Tahun 1962 menjadi saksi bisu kejayaan atletik Indonesia di kancah internasional, ketika Mohammad Sarengat berhasil menyabet dua medali emas pada Asian Games ke-4 di Jakarta. Dengan kecepatan luar biasa, Sarengat memecahkan rekor dan menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih emas dalam ajang multi-olahraga bergengsi tersebut. Ia dinobatkan sebagai "pelari tercepat di Asia", sebuah gelar yang mengukuhkan dominasi Indonesia di cabang olahraga lari.
Namun, setelah lebih dari enam dekade, prestasi gemilang seperti yang ditorehkan Sarengat belum terulang di Asian Games, meskipun Indonesia telah melahirkan banyak sprinter berbakat. Kondisi ini memicu tekad kuat dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) untuk kembali menorehkan sejarah. Mereka berupaya keras mengembalikan kejayaan atletik Indonesia di panggung Asia, menjadikan Asian Games sebagai tolok ukur utama.
Dengan persiapan matang dan dukungan penuh, PB PASI kini fokus pada pengembangan atlet muda dan strategi yang tepat untuk meraih medali di Asian Games mendatang. Atlet-atlet seperti Lalu Muhammad Zohri dan Dina Aulia menunjukkan optimisme tinggi, berharap dapat mengikuti jejak para legenda. Akankah Indonesia mampu mengukir kembali sejarah emas di Asian Games?
Advertisement
Advertisement
Mengenang Kejayaan Lampau Atletik Indonesia
Mohammad Sarengat, nama yang tak terpisahkan dari sejarah atletik Indonesia, mengukir prestasi gemilang pada Asian Games 1962 di Jakarta. Di hadapan ribuan penonton yang memadati Stadion Utama Senayan, ia berhasil meraih medali emas di nomor lari 100 meter dengan catatan waktu 10,4 detik. Tak hanya itu, Sarengat juga menambah koleksi emasnya di nomor lari gawang 110 meter dengan waktu 14,3 detik, menjadikannya ikon olahraga nasional.
Keberhasilan Sarengat ini menjadi inspirasi bagi generasi atlet berikutnya, termasuk Purnomo Muhammad Yudhi. Yudhi mencatatkan sejarah bagi Indonesia dengan berhasil melaju ke babak semifinal lari 100 meter putra pada Olimpiade Los Angeles 1984. Prestasinya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di level tertinggi.
Setelah era Yudhi, muncul pula sprinter-sprinter berbakat lainnya seperti Afdiharto Mardi Lestari, Suryo Agung Wibowo, hingga Lalu Muhammad Zohri. Zohri bahkan menjadi representasi Indonesia di Olimpiade Paris 2024, menunjukkan konsistensi dalam melahirkan talenta. Meskipun banyak prestasi di berbagai kejuaraan, belum ada pelari Indonesia yang mampu menyamai pencapaian emas Sarengat di Asian Games.
Advertisement
Advertisement
Kebangkitan di Tingkat Regional dan Target Asia
Atletik Indonesia telah menunjukkan peningkatan signifikan di kancah regional, khususnya pada SEA Games. Pada SEA Games Kamboja 2023, tim atletik Indonesia berhasil membawa pulang 19 medali, terdiri dari tujuh medali emas, tiga perak, dan sembilan perunggu. Mayoritas medali emas tersebut diraih dari nomor-nomor lari, menegaskan potensi Indonesia di cabang ini.
Medali emas lari disumbangkan oleh Rikki Simbolon di nomor 10.000 meter putra, serta tim estafet 4x100 meter putra yang diperkuat Lalu Muhammad Zohri, Wahyu Setiawan, Bayu Kertanegara, dan Sudirman Hadi. Selain itu, Agus Prayoga dan Odekta Naibaho juga meraih emas di nomor maraton putra dan putri. Prestasi ini menunjukkan kedalaman talenta Indonesia di berbagai disiplin lari.
Medali emas lainnya juga datang dari Abdul Hafiz di lempar lembing, Maria Natalia Londa di lompat jauh, dan Hendro Yap di jalan cepat 20 kilometer. Pencapaian ini memberikan keyakinan bagi PB PASI bahwa sudah saatnya atletik Indonesia menargetkan level yang lebih tinggi, yaitu Asia. Ketua Umum PB PASI, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa Asian Games menjadi tolok ukur utama bagi atletik nasional.
Advertisement
Advertisement
Strategi dan Persiapan Menuju Asian Games
Dengan waktu kurang dari setahun menuju Asian Games berikutnya di Jepang, persiapan PB PASI difokuskan pada beberapa nomor atletik yang memiliki peluang besar untuk meraih medali. Langkah-langkah strategis telah disiapkan, termasuk pengembangan pusat pelatihan atlet yang modern dan memadai. Saat ini, dua pusat pelatihan telah beroperasi, yaitu Pusat Pelatihan Atletik Pangalengan di Jawa Barat dan Stadion Atletik Mimika di Papua.
PB PASI juga sedang mengembangkan pusat pelatihan yang lebih modern di Sumatera Utara, yang ditargetkan selesai pada tahun 2026. Selain fasilitas fisik, pendekatan sains olahraga juga diterapkan dalam program latihan atlet. Hal ini diharapkan memungkinkan perkembangan keterampilan atlet dapat dipantau secara terus-menerus dan terukur, mengoptimalkan potensi mereka.
Asian Games merupakan target besar yang telah ditetapkan PB PASI bagi para atlet dan pelatih dalam program pelatihan nasional. Lalu Muhammad Zohri, atlet andalan Indonesia saat ini, mengakui bahwa Asian Games adalah gerbang menuju podium Olimpiade. Ia terus belajar dari pengalamannya untuk meningkatkan performa di pusat pelatihan.
Advertisement
Meskipun Asian Games menjadi target utama, Zohri tidak menganggap remeh kompetisi berskala lebih kecil, termasuk Kejuaraan Nasional Atletik. Dengan latihan intensif, pengalaman di berbagai kompetisi, serta pemulihan cedera yang hampir sempurna, Zohri optimistis dapat mengamankan prestasi di tingkat Asia. Dina Aulia, pemegang rekor nasional baru di lari gawang 100 meter putri, juga memiliki optimisme serupa. Ia melihat kejuaraan ini sebagai batu loncatan menuju pencapaian di Asian Games, menegaskan tekadnya untuk mencetak sejarah baru bagi atletik Indonesia.
Sumber: AntaraNews