Musim Melimbang Harta Karun di Cengal

Sabtu, 26 Oktober 2019 08:05 Reporter : Irwanto
Musim Melimbang Harta Karun di Cengal Mencari Harta Karun Sriwijaya di Cengal. ©2019 Merdeka.com/Irwanto

Merdeka.com - Pagi itu, Minggu (13/10), kabut asap pekat akibat kebakaran lahan menutupi pandangan. Jaraknya hanya sekitar lima satu sepuluh meter saja.

Kondisi itu tidak menyurutkan niat merdeka.com menelusuri jalan merah yang berdebu. Cukup jauh jarak yang ditempuh dari tempat menginap di Desa Kuningan, Kecamatan Sungai Menang, menuju lokasi perburuan yakni di Desa Sungai Pelimbangan, Kecamatan Cengal.

Melewati kebun-kebun karet warga dan perusahaan di jalanan sempit, yang hanya memiliki satu jalur motor. Sepanjang perjalanan, kondisi jalan hampir sama, tanah, koral, berdebu dan berlubang. Perlu memiliki kecakapan mengendarai motor agar tetap stabil.

Dua setengah jam perjalanan, tibalah di lokasi pencarian harta karun. Merdeka.com disambut ratusan sepeda motor dan beberapa mobil terparkir tak jauh dari lokasi. Posisinya berada di perbatasan lahan perusahaan dan persawahan milik warga.

Banyak juga pemburu menggunakan jasa speedboat menuju lokasi. Biasanya mereka berasal dari Kecamatan Tulung Selapan yang ditempuh 30 menit perjalanan sungai.

Berjalan kaki sekitar 30 meter, tibalah di titik pencarian pertama. Ratusan warga memenuhi sungai yang baru saja dilakukan normalisasi. Beberapa tenda seadanya didirikan di pinggir sungai.

Nampak warga mulai dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki dan perempuan serius mengeruk tanah pinggiran sungai dengan cangkul. Tanah itu dimasukkan dalam baskom besar lalu diisi air, dilimbang barulah diayak.

Mesti hati-hati membuang air dan kotoran dari baskom. Bisa-bisa barang yang dicari justru ikut nyemplung ke sungai. Para pelimbang penuh kesabaran dalam proses ini.

Selain itu, kejelian mata juga menjadi hal penting lainnya. Sebab, seringkali harta karun itu hanya sebesar ujung kuku atau bulatan kecil.

Setelah didapatkan, benda itu disimpan di botol bekas air mineral yang diisi sedikit air jernih. Bagi pencari sendirian, botol itu dikalungkan ke leher tertutup rapat. Sedangkan pemburu rombongan, menitipkan ke teman atau keluarganya yang berada di daratan sambil ikut mengamati limbangan baskom.

Menjelang siang tiba, pemburu datang silih berganti. Ada yang berlangsur pulang, banyak juga baru datang dengan membawa cangkul, baskom, dan perlengkapan lainnya. Biasanya perburuan dilakukan sampai sore hari.

Baca Selanjutnya: Melimbang Jadi Berkah di Tengah...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini