola di lapang belakang sekolah SMK PGRI di wilayah kampung tersebut. Keduanya bertemu dan tiba-tiba ada ajakan berkelahi dari AR pada korban.

Menanggapi pertanyaan itu, korban memang pasif. Akan tetapi pernyataan korban dibalas dengan pukulan ke arah ulu hati kemudian menendang ke arah kemaluan. AR yang berstatus tersangka pun memukul ke arah ulu hati kembali hingga korban pun jatuh tersungkur. Dalam keadaan jatuh, penganiayaan dilanjutkan dengan menekan dada menggunakan lutut kanan. Setelah itu, pukulan kembali datang menuju leher dan hidung korban. [lia]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini