Nelayan Aceh Kurir 55 Kg Sabu dan 10.000 Ekstasi Divonis Hukuman Mati

Rabu, 11 September 2019 16:40 Reporter : Yan Muhardiansyah
Nelayan Aceh Kurir 55 Kg Sabu dan 10.000 Ekstasi Divonis Hukuman Mati Sidang kurir sabu di PN Medan. ©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Seorang nelayan asal Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh, Hendri Yosa alias Hendri (30), dijatuhi hukuman mati di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (11/9). Hukuman maksimal itu dijatuhkan majelis hakim karena terbukti bersalah menjadi kurir 55 Kg sabu-sabu dan 10.000 butir pil ekstasi.

Hukuman mati dijatuhkan majelis hakim yang diketuai Dominggus Silaban. Majelis sepakat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Henny Meirita dan menyatakan Hendri telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman dengan berat lebih dari 5 gram.

Perbuatan itu diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, sesuai dakwaan primer.

"Menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa Hendri Yosa alias Hendri dengan pidana mati," kata Dominggus.

Putusan majelis hakim sama dengan tuntutan jaksa yang dibacakan bulan lalu. Sebelum menutup persidangan, majelis memberi kesempatan kepada terdakwa dan JPU untuk menentukan sikapnya atas putusan itu dalam waktu sepekan ke depan.

"Anda bisa terima lalu minta grasi atau Anda bisa banding, kami beri kesempatan seminggu, begitu juga dengan JPU," kata Dominggus.

Hendri tak berkomentar saat ditanya tentang vonis hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya. Dia hanya diam saat dibawa ke ruang tahanan sementara PN Medan.

Sementara penasihat hukumnya, Evaria Ginting, menyatakan pihak belum bisa menentukan sikap atas putusan itu. "Saya masih harus konsultasi dengan pihak keluarga," ucapnya.

Dalam perkara ini, Hendri ditangkap petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut di SPBU AKR, pinggir Jalan lintas Medan-Banda Aceh, Besitang, Langkat, Sumut, Selasa ( 19/2), sekitar pukul 00.30 Wib. Saat itu dia tengah berada di bus yang membawanya dari Aceh menuju Medan.

Berdasarkan dakwaan, Hendri merupakan suruhan ADI (belum tertangkap). Dia diperintahkan mengambil 5 tas berisi sabu-sabu dan ekstasi dari NEK (juga belum tertangkap).

Tas-tas berisi sabu-sabu dan ekstasi itu kemudian dibawa ke rumah Hendri. Selanjutnya dia diperintahkan ADI untuk mengantarkannya ke Medan.

Hendri berangkat dari Lhokseumawe ke Medan menumpang Bus Simpati Star. Saat kendaraan itu berhenti di SPBU AKR,pinggir Jalan lintas Medan-Banda Aceh, Besitang, sejumlah petugas menggeledahnya. Hendri tak dapat mengelak. Dia tertangkap tangan bersama 55 Kg sabu-sabu dan 10.000 butir atau 2.922 gram pil ekstasi. Hendri pun diadili.

Dalam persidangan, Hendri mengaku diupah Rp10 juta untuk mengantarkan sabu-sabu dan ekstasi itu ke Medan. Dia pun mengaku pernah 2 kali berhasil melakukan tindak pidana itu. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini